Mengukir kembali jejak Mataram Dibalik keistimewaan Jogja, Melalui Destinasi!

Fresh graduated S1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta jurusan ilmu komunikasi, fokus bidang public relation.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Rindiyani Irfani Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bukan cuman terkenal sebagai kota pelajar, setiap sudut Jogja selalu membawa kita untuk belajar. Dibalik keistimewaannya, kamu dapat menyusuri setiap jejak sejarah yang tersimpan di kota kebudayaan ini. Destinasi yang ada di Jogja menyimpan banyak kenangan dibalik keindahan alamnya. Selain keraton, banyak sejarah bermakna di kota ini, salah satunya Bumi Mataram Pleret.
Jejak kejayaan Islam di Bumi Mataram dapat dirasakan melalui destinasi yang penuh edukasi. Peninggalan-peninggalan kerajaan Mataram tersebar melalui beberapa situs ikonik yang masih tersisa hingga saat ini sekaligus juga menjadi cagar budaya yang menjadi warisan kebanggaan masyarakat Pleret, Bantul.
Situs Kerto
Situs kerto menjadi bagian dari sisa-sisa kecil bekas peninggalan Kesultanan Agung, yang kini hanya tersisa dalam bentuk Umpak atau alas tiang kayu dari bahan batu andesit, yang diduga sebagai fondasi tiang keraton. Sayangnya, kemegahan kerajaan Mataram pada kejayaan masa silam di Kerta ini, hampir sirna dengan hanya menyisakan beberapa situs saja.
Kerajaan Mataram Islam dibawah pimpinan Sultan Agung dimulai pada tahun 1613 hingga 1645, yang awal mulanya berada di Kotagede hingga kemudian dipindahkan ke Kerta Pleret yang berjarak 8 KM. Dibalik peninggalan yang hanya berupa situs-situs kecil yang tersisa, disini kamu dapat merasakan suasana yang kuat dari setiap perjuangan kebesaran Mataram Islam di masa silam. Destinasi ini akan membawa kamu lebih dekat menyelami sejarah sekaligus memahami makna kehidupan dimasa lampau.
Cagar Budaya Makam Ratu Malang
Kerajaan Mataram dengan segala kisah sejarahnya selalu berhasil membawa makna perjalanan hidup yang penuh pelajaran didalamnya. Salah satunya Perjalanan kisah cinta segitiga antara Ratu Malang atau Retno Gumilang, Ki Dalang Panjang Mas, serta Amangkurat 1, yang merupakan raja Mataram ke 4.
Cagar Budaya Ratu Malang dikenal dalam bahasa Kawi dimaknai sebagai istana kematian menjadi cagar budaya ikonik yang bukan hanya sekedar jejeran makam. Didalamnya terdapat kisah yang tersimpan dalam rapat heningnya suasana antara makam dan pepohonan dengan kisah perjalanan seorang Dalang, syiar agama, dan juga perjuangan cinta pada masa kerajaan Mataram. Makam ini terletak di puncak Gunung Kelir yang dibuat pada tahun 1665 dengan batu nisan berbahan andesit.
Keelokan Tradisi di Mbulak Wilkel
Setelah menjelajah Pleret dengan segudang sejarahnya, kini giliran berkenalan dengan keelokan masyarakat sekitar. Tidak hanya subur dengan cerita tanah leluhur, masyarakat Pleret khususnya Mbulak Wilkel mencerminkan rahayu yang menakjubkan. Mbulak Wilkel menjadi destinasi dengan keunikan berbagai tradisinya yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Hijaunya persawahan dibawah cerahnya langit pedesaan menjadi destinasi menenangkan untuk dikunjungi. Mbulak Wilkel banyak dikenal masyarakat luas karena keramahtamahan masyarakatnya yang diperlihatkan melalui gelaran rutin tradisi wiwitan saat musim panen. Masyarakat disini sangat menjunjung tinggi penghormatan dan juga rasa syukur yang dilakukan melalui beberapa prosesi upacara adat sebagai jalan keberkahan. Melalui destinasi di Mbulak Wilkel pengunjung akan diajak menyuri keindahan alam sekaligus memperkenalkan keelokan rahayu dari masyarakat Pleret.
Bagi kamu yang bosan dengan kemegahan destinasi urban, jelajah Bumi Mataram Pleret menjadi opsi menarik sebagai destinasi wisata di Jogja. Bumi Mataram mengajak para pengunjung untuk lebih menyelami lebih jauh makna dibalik Jogja Istimewa. Tidak hanya belajar sejarah, Jelajah Pleret menawarkan sensasi autentik pedesaan asri buat kamu yang rindu kampung halaman. Jadi kapan nih mengukir kisah di Bumi Mataram dengan orang tersayang?
