Bisnis Nggak Boleh Lecehkan Perempuan

Penyiar Radio yang suka menulis.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ribut Achwandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kasus dugaan kekerasan seksual, lebih-lebih yang lecehkan perempuan, kembali ramai menghiasi media. Parahnya, pelaku kekerasan seksual adalah kaum terdidik yang konon masih duduk di bangku kuliah. Kampus ternama pula!
Tentu, kasus ini patut menjadi keprihatinan bersama. Lebih-lebih, kejadian kasus dugaan kekerasan seksual itu justru berlangsung di kampus yang mestinya menjaga etika dan moral.
Tapi, daripada meributkan sesuatu yang sudah bikin ribut, ada baiknya kita mencari tempat lain untuk belajar tentang kehidupan. Kedai kopi, misalnya? Seperti yang saya temukan di Pekalongan. Saya menemukan sebuah kedai kopi di kawasan Kertijayan. Namanya, Kedai Kopi Kawan.
Saya pun menyempatkan diri untuk menjumpai pemiliknya, Ade Damar. Tidak hanya berjumpa, kami pun melangsungkan obrolan seru. Terutama, menyoal bagaimana ia memulai bisnis kedai kopinya.
Sudah enam bulan ini Damar membuka usaha kedainya di kawasan Kertijayan, Kabupaten Pekalongan. Ibarat seorang bayi, kedai Kopi Kawan milik Damar masih baru belajar duduk bersandar, memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya, atau masih belajar mengoceh. Walau begitu, usia bukan satu-satunya ukuran untuk mengatakan, bahwa suatu usaha bisa dikatakan sukses atau belum.
Hemat saya, kesuksesan suatu usaha tertumpu pada proses perjalanan yang dialami pemiliknya. Setiap fase dari suatu usaha selalu memiliki cerita unik, mengesankan, dan bermakna. Cerita itu kelak akan dipetik sebagai pelajaran berharga. Tidak hanya bagi pemiliknya, melainkan pula bagi banyak orang.
Kisah Damar membuka usaha kedai kopi dimulai dari pernikahannya dengan seorang gadis asal Riau yang dulu satu almamater di Malang, Jawa Timur. Sebagai suami, Damar merasa punya tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan keluarga, memberi jaminan bahwa kehidupan mereka akan baik-baik saja.
Sebagaimana umumnya seorang suami, saat sudah merasa punya tanggung jawab ia pun memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan. Harapannya, ada pendapatan yang bisa ia kelola untuk memenuhi segala kebutuhan.
Akan tetapi, perjalanan waktu membuat ia mulai belajar. Ia mulai membaca realita kehidupan berkeluarga. Ternyata, yang namanya kebutuhan dalam menjalani kehidupan berkeluarga tidak hanya soal ia punya pendapatan rutin. Ada lebih banyak kebutuhan yang hampir-hampir ia lewatkan. Terutama, waktu dan perhatian.
“Selama bekerja, waktu saya habis di kantor untuk mengerjakan tugas-tugas tambahan dari atasan. Jadi, jam kerja saya nggak sesuai dengan aturan main yang perusahaan bikin sendiri. Alhasil, waktu yang mestinya saya gunakan untuk mendampingi istri dan anak yang masih usia tiga tahun tersita oleh kerjaan,” tutur Damar.
Menyadari hal itu, akhirnya Damar memutuskan untuk keluar dari pekerjaan, tepat satu tahun ia bekerja di perusahaan itu. Sebuah keputusan yang menurut saya sangat berani. Biasanya, di tahun awal bekerja, orang cenderung akan menimbang-nimbang ragu. Apalagi ketika ia bekerja pada perusahaan bonafit. Sayang kan kalau sampai kehilangan pendapatan?
Tetapi, Damar sama sekali tidak menunjukkan keraguan saat memutuskan. Pikirnya, selain membuang banyak waktu dan mengorbankan keluarga, bekerja di perusahaan juga tidak menjamin akan mendapatkan jenjang karier yang pasti. Terlebih-lebih, perusahaan juga harus memikirkan nasib ribuan orang pekerja yang mengantre dan menunggu giliran mendapatkan jenjang karier.
“Ya, kalau dipikir lagi, kerja di perusahaan itu nggak rasional. Untuk mendapatkan jenjang karier orang harus menunggu giliran. Apalagi kalau jumlah pekerjanya ribuan, berapa tahun lagi kita mesti menunggu? Sementara, gaji yang kita terima yang segitu aja. Dan, itu akan berlangsung bertahun-tahun. Begitu kita dapat promosi, kondisi ekonomi sudah berubah lagi. Terus, kita dapat apa?” kata Damar.
Masuk akal juga pandangan Damar. Jenjang karier, bagi Damar, ibarat iming-iming buat para penakut yang dipaksa tunduk pada aturan yang bisa saja dimain-mainkan perusahaan sendiri. Tujuannya, boleh jadi sekadar memperpanjang waktu tunggu mereka untuk mendapatkan jenjang karier yang didambakan.
Sedang, waktu terus berjalan menggerogoti usia yang makin hari makin lapuk pula. Begitu dapat promosi kondisi tubuh sudah mulai lemah dan otak pun sudah sulit diajak kreatif. Belum lagi, kebutuhan yang makin kompleks terkadang nggak lagi sebanding dengan kondisi kondisi ekomi. Maka, karier dan kebutuhan hidup kadang menjadi dua hal yang kehilangan relevansi.
“Jadi, sebelum merasa terlalu nyaman dengan pekerjaan, saya keluar dari perusahaan,” ujar Damar.
Setelah mengambil keputusan itu, Damar pun sah menyandang gelar sebagai pemuda penganggur. Tetapi, selama masa jeda itu akalnya justru bekerja dengan lebih baik. Ia mulai berpikir untuk menjadi seorang pengusaha. Besar kecilnya usaha yang mau ia bikin nggak jadi soal. Yang penting, ada usaha, titik!
Di sinilah, titik balik Damar yang menarik. Selama libur panjang yang tak tentu kapan akhirnya itu, ia kerap berdiskusi dengan sang istri tentang usaha yang mungkin mereka geluti. Muncul banyak pilihan, tetapi mereka rupanya bersepakat untuk membuka kafe atau kedai. Hanya, mereka masih bingung menentukan konsep kedai yang akan dibangun.
Singkat cerita, Damar terkenang pada cita rasa aneka masakan ala Melayu. Pemuda asal Pekalongan ini, setelah menikah, untuk beberapa saat pernah pula tinggal di tanah kelahiran istri, Riau. Di sana lidahnya menjelajah cita rasa masakan ala Melayu. Bahkan, sempat pula lidahnya merasakan sensasi aneka masakan negeri-negeri Jiran, seperti Malaysia dan Singapura.
“Menurut saya, cita rasa masakan ala Melayu itu masih bisa dinikmati lidah orang Jawa, khususnya di kawasan pesisir seperti Pekalongan. Rata-rata nggak terlalu manis, juga nggak terlalu asin. Jadi, masih cocok buat lidah saya. Syukur, lidah orang Pekalongan juga,” ungkap Damar.
Dari situlah, ide membuka kedai kopi dengan sajian senarai makanan dan minuman ala Melayu menemukan tempat di benak dan hati Damar. Mantaplah ia memulai usaha kedai kopinya.
“Jadi, ide usaha ini diinspirasi dari pernikahan saya. Terutama, dari istri saya yang orang Melayu-Riau,” tuturnya dengan nada yang penuh keyakinan.
Tak hanya soal menu. Damar juga menceritakan, bahwa kedai kopi yang ia jalankan juga menawarkan konsep budaya Melayu. Nama-nama makanan dan minuman yang dicantumkan dalam seranai masakan dan minuman menggunakan nama-nama Melayu.
Termasuk, dalam membuat nama untuk kedainya. Ia menggunakan kata “kawan” sebagai nama, lantaran kata itu sangat Melayu. Dan memang, kata itu berasal dari bahasa Melayu.
Begitu pula desain kedai yang dilengkapi dengan display foto dan dekorasi yang khas melayu. Mungkin, kedepan akan ia display sejumlah karya-karya sastra Melayu pula. Bahkan, event yang bernuansa budaya Melayu boleh jadi tuh akan diselenggarakan.
Saya yang mendengar kisah itu merasa terharu. Ternyata, pasutri yang satu ini benar-benar memiliki sisi romantis yang tak sekadar dirupakan dalam bermanis-manis kata atau hanya muncul saat momen-momen tertentu. Keromantisannya mereka betul-betul telah menjamah kehidupan nyata dan menjadi denyut kehidupan yang asyik.
Damar tak sekadar menempatkan istri sebagai kawan dalam menjalani hidup. Tak sekadar menjadikannya sebagai pendamping. Akan tetapi, juga menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan. Salut dah buat Damar!
Tapi, kisah Damar tak berhenti sampai di situ. Langkah yang ditempuh untuk membuat kedai kopinya bertahan adalah dengan mengajak seorang kawan lamanya. Kawan yang dulu pernah kerja bareng mengelola usaha kedai di Malang waktu mereka kuliah. Ia seorang juru ramu masakan dan minuman. Tetapi, dalam menjalankan bisnis ini, kawan sekerjanya itu diajak sebagai investor. Sementara Damar, sebagai dapurnya ide. Perpaduan yang lengkap dan ciamik!
