Konten dari Pengguna

Mengenal Lebih Dekat Pendiri Teater Koma: N. Riantiarno

Rima Syukhria

Rima Syukhria

Gadih Minang yang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rima Syukhria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

N. Riantiarno. FOTO/Nickmatulhuda
zoom-in-whitePerbesar
N. Riantiarno. FOTO/Nickmatulhuda

Pendiri Teater Koma - Siapa yang tidak kenal dengan pendiri Teater Koma? Sebuah kelompok teater yang sudah cukup tua berumur kurang lebih 43 tahun dan memiliki reputasi yang cukup bagus di kancah perteateran Indonesia.

Siapa itu pendiri Teater Koma, N. Riantiarno?

Seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan, dan pendiri Teater Koma ini ialah juga seorang dramawan Indonesia yang biasa dipanggil Nano Riantiarno atau N. Riantiarno. Beliau bernama lengkap Norbertus Riantiarno yang lahir di kota keraton, Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 6 Juni 1949. N Riantiarno mengakui dirinya pertama kali mengenal dunia teater setelah duduk di bangku SMU kelas dua, saat beliau bergabung bersama sebuah kelompok kesenian yang ada di Cirebon tahun 1965-an. Seorang dramawan Indonesia ini malah konon katanya mengawali kegiatan seninya melalui puisi dan cerpen bukan dari dunia perteateran.

Setelah beliau menamatkan sekolah SMUnya (pada tahun 1967), Nano Riantiarno akhirnya memutuskan untuk meneruskan studinya ke Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) di Jakarta, yang mana ternyata seangkatan dengan Boyke Roring dan Slamet rahardjo. Pendiri teater koma ini masih menyempatkan dirinya untuk berguru kepada Arifin C. Noer dengan menjadi anggota Teater Kecil di sela-sela kesibukan kuliahnya. N. Riantiarno atau biasa dipanggil Nano menemukan jodohnya, Ratna Majid atau biasa dikenal Ratna Riantiarno yang beberapa tahun kemudian mereka sah menjadi suami istri dan dikaruniai dua orang anak yaitu Teguh Karya dan Rima Melati.

Teater Koma dan N. Riantiarno

Teater Koma didirikan oleh N. Riantiarno setelah beliau tidak bertahan lama di Teater Populer yang sebelumnya ia bergabung bersama Slamet Rahardjo dan Boyke. Arti dari kata koma sebagai nama teater tersebut Nano buat karna menurutnya mengandung arti ‘berkesinambungan, tidak pernah akan selesai, tidak pernah titik.’ Teater Koma ini sendiri didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Maret 1977. Sebuah perkumpulan kesenian yang bersifat nonprofit ini mengawali kegiatan dengan berkumpulnya dua belas seniman yang akhirnya dikenal sebagai Angkatan Pendiri. Mereka adalah N. Riantiarno, Ratna Majid-Riatriarno, Syaeful Anwar, Jim Bary Aditya, Jajang Pamontjak, Agung Dauhan, Zaenal Bungsu, Titi Qadarsih, Rima Melati, Otong Lenon, Cini Goenarwan, dan Rudjito. Hingga saat ini kelompok tersebut didukung oleh sekitar 30 orang anggota aktif dan 50 orang anggota langsung yang bergabung jika waktu dan kesempatannya memungkinkan. Melalui kelompok inilah N. Riantiarno namanya melambung sebagai salah satu tokoh teater Indonesia.

Dalam kegiatan berkeseniannya, Teater Koma juga mempunyai kode etik yang harus di patuhi setiap anggotanya dan diharapkan dapat menjadi pedoman aktivitas dan kreativitas anggotanya. Kode itu dibuat dalam tiga etik, yaitu: Etika, Setia, dan Guyup. Dengan kode etik itu, Teater Koma meyakinkan dirinya sebagai kelompok teater yang independent dan bekerja keras lewat berbagai pentas yang mengkritisi kondisi sosial-politik di Indonesia. Tujuan utama Teater Koma bukanlah banyaknya penonton yang menyaksikan pementasan Teater Koma, melainkan tujuan utamanya adalah kebahagiaan. Oleh karna itu, anggota Teater Koma harus “Percaya teater adalah jalan menuju kebahagiaan” dan “Senantiasa berupaya berada di tempat rendah, jika terhambat berhenti sejenak, lalu bergerak ke kiri atau ke kanan atau merembes dan muncul dibalik hambatakan, kemudian berjalan menuju tujuan; memaknai lautan”.

Apabila melihat kiprah Teater Koma sejak kelahirannya pada tahun 1977 hingga tahun 1990-an -terutama pada rezim Orde Baru-. Teater Koma memproduksi begitu banyak pementasan (selalu mementaskan dua produksi dalam satu tahun) bukanlah sebuah pencapaian yang mudah. Akan tetapi, pada masa itulah kelompok ini berusaha mengurus dirinya sendiri dan berusaha menjadi kelompok yang professional dalam manajemennya. Artinya mereka mencoba menggaji awaknya dengan jumlah yang cukup untuk zamannya (Chudori dan Zulkifli, 2008).

Nano Riantiarno bersama dengan Teater Koma dianggap lebih memperoleh hasil yang baik dan cenderung konsisten. Seperti yang pernah dituturkan oleh Teater Koma sendiri bahwa “Setiap pergelaran Teater Koma, dihadiri antara 10.000 sampai dengan 15.000 penonton”. Bahkan, pada tanggal 10s.d 24 November 1999dan 1 s.d 10 Februari 2000 pementasan Sampek Engtay berhasil memikat hati para penonton yang hadir berjumlah 20.725 orang, selama kurang lebih 24 hari pementasan di TTA dan TMII. Maka dari itu, tidak sangat berlebihan jika Nano sendiri bermimpikan dunia teater yang hebat itu dengan mengatakan “Wajar jika saya mengharapkan keadaan ini bisa dijadikan sebagai titik tolak dalam kita mewujudkan sebuah teater profesiaol yang ada di Indonesia yang sesungguhnya. Teater adalah media ekspresi dan sekaligus bidang kerja” (Riantiarno, 2000:150 155). Saat ini Teater Koma sudah berumur kurang lebih 43 tahun dan hingga tahun 2015 tercatat sudah memberikan persembahan kepada khalayak sebanyak 140 produksi. Hal ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa di dalam dunia perteateran Indonesia yang patut kita banggakan.

Penghargaan yang Didapatkan N. Riantiarno

Bapak dramawan yang satu ini tidak perlu diragukan lagi seberapa banyak penghargaan serta hadiah yang beliau dapatkan. Juga sebagai seorang penulis yang telah melahirkan kurang lebih 50 naskah drama, 30-an skenario film dan beberapa novel serta cerpen yang beliau lahirkan dari tangan seorang N. Riantriarno. Karya-karya beliau tersebut pernah mendapatkan penghargaan di berbagai sayembara yang ada. Misalnya pada tahun 1972,1972,1974 dan 1975, empat tahun berturut-turut, Nano pernah mendapatkan penghargaan yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dari Sayembara Penulisan Naskah Drama. Tidak hanya itu skenario film beliau yang berjudul “Jakarta, Jakarta” ternyata juga meraih Piala Citra di Ujung Pandang pada Festival Film Indonesia tahu 1978. Tidak hanya sampai di situ, penghargaan demi penghargaan yang diraih oleh N. Riantiarno dalam bidang novel dan cerpen pula menambah citra bahwa dirinya adalah seorang sastrawan dan dramawan yang menjadi tokoh dalam bidang kesenian di Indonesia yang melegenda.

Merujuk kepada kehidupan dan diri N. Riantiarno, kita dapat mengambil pelajaran hidup dan energi positif yang beliau keluarkan bahwa tidak ada yang mustahil didunia ini jika kita terus konsisten dan percaya bahwa diri kita bisa, dan N. Riantriarno telah membuktikannya. Kita kapan?

N. Riantriarno pernah mengatakan bahwa aktor harus mau belajar, bertanggungjawab, disiplin, mau jadi apa saja dan mau bereksplorasi. Tidak hanya aktor, kita sebagai manusia juga harus mau belajar, bertanggung jawab dan mau bereksplorasi terhadap apa yang kita minati. Dari beliaulah seorang pendiri teater koma kita belajar, tidak hanya memberikan karya lewat tulisan dan dramanya tetapi juga menginspirasi kita semua terhadap kehidupan semesta.