Konten dari Pengguna

War Tanpa Baper: Saat Netizen Indo Bersatu 'Silaturahmi' di X dan Threads

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifdah Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau ada satu hal yang bisa menyatukan seluruh warganet Indonesia dari berbagai latar belakang tanpa memandang suku, agama, maupun kubu politik, jawabannya adalah: ketika negara tetangga atau akun luar negeri berani menyenggol Indonesia di media sosial.

Mulai dari perdebatan sengit sesama negara Asia Tenggara yang akrab disapa fenomena SEAbling, perselisihan hasil pertandingan sepak bola, hingga klaim budaya, lini masa platform seperti X (dulu Twitter) dan Threads mendadak berubah jadi "medan perang" digital yang sangat riuh.

Namun, ada satu keunikan utama dari netizen Indonesia yang sering bikin pihak lawan mengelus dada: mereka hobi ikut war, tapi hampir tidak pernah baper (bawa perasaan) saat dikatai balik.

Gatotkaca Digital: Tahan Banting dan Kebal Serangan

Bagi netizen luar negeri, berdebat di media sosial sering kali ditanggapi dengan emosi tinggi atau argumen formal. Namun bagi netizen Indonesia, war di medsos diperlakukan layaknya ajang hiburan masal dan sarana menyalurkan humor gelap (dark jokes).

Ketika pihak lawan mencoba membalas dengan kata-kata pedas, ketikan sarkastik, atau ejekan personal, ketikan tersebut biasanya mental begitu saja. Bukannya sakit hati atau ngambek, netizen Indo justru akan:

  1. Membalasnya dengan meme yang jauh lebih absurd dan kocak.

  2. Menggunakan stiker-stiker balasan yang bikin geleng-geleng kepala.

  3. Menjadikan ejekan lawan sebagai bahan lelucon baru di dalam kuil komentar.

Prinsip mereka sangat sederhana: "Kalo lu ngajak war, ya harus siap diketawain balik!" Tingkat ketahanan mental yang tinggi ini membuat lawan berdebat sering kali kehabisan energi sendiri karena merasa racun kemarahannya tidak mempan.

Kekuatan Konsolidasi dan "Silaturahmi" Massal

Kemampuan netizen Indo dalam memobilisasi massa di media sosial memang tidak perlu diragukan lagi. Istilah "silaturahmi" yang awalnya bermakna positif kerap diplesetkan menjadi kode untuk menggerus akun-akun luar negeri yang dianggap merugikan atau memancing emosi publik Indonesia.

Dalam hitungan menit setelah sebuah isu atau video memancing kemarahan viral, ribuan komentar berbahasa Indonesia dengan ritme yang cepat dan kompak akan memenuhi kolom balasan akun target.

Menariknya, aksi kekompakan ini murni terjadi secara organik tanpa ada komando khusus. Rasa solidaritas kebangsaan yang spontan—campur keinginan untuk ikut meramaikan suasana—menjadi bahan bakar utama yang bikin pasukan jempol Indonesia tak tertandingi di jagat maya.

Ilustrasi scroll media sosial. Foto oleh Berke Citak dari Unsplash

Di balik kehebohan dan ketikan-ketikan pedas di layar HP, kebiasaan war ini sebenarnya jarang dibawa sampai ke kehidupan sehari-hari. Begitu isu tersebut reda atau topik baru yang lebih menarik muncul, suasana akan kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Sifat humoris dan santai yang melekat pada karakter masyarakat Indonesia membuat perdebatan di X dan Threads sekadar dianggap sebagai dinamika seru-seruan di internet.

Pada akhirnya, kebiasaan unik ini membuktikan bahwa netizen Indonesia memang punya cara sendiri dalam mengekspresikan kekompakan nasionalisme mereka: tegas membela diri, kompak saat disenggol, dan yang paling penting... tetap santai tanpa baperan!