Polda Metro Gelar Apel Pengamanan Demo Hari Ini, Kerahkan 6.675 Personel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polda Metro Jaya melakukan pengecekan senjata api pada personel saat apel pengamanan demo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Polda Metro Jaya melakukan pengecekan senjata api pada personel saat apel pengamanan demo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Polda Metro Jaya menggelar apel pasukan untuk mengamankan aksi unjuk rasa di sejumlah titik Jakarta pada Senin (15/6).

Selain mengawal demonstrasi di sejumlah titik, aparat juga mengamankan kunjungan kenegaraan Presiden Federasi Republik Jerman Frank-Walter Steinmeier ke tanah air.

Dalam pengamanan dua agenda besar tersebut, total 6.675 personel dikerahkan. Rinciannya, terdiri dari 6.165 personel Polri, 500 personel TNI, dan 10 personel Dinas Perhubungan.

“Kami dari Polda Metro Jaya akan menyampaikan dua agenda kegiatan pada hari ini, Senin 15 Juni 2026. Yang pertama akan kami sampaikan terkait tentang kunjungan kenegaraan dari Presiden Federasi Republik Jerman yaitu Mr. Frank-Walter Steinmeier beserta Ibu Negara,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto usai apel pengamanan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menurut dia, Presiden Jerman dijadwalkan mengunjungi sejumlah lokasi, mulai dari Istana Negara, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral hingga beberapa titik lainnya di Jakarta.

“Polda Metro Jaya bersama Kodam Jaya melaksanakan pelayanan pengamanan terkait tentang kedatangan dan beberapa agenda kegiatan dari kunjungan kenegaraan ini. Ada kegiatan orang, kegiatan tempat, dan barang yang menjadi prioritas pengamanan yang dilakukan,” ujar Budi.

“Kunjungan kenegaraan yang dilakukan pada hari ini harus diberikan pelayanan dan pengamanan VVIP. Adapun ruas-ruas jalan mulai dari Halim sampai dengan Semanggi, Sudirman, Thamrin menuju Istana, dan Gereja Katedral serta Masjid Istiqlal ini dilakukan rekayasa lalu lintas. Kami perlu sampaikan kepada warga masyarakat untuk penutupan jalur atau penutupan jalan dilakukan situasional pada saat rombongan kenegaraan akan melintasi,” lanjutnya.

Budi menegaskan penutupan jalan tidak dilakukan sepanjang hari, melainkan hanya ketika rombongan kenegaraan melintas.

Ia menambahkan, sebanyak 585 personel telah ditempatkan sejak pagi hari di sejumlah titik yang akan dilalui rombongan Presiden Jerman.

Polda Metro Jaya melakukan pengecekan senjata api pada personel saat apel pengamanan demo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Polda Metro Jaya menyiapkan sejumlah 585 personel tergelar di beberapa titik-titik tertentu dan sudah mulai pagi tadi pukul 06.00 sudah insert pelaksanaan di beberapa kantong-kantong ataupun ruas-ruas yang akan dilewati. Prinsip pengamanan adalah memberikan rasa aman, nyaman terkait tentang rangkaian pelaksanaan sehingga aktivitas masyarakat juga tetap berjalan dengan lancar dan baik,” kata dia.

Selain pengamanan kunjungan Presiden Jerman, Polda Metro Jaya juga mengerahkan ribuan personel untuk mengawal aksi unjuk rasa yang digelar sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa di Jakarta.

“Selanjutnya kami menyampaikan agenda kegiatan masyarakat kedua tentang penyampaian aspirasi di muka umum. Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya menerjunkan personel sebanyak 3.588 personel gabungan TNI-Polri dari Dishub, Satpol PP, dan Polres-Polres penyangga,” ujar Budi.

Menurut dia, seluruh personel telah mendapatkan arahan langsung dari Kapolda Metro Jaya agar mengedepankan pendekatan humanis selama bertugas.

“Tadi kita sama-sama mendengarkan ada 18 direktif Bapak Kapolda Metro Jaya, di mana intinya adalah petugas yang melaksanakan pelayanan pengamanan harus sabar, humanis, dan tidak terprovokasi,” katanya.

Budi menegaskan, aparat bertugas memastikan hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat tetap terlindungi.

Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier disambut setibanya di Indonesia, Jakarta, (15/6/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Ia juga mengingatkan peserta aksi dan petugas pengamanan untuk sama-sama menjaga keselamatan serta memperhatikan kepentingan masyarakat lainnya.

“Aspirasi yang disampaikan jelas tentunya dilindungi oleh undang-undang dan ini harus dikawal secara bersama. Tetapi ada hal-hal yang menjadi perhatian kita bersama, kami juga menghimbau kepada para peserta aksi penyampaian aspirasi di depan umum termasuk petugas pengamanan harus memperhatikan keselamatan bersama, memperhatikan kepentingan masyarakat-masyarakat lain selain dari penyampaian aspirasi. Ini harus sama-sama kita jaga,” kata Budi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak ada personel yang dibekali senjata api selama pengamanan aksi.

“Selanjutnya disampaikan dalam direktif tersebut tidak ada penggunaan senjata api. Ini ditegaskan oleh Bapak Kapolda Metro Jaya tadi disampaikan pada saat apel secara bersama,” ujarnya.

Budi mengatakan terdapat empat titik aksi yang menjadi fokus pengamanan pada hari ini, yakni kawasan DPR/MPR, Silang Monas, Bundaran HI-Dukuh Atas, dan kantor Badan Gizi Nasional (BGN).

“Ada beberapa titik agenda aksi hari ini yang pertama di tempat kita berada yaitu DPR/MPR, yang kedua sekitar Silang Monas, yang ketiga seputaran Bundaran HI, Dukuh Atas, ini juga akan dilaksanakan, yang keempat adalah kantor BGN Republik Indonesia,” katanya.

Berdasarkan hasil analisis intelijen dan pemantauan media sosial, jumlah massa aksi yang diperkirakan hadir mencapai ratusan orang di sejumlah titik tersebut.

“Kami menyampaikan untuk massa aksi yang diajukan untuk di DPR/MPR berkisar antara 300 sampai dengan 400 massa aksi. Sekitar wilayah Silang Monas itu sekitar 40 sampai dengan 70 massa aksi. Di sekitar Bundaran HI, Dukuh Atas itu sekitar 100 massa aksi, dan di BGN sekitar 40 sampai dengan 50 massa aksi,” ujar Budi.

Ia menambahkan, hingga saat ini kepolisian belum menerima surat pemberitahuan resmi terkait rencana aksi lanjutan yang sebelumnya disuarakan sejumlah elemen mahasiswa.

“Kalau berbicara dari surat pemberitahuan kami sampai dengan saat ini belum menerima untuk aksi berikutnya. Semoga kami bisa menerima secara tertulis dan korlapnya bisa menyerahkan secara langsung dan ini bisa dikomunikasikan,” katanya.

Sementara itu, saat memimpin apel gelar pasukan, Direktur Pengamanan Objek Vital Polda Metro Jaya Kombes Pol Joko Sulistio membacakan amanat Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri yang menekankan pentingnya pengamanan humanis, terukur, dan profesional.

Dalam amanat tersebut, Kapolda Metro Jaya menyampaikan sejumlah penekanan kepada seluruh personel, antara lain:

1. Pengamanan unjuk rasa harus berjalan aman, tertib dan tidak boleh menimbulkan kerusuhan maupun kerusakan fasilitas umum.

2. Anggota yang bertugas jangan mudah terpancing emosi, kendalikan diri dan laksanakan tugas dengan humanis, sabar dan terukur serta menjadikan penegakan hukum adalah langkah terakhir atau ultimum remedium.

3. Personel intelijen agar mempelajari secara detail titik kumpul masa, fasilitas umum yang dipakai dan kendaraan yang akan digunakan serta dokumentasikan semua narasi yang ada di jalan baik teriakan maupun tulisan dan segera laporkan kepada pimpinan.

4. Untuk personal Reskrim bila menemukan peserta yang membawa alat berbahaya agar diamankan sedari awal dan dokumentasikan serta jangan bergerak sendiri-sendiri, tapi harus berkelompok jangan sampai terlepas dari ikatan tim.

5. Untuk pasukan Sabhara, ikuti setiap instruksi pimpinan dan dan jangan mudah terprovokasi, jaga barisan serta pastikan tindakan tetap terukur.

6. Pendorongan massa di depan DPR baik arah timur maupun arah barat disesuaikan dengan batas yang telah ditentukan serta karakteristik masa guna menghindari masa mengarah ke objek vital nasional.

7. Anggota TNI yang berada di dalam gedung DPR, tidak keluar area kecuali pada kecuali pada pamtop dan penyekatan di terminal maupun stasiun agar dilibatkan guna penebalan dan untuk memperkuat sinergi.

8. Pemeriksaan kelengkapan alut dan alsus pada pelaksaan apel pasukan agar dilakukan dengan ketat, dividio kan oleh Propam, terutama para danton maupun anggota Reskrim. Tidak ada yang menggunakan senjata api, ulangi, tidak ada penggunaan senjata api.

9. Agar seluruh personel pengamanan mematuhi dan memahami aturan yang berlaku pada peraturan internal Polri antara lain Perkap nomor 1 tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian, Perkap nomor 16 tahun 2006 tentang pengendalian massa, Perkap nomor 2 tahun 2019 tentang pengendalian huru hara.

10. Semua tindakan di lapangan harus satu komando, tidak boleh ada inisiatif sendiri-sendiri tanpa instruksi. Para padal hingga pamen mewajibkan rantai komando, berjalan dengan dan jangan sampai terjadi miskomunikasi.

11. anggota yang bertugas menghadapi masa jangan bersikap agresif, tetap menjaga posisi, bertahan dengan mengedepankan cara yang humanis serta memberikan ruang bicara kepada perwakilan masa agar situasi di lapangan dapat diatur dengan baik.

12. tidak ada lagi pasukan yang terjebak masuk ke dalam scaling zone dan tidak ada yang mengejar masa sampai pasukan terlepas dari kelompoknya.

13. pergerakan pasukan PHH maupun penggunaan air mata hanya boleh dilakukan atas perintah Kapolda Metro Jaya secara langsung.

14. harus mengedepankan tindakan persuasif, tidak ada penggunaan senjata api dalam bentuk apapun.

15. setiap perkembangan dinamika situasi di lapangan harus segera dilaporkan pada kesempatan pertama.

16. pegang teguh prinsip jaga Jakarta khususnya terkait perlindungan kita terhadap masyarakat, keselamatan warga adalah prioritas utama baik peserta aksi maupun masyarakat sekitar termasuk para personel yang bertugas.

17. tunjukkan profesionalisme, jaga marwah institusi dan buktikan bahwa Polri mampu menjaga aksi unras dengan sebaik-baiknya.

18. satu komando, satu tujuan demi keamanan dan ketertiban masyarakat.