Mengapa Kita Peduli pada Dampaknya, tetapi Tidak pada Penyebabnya?

Mahasiswa - Universitas Pamulang Prodi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Riffa Fauriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup semakin tinggi, lapangan kerja terasa semakin sulit, dan berbagai persoalan ekonomi terus menjadi keluhan yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Di media sosial, tidak sulit menemukan orang-orang yang mengungkapkan keresahan mereka terhadap kondisi tersebut.
Namun, ada fenomena menarik yang kerap terjadi. Ketika muncul pembahasan mengenai kebijakan publik, keputusan pemerintah, atau isu politik yang berkaitan dengan persoalan tersebut, sebagian orang justru memilih untuk menjauh. Tidak sedikit yang menganggap pembahasan politik sebagai sesuatu yang membosankan, rumit, atau bahkan tidak penting.
Di sinilah muncul sebuah kontradiksi yang menarik untuk direnungkan. Banyak orang merasa terganggu oleh dampak yang mereka rasakan, tetapi tidak memiliki ketertarikan untuk memahami penyebab di baliknya. Akibatnya, perhatian hanya berhenti pada keluhan, tanpa diikuti rasa ingin tahu terhadap akar permasalahan.
Fenomena ini sering kali terlihat di media sosial. Ketika kondisi ekonomi memburuk, banyak orang mengeluh. Namun saat muncul diskusi mengenai kebijakan yang berpotensi memengaruhi kondisi tersebut, respons yang muncul justru berupa ketidakpedulian. Sebagian bahkan menganggap isu politik tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Padahal, politik tidak selalu identik dengan perebutan kekuasaan atau perdebatan antarpendukung. Dalam banyak hal, politik hadir dalam keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara langsung, mulai dari pendidikan, transportasi, kesehatan, hingga ekonomi. Dengan kata lain, banyak hal yang dikeluhkan sehari-hari sebenarnya tidak terlepas dari keputusan-keputusan politik.
Tentu saja, tidak semua orang harus menjadi pengamat politik atau mengikuti setiap perkembangan yang terjadi. Namun, memahami isu yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari merupakan hal yang berbeda dengan sekadar mengikuti perdebatan politik di media sosial.
Di era digital, informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Ironisnya, kemudahan akses tersebut tidak selalu membuat masyarakat lebih peduli terhadap isu-isu yang memengaruhi mereka. Perhatian sering kali lebih tertuju pada dampak yang dirasakan saat ini dibandingkan proses atau keputusan yang menjadi penyebabnya.
Mungkin inilah yang membuat sebagian orang dianggap tone deaf terhadap situasi politik. Bukan karena mereka tidak merasakan dampaknya, melainkan karena mereka memilih untuk tidak peduli terhadap persoalan yang ada di balik dampak tersebut.
Pada akhirnya, mengeluhkan keadaan tentu bukan hal yang salah. Namun, jika kita hanya peduli pada akibat tanpa mau memahami penyebabnya, maka ruang untuk memperbaiki keadaan menjadi semakin sempit. Karena sebelum menuntut perubahan, mungkin kita perlu mulai dengan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
