“Perempuan Hanya di Dapur?” Saya Menjawab dengan Mimpi dan Aksi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Fokus pada isu media digital, pemberdayaan perempuan, dan komunikasi publik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rimanf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perempuan dan Mimpi: Bukan Sekadar Harapan Kosong

“Perempuan berpendidikan tinggi itu untuk apa? Akhirnya tetap saja ke dapur. ”
Pernyataan ini mungkin tampak sepele, bahkan dianggap sebagai lelucon oleh beberapa orang. Namun, bagi saya, itu bukan hanya sekadar humor. Ini adalah gambaran nyata tentang pandangan yang masih kuat tertanam di masyarakat kita.
Sebagai seorang wanita yang berkembang dengan harapan besar, saya sering merasa harus menciptakan bukti mengenai banyak hal. Bahwa wanita juga diperbolehkan untuk bermimpi. Bahwa impian kami sah adanya. Bahwa wanita tidak selalu perlu memilih antara keluarga dan pekerjaan, antara urusan rumah tangga dan prestasi di arena internasional.
Mimpi yang Tetap Saya Bawa
Saya bercita-cita untuk memiliki usaha sendiri. Saya ingin mampu berbicara di depan banyak orang, membagikan ide-ide, serta memberikan kontribusi untuk lingkungan sekitar. Namun, perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak selalu mulus.
Banyak yang meragukan saya. Beberapa bahkan menilai dengan tertawa. Tetapi saya belajar untuk tetap tegar. Saya menggali kemampuan berbicara di depan publik, membangun usaha media digital kecil, dan terus berusaha mengembangkan diri.
Saya tidak menolak peran wanita dalam rumah tangga. Sebaliknya, saya sangat menghormatinya. Namun, saya percaya bahwa setiap wanita berhak menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa dikritik, dibandingkan, atau merasa perlu meminta izin untuk memiliki mimpi.
Terinspirasi oleh Malala dan Rosa Parks
Salah satu tokoh yang paling memotivasi saya adalah Malala Yousafzai. Sejak usia muda, ia telah bersuara dengan lantang mengenai hak anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan, bahkan ketika Taliban melarang mereka bersekolah. Ia menjadi korban penembakan karena keberaniannya. Namun, ia tetap bertahan, dan kini berjuang untuk pendidikan perempuan melalui Malala Fund.
Saya juga terinspirasi oleh Rosa Parks, seorang wanita kulit hitam yang berani melawan diskriminasi rasial di Amerika. Ia menolak untuk berdiri dari kursi bus yang seharusnya "khusus untuk orang kulit putih". Keberaniannya memicu perubahan besar.
Di Indonesia, harapan baru juga mulai bermunculan. Program-program yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan pada masa Nadiem Makarim memberikan lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk berkiprah dan memberikan kontribusi di berbagai sektor. Ini adalah langkah signifikan.
Kartini Digital, Perempuan Berkarya dalam Dunia Kreatif
Perempuan Bisa Dimana Saja
Kita, perempuan, tidak seharusnya ditempatkan dalam kotak. Kita bisa berada di dapur, namun juga dapat berkumpul di ruang rapat, di panggung, di kelas, atau di mana saja yang kita pilih. Kita bisa menjadi ibu rumah tangga, pengusaha, guru, seniman, pemimpin, atau bahkan semua itu sekaligus.
Karena impian perempuan harus diakui, bukan direndahkan. Impian itu harus dirayakan, diperjuangkan, dan diwujudkan.
Saya masih dalam perjalanan menuju cita-cita saya. Namun, saya tidak sendiri. Semakin banyak perempuan yang bangkit, bermimpi, dan melangkah ke depan. Dan saya ingin senantiasa menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Untuk semua anak perempuan di luar sana, dengarlah ini: mimpi kalian sangat berharga. Jangan biarkan siapa pun meremehkannya. Dunia ini juga milik kalian.
