Hilirisasi Perikanan Animha: Tim 18 TEP IPB University Berdayakan Masyarakat OAP

Tim 18 Ekspedisi Patriot IPB University - Kementerian Transmigrasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Tim 18 Ekspedisi Patriot IPB University tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Merauke - Tim 18 Ekspedisi Patriot IPB University gelar pelatihan bertajuk “BERIKAN” (Berdaya dari Hilirisasi Ikan): Hilirisasi dan Pengolahan Produk Ikan Asin di Distrik Animha yang bertempat di Aula SMP Negeri Wayau, Distrik Animha, Kabupaten Merauke, pada Jumat (18/9/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) di kawasan Transmigrasi lokal (translokal) melalui peningkatan nilai tambah (value added) komoditas perikanan lokal.
Kegiatan ini merupakan langka awal untuk membuka pintu hilirisasi ikan asin air tawar yang ada di Distrik Animha dan meningkatkan SDM unggul. Antusias masyarakat OAP sangat tinggi dan sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan yang diadakan oleh Tim 18 Ekspedisi Patriot IPB University.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Dr. Adi Hadianto, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa wilayah darat dan perairan rawa Distrik Animha menyimpan potensi ikan air tawar yang sangat melimpah, seperti ikan gabus (gastor), betik, sepat, dan mujair. Kendati demikian, hasil tangkapan yang melimpah saat musim panen kerap hanya dijual segar dengan harga rendah.
“Ikan asin olahan memiliki peluang pasar yang sangat luas, mulai dari pasar lokal Merauke hingga permintaan antarwilayah, khususnya ke Pulau Jawa. Sejak Agustus 2026, Tim 18 berkomitmen mendampingi pembentukan kelembagaan UMKM masyarakat di Kampung Baad dan Kampung Wayau. Pendampingan ini tidak berhenti pada pelatihan teknis semata, tetapi berlanjut hingga menghubungkan kelompok pengolah dengan pasar penyerap (off-taker),” terang Dr. Adi.
Kepala Distrik Animha, Ibu Mariny Renyut, yang turut hadir membuka acara mengapresiasi kehadiran Tim Ekspedisi Patriot IPB University yang terjun langsung ke tingkat kampung. Ia menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar mandiri.
“Pelatihan serupa sudah beberapa kali diadakan, namun kerap berhenti tanpa pendampingan lanjutan sehingga masyarakat belum mampu mandiri. Tantangan terbesar adalah menjaga semangat dan daya juang berusaha. Kami berharap masyarakat OAP dapat mencontoh keuletan dan kegigihan saudara-saudara kita transmigran dalam mengelola potensi sumber daya yang ada agar mampu berdaya saing,” ujar Mariny.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber akademisi dari Universitas Musamus Merauke, Ibu Sunarni, S.Pi., M.Si., yang memadukan pemaparan materi ruang kelas dengan demonstrasi praktik langsung di luar ruangan. Dalam sesi praktik, sebanyak 28 peserta yang terdiri dari kepala kampung dan warga setempat mempraktikkan langsung seluruh tahapan dengan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan.
Melalui pelatihan ini, masyarakat memahami bahwa mutu pemotongan dan takaran garam sangat menentukan kualitas serta harga jual ikan asin di pasar. Sebagai tindak lanjut, fasilitator lapangan Tim Ekspedisi Patriot akan terus mendampingi kelompok UMKM di Kampung Wayau dan Kampung Baad secara berkala untuk memfasilitasi kebutuhan sarana pengeringan, pengemasan, dan jalur distribusi pemasaran produk olahan perikanan tersebut.
