Abdul Mu’ti Datangi Korban Kebakaran Kemayoran, Pastikan Anak-anak Bisa Sekolah
·waktu baca 2 menit

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengunjungi SDN Kebon Kosong 09 untuk memberikan bantuan kepada para korban kebakaran Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (3/6).
Ada 26 orang korban yang diberikan bantuan oleh Mu’ti. 23 Di antaranya merupakan siswa SDN Kebon Kosong 09 yang mendapatkan bantuan berupa perlengkapan alat sekolah.
“Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta memberikan santunan kepada anak-anak yang terdampak oleh musibah kebakaran,” ujar Mu’ti.
Sementara itu, tiga korban lainnya merupakan guru dan tenaga pendidik dari beberapa sekolah. Mereka diberikan bantuan berupa dana sebesar Rp 10 juta.
“Kami juga tadi memberikan santunan kepada guru. Ada dua guru yang terdampak, ada satu penjaga sekolah atau tenaga kependidikan yang juga terdampak, kami berikan santunan kepada mereka,” ungkap Mu’ti.
Mu’ti menjelaskan, bantuan ini tidak hanya terbatas pada pemberian perlengkapan maupun dana. Melainkan terdapat juga bantuan untuk memberikan pendampingan psikologis untuk para korban.
“Untuk proses psikologisnya ada trauma healing yang kami bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang memang juga selama ini sudah banyak bermitra kami dalam penanganan masalah-masalah psikologis di daerah-daerah terdampak bencana,” ucap Mu’ti.
Mu’ti menyebutkan total ada 139 anak yang terdampak dari insiden kebakaran. Ia mengaku akan segera memberikan bantuan kepada mereka.
“(Total) Ya ada 139 (anak). Di sekolah-sekolah lain juga ada. Sehingga nanti karena alasan waktu saya baru bisa ke sini. Nanti mungkin di kesempatan lain,” tutur Mu’ti.
“Tapi dari dinas juga sudah turun langsung sejak kemarin. Jadi kita terus bersinergi dan berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta,” sambungnya.
Melalui bantuan ini, Mu’ti mengharapkan pembelajaran para siswa dapat terus berjalan. Ia juga meminta kepada sekolah untuk memberikan susulan ujian semester bagi para siswa yang psikologisnya terdampak akibat insiden kebakaran.
“Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran dengan musibah ini mereka kehilangan kesempatan belajar, dan mereka tetap kita bangkitkan semangatnya untuk dapat ya lebih sabar, lebih tabah lagi dalam menerima musibah ini,” ungkap Mu’ti.
