Tata Kelola Keuangan UMKM: Sanggar Indah Jaya Perlu Beralih ke Digital

mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif program studi Fotografi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rifqi Setya Pradhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor manufaktur kerajinan kerap menghadapi tantangan klasik berupa keterbatasan sistem tata kelola keuangan. Hal serupa dialami Sanggar Indah Jaya, usaha kerajinan keramik, furnitur, hingga patung yang berlokasi di kawasan Jalan Bypass A. Yani, Pulomas, Jakarta Timur. Menurut hemat kami, persoalan ini patut mendapat perhatian karena banyak pelaku UMKM yang produknya berkualitas, tetapi pengelolaan keuangannya belum sepadan dengan perkembangan usahanya.
Dengan dukungan tiga pekerja berstatus borongan yang menerima upah tentatif, sanggar ini telah memiliki pasar tersendiri serta jaringan pemasok bahan baku. Untuk menarik dan menjaga loyalitas pelanggan di wilayah Jabodetabek, sanggar ini kerap menawarkan gratis ongkos kirim (free ongkir). Strategi tersebut tergolong cerdas untuk mempertahankan pelanggan. Namun, tanpa pencatatan biaya yang rapi, pemilik berisiko tidak mengetahui seberapa besar ongkos kirim itu menggerus keuntungan.
Meski memiliki potensi pasar dan basis pelanggan tetap yang stabil, kegiatan operasional harian usaha ini masih menyisakan sejumlah kendala teknis, khususnya pada aspek administrasi dan manajemen kas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik usaha, pengawasan stok barang masih kerap mengalami selisih akibat keterbatasan pencatatan harian yang berujung pada kesalahan data (human error). Selain itu, pencatatan transaksi keuangan selama ini dilakukan secara manual berdasarkan akumulasi bon dan bukti pembayaran, tanpa penyusunan laporan keuangan formal, seperti laporan laba rugi, neraca, atau laporan arus kas. Kami menilai kondisi ini wajar terjadi pada usaha yang tumbuh dari pesanan ke pesanan. Meski demikian, tanpa laporan keuangan, pemilik sulit mengetahui apakah usahanya benar-benar untung atau hanya tampak ramai.
Seluruh akses dan pengendalian kas pun berpusat sepenuhnya pada pemilik usaha. Kondisi ini menyebabkan pengelolaan modal dan pembagian tanggung jawab keuangan internal belum berjalan optimal. Selain itu, pengembangan bisnis hanya bergantung pada pesanan yang masuk tanpa perencanaan target penjualan yang terstruktur. Pemusatan kas pada satu orang memang memudahkan kontrol, tetapi membuat usaha rentan apabila pemilik berhalangan atau kewalahan mengurus semua hal sekaligus.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, pemilik Sanggar Indah Jaya diharapkan dapat mencatat arus kas, memantau persediaan stok secara real-time, serta menyusun target keuangan usaha secara lebih efisien dan terstruktur pada masa mendatang. Kami berpendapat, langkah awal yang realistis adalah mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran setiap hari secara konsisten, kemudian beralih ke aplikasi pencatatan digital yang sederhana. Dengan pencatatan yang tertib, Sanggar Indah Jaya berpeluang tumbuh lebih terarah dan tidak lagi bergantung pada perkiraan semata.
