Konten dari Pengguna

Dune: Part Two (2024), Ketika Utusan Tuhan Turun ke Dunia Futuristik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Richard Hendrawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membuka roll film pada kamera analog. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membuka roll film pada kamera analog. Foto: Shutter Stock

Film Dune: Part Two (2024) garapan Denis Villeneuve mungkin jadi salah satu film sci-fi yang paling ambisius di dekade ini. Visual yang ditampilkan begitu megah, aktingnya solid, dan temanya berani menggabungkan kisah ramalan nabi dan juga teknologi. Namun anehnya, film yang sukses di luar negeri justru kurang bergema di Indonesia.

Secara global, Dune: Part Two sangat sukses di box office. Dalam minggu awal penayangannya, film ini mendapatkan pendapatan sekitar US$178,5 juta atau sekitar Rp2,7 triliun secara global dengan US$81,5 juta di Amerika Utara dan US$97 juta dari pasar Internasional. Film ini berhasil menghasilkan 48% dari total penayangan melalui domestik lewat premium seperti IMAX, dengan kontribusi sekitar US$18,5 juta dari layar IMAX saja. Angka itu menunjukkan kalau film Dune: Part Two memang film yang sangat sukses dan juga film yang dibuat untuk layar lebar, bukan buat di layar kaca.

Secara keseluruhan, film ini menuai banyak sekali pujian dari kritikus film. Bisa dibilang film Dune: Part Two bukanlah film sci-fi biasa. Buktinya di IMDb, film ini meraih skor 8,5/10, bahkan sempat menyaingi film terbaik sepanjang masa yaitu The Shawshank Redemption (1994). Begitupun juga di situs Rotten Tomatoes, film ini juga mendapat nilai 92% dari kritikus. Dari angka tersebut dapat diartikan bahwa hampir semua kritikus sepakat bahwa film ini epik dan absolut cinema banget.

Di Indonesia, Sunyinya Bukan Main

Di saat film ini tayang, penonton Indonesia justru lebih memilih film Kung Fu Panda 4 dan juga Agak Laen. Bahkan secara global, Kung Fu 4 sempat menyalip Dune: Part Two di box office US$30 juta vs US$29,1 juta dalam minggu yang sama.

Secara total, Dune: Part Two akhirnya tembus lebih dari US$400 juta atau sekitar Rp6 triliun, tapi mayoritas pendapatan datang dari Amerika dan Eropa, bukan Asia Tenggara. Pertanyaannya: Mengapa film sehebat ini tidak begitu laris di Indonesia?

Ilustrasi akhir pekan menonton film atau serial Foto: Shutterstock

Terlalu Berat untuk Penonton Indonesia

Untuk masyarakat Indonesia, film Dune: Part Two bukanlah pilihan film yang cocok untuk dinikmati sambil rebahan atau sambil santai. Film ini lebih cenderung pada dialog yang padat, penuh makna religius, serta adegan action yang tidak berlebihan, tetapi epik.

Karakter Paul Atreides yang diperankan oleh Timothee Chalamet digambarkan sebagai sosok penyelamat yang diramalkan oleh orang-orang di dunia tersebut. Jika kita lihat lebih dalam lagi, film ini mirip sekali dengan konsep Al-Masih dalam kepercayaan Abrahamik, seorang utusan yang membawa keadilan bagi umat manusia. Namun, Denis Villeneuve, sutradara dari film ini berhasil menggabungkan konsep juruselamat dengan dunia sci-fi, planet padang pasir, teknologi antigravitasi, dan perang antargalaksi.

Gabungan mistisme dan juga teknologi inilah yang membuat film ini menjadi keren banget buat penonton yang suka film berat atau tipe penonton yang suka mikir. Namun buat penonton umum, bisa terasa berat, lambat, bahkan membosankan.

Durasi yang Panjang

Film Dune: Part Two sendiri memiliki durasi 2 jam 46 menit dengan pacing yang bisa dibilang cukup lambat. Namun, dengan pacing yang lambat itu, cerita yang dibawakan dapat disajikan secara tenang dan intens. Buat sebagian penonton yang terbiasa dengan adegan aksi yang menggelegar, ledakan yang besar, dan koreografi yang cepat seperti film John Wick, film ini seperti nonton series yang memerlukan fokus yang panjang dan intens. Alhasil, penonton di Indonesia kurang tertarik untuk masuk ke dunia Dune itu sendiri.

Ilustrasi Produksi sinetron dan film. Foto: Evgeny Atamanenko/Shutterstock

Kurangnya Promosi dari Anak Muda

Mayoritas penonton bioskop saat ini adalah anak muda. Saat awal penayangan film Dune: Part Two ini, jarang sekali konten yang muncul atau promosi yang dibuat oleh generasi muda. Apalagi jarang sekali kampanye atau tren di media sosial yang nyangkut ke kalangan Gen Z. Jarang sekali ada challenge yang bersangkutan dengan film, kurangnya meme, dan juga kurang tren TikTok. Faktor-faktor itulah yang membuat film se-epiK ini menjadi sepi di kalangan penonton Indonesia. Ditambah mayoritas Indonesia akan menonton sebuah film jika sedang ramai diperbincangkan oleh orang atau di media sosial.

Bukan Film Sekali Tonton

Terlepas dari faktor di atas, Dune: Part Two tetap menjadi karya yang luar biasa. Mulai dari efek visual yang memanjakan mata, sinematografinya yang indah, dan scoring Hana Zimmer yang mewah dan berkesan mahal. Film ini menggabungkan unsur spiritual, teknologi, iman, dan juga logika yang digabungkan ke dalam suatu narasi besar tentang bagaimana manusia mencari juruselamat di tengah pertempuran dan juga chaos-nya politik di masa itu.

Denis Villneuve seolah-olah ingin menyampaikan bahwa di masa depan ketika dunia yang penuh mesin dan teknologi yang canggih, manusia tetap mencari juruselamat dan wahyu.

Dune: Part Two bukanlah film yang gagal, melainkan penonton indonesia lah yang belum siap untuk diajak merenung dan berpikir di tengah gurun pasir futuristik.