Konten dari Pengguna

Hipertensi, Silent Killer yang Sering Tidak Disadari

Alisya Ahmad Ridhotunnisa

Alisya Ahmad Ridhotunnisa

Mahasiswa Ilmu Keperawatan UIN JAKARTA

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alisya Ahmad Ridhotunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Freepik

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami hipertensi hingga muncul komplikasi serius. Hal ini sering kali baru terdeteksi ketika sudah menimbulkan dampak yang serius. Kondisi tersebut juga sering disebut sebagai silent killer karena tidak menimbulkan gejala yang jelas, tetapi dapat menyebabkan kerusakan organ secara perlahan jika tidak ditangani dengan baik.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal, yaitu lebih dari 140/90 mmHg. Seiring bertambahnya usia, risiko hipertensi cenderung meningkat, terutama pada lansia. Hal ini terjadi karena elastisitas pembuluh darah menurun seiring bertambahnya usia.

Dampak hipertensi tidak bisa dianggap sepele. Tekanan darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak berbagai organ penting, seperti jantung, ginjal, otak, dan mata. Inilah yang membuat hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia.

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 orang di dunia mengalami hipertensi. Di Indonesia sendiri, prevalensinya juga cukup tinggi. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari 30% penduduk dewasa mengalami hipertensi, dan sebagian besar tidak menyadari kondisi tersebut.

Ironisnya, banyak penderita hipertensi yang tidak patuh dalam menjalani pengobatan. Padahal, ketidakpatuhan ini dapat meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius, seperti penyakit jantung dan stroke. Kondisi ini juga menunjukkan pentingnya perubahan gaya hidup sebagai langkah utama pencegahan, serta berkaitan dengan kesadaran dan perilaku individu terhadap kesehatannya.

Dalam kondisi ini, peran perawat menjadi sangat penting. Perawat tidak hanya bertugas membantu menurunkan tekanan darah pasien, tetapi juga memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta mengelola stres. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

Selain itu, perawat juga berperan dalam memantau kondisi pasien secara berkala dan memberikan dukungan agar pasien lebih patuh terhadap pengobatan yang dijalani. Pendampingan yang tepat dapat membantu menurunkan risiko komplikasi hipertensi.

Pada akhirnya, hipertensi adalah kondisi yang tidak bisa dianggap remeh dan perlu mendapat perhatian sejak dini. Meskipun sering tidak menimbulkan gejala, dampaknya dapat sangat serius jika diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin serta menerapkan gaya hidup sehat. Dengan peran tenaga kesehatan, khususnya perawat, penanganan hipertensi dapat dilakukan secara lebih optimal dan berkelanjutan.