Konten dari Pengguna

Tidak Bisa Tidur tanpa ASMR, Kapan Harus Mulai Khawatir?

Riska Indah Fitriyani

Riska Indah Fitriyani

Mahasiswa Universitas Airlangga

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riska Indah Fitriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jam menunjukkan pukul 01.30. Lampu kamar sudah mati, posisi tidur sudah berganti beberapa kali, tetapi mata masih saja sulit terpejam. Akhirnya, tangan meraih ponsel dan membuka video ASMR. Ada suara bisikan pelan, ketukan kecil, atau suara seseorang menyisir rambut. Beberapa menit kemudian, tubuh mulai terasa lebih rileks dan rasa kantuk perlahan datang.

Awalnya, ASMR mungkin hanya menjadi teman tidur sesekali. Namun, lama-kelamaan, rasanya ada yang kurang kalau belum memutar video tersebut. Bahkan, ketika ponsel kehabisan baterai atau koneksi internet bermasalah, tidur pun terasa lebih sulit.

Pernah mengalami hal seperti ini? Kalau iya, mungkin kamu pernah bertanya-tanya, “Jangan-jangan aku sudah kecanduan? Apa ini tanda depresi?”

Sebelum buru-buru menyimpulkan sesuatu, ada baiknya kita memahami kebiasaan ini lebih jauh. Sebab, memakai ASMR untuk membantu tidur bukanlah hal yang aneh. Namun, ketika tidur mulai terasa mustahil tanpa suara dari ponsel, ada baiknya kita melihat lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi.

Kenapa Suara ASMR Bisa Bikin Lebih Rileks?

Coba ingat-ingat suara yang biasanya kamu putar sebelum tidur. Ada yang menyukai bisikan pelan, suara hujan, ketukan kuku pada benda, atau gerakan tangan yang berulang. Meskipun terdengar sederhana, suara-suara tersebut bisa membuat sebagian orang merasa lebih tenang.

ASMR atau Autonomous Sensory Meridian Response merupakan respons berupa sensasi geli yang menyenangkan, biasanya terasa di kepala atau leher, ketika seseorang mendengar atau melihat pemicu tertentu. Tidak semua orang merasakannya, tetapi sebagian orang merasa lebih rileks setelah menikmati konten ASMR.

Ternyata, pengalaman tersebut juga pernah diteliti. Sakurai dan rekan-rekannya (2021), misalnya, menggunakan pemindaian fMRI untuk mempelajari respons otak terhadap stimulasi audio ASMR. Sementara itu, penelitian Smejka dan Wiggs (2022) terhadap 1.037 orang dewasa menemukan bahwa menonton video ASMR berkaitan dengan peningkatan rasa rileks dan suasana hati yang lebih baik. Penelitian Lohaus dan rekan-rekannya (2023) terhadap 301 peserta juga menunjukkan bahwa efek relaksasi lebih terlihat pada orang yang memang merespons ASMR.

Temuan-temuan ini membantu menjelaskan mengapa ASMR terasa menenangkan bagi sebagian orang. Jadi, kalau kamu merasa lebih nyaman setelah mendengarkan suara-suara tersebut, kamu tidak sendirian.

Namun, ada satu hal yang perlu diingat. Merasa lebih rileks setelah menonton ASMR tidak sama dengan menyembuhkan insomnia. Video tersebut bisa membantu seseorang menenangkan diri, tetapi belum tentu menyelesaikan penyebab sulit tidurnya.

Tidak Bisa Tidur tanpa ASMR, Berarti Depresi?

Jawabannya, belum tentu.

Bayangkan seseorang yang terbiasa tidur dengan suara kipas angin. Ketika kipasnya mati, ia mungkin merasa suasana kamar terlalu sepi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk terlelap. Hal serupa bisa terjadi ketika seseorang terbiasa mendengarkan ASMR sebelum tidur.

Kebiasaan seperti ini saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami kecanduan atau gangguan kesehatan mental. Sejauh ini, tidak ada diagnosis resmi yang secara khusus disebut “kecanduan ASMR”.

Lantas, apa yang sebenarnya perlu diperhatikan?

Salah satunya adalah alasan di balik kesulitan tidur tersebut. Apakah pikiran masih sibuk memikirkan tugas kuliah? Apakah jadwal tidur belakangan berantakan? Atau justru ada perasaan sedih dan cemas yang terus terbawa sampai malam?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena tidur dan kesehatan mental memang bisa saling berkaitan. Dalam penelitian terhadap 330 mahasiswa di Amerika Serikat, Mbous dan rekan-rekannya (2022) menemukan bahwa 26,4 persen peserta mengalami insomnia. Di antara peserta yang mengalami insomnia, sekitar 78 persen juga menunjukkan gejala depresi berdasarkan skrining.

Angka tersebut mungkin terdengar mengkhawatirkan. Namun, bukan berarti orang yang sulit tidur pasti mengalami depresi. Penelitian itu menunjukkan adanya hubungan antara keduanya, bukan bukti bahwa insomnia secara langsung menyebabkan depresi. Selain itu, hasil skrining juga tidak sama dengan diagnosis dari tenaga profesional.

Jadi, daripada langsung memberi label pada diri sendiri hanya karena sulit tidur tanpa ASMR, cobalah memperhatikan pola tidur dan kondisi emosionalmu. Bisa jadi, yang perlu dibenahi bukan kebiasaan mendengarkan ASMR, melainkan hal lain yang membuatmu sulit beristirahat.

Hati-Hati Mendiagnosis Diri dari TikTok

Ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres, mencari jawaban di internet memang terasa praktis. Tinggal mengetik beberapa kata, lalu muncul banyak video yang seolah-olah bisa menjelaskan apa yang sedang kita alami.

Masalahnya, tidak semua informasi di media sosial bisa dipercaya begitu saja.

Pernah melihat video yang mengatakan bahwa sulit tidur, mudah lelah, atau kehilangan semangat merupakan tanda pasti dari gangguan tertentu? Ketika beberapa cirinya terasa cocok dengan pengalaman sendiri, kita bisa saja langsung merasa memiliki kondisi yang sama.

Fenomena ini patut diperhatikan. Penelitian yang diterbitkan di jurnal PLOS ONE pada 2025 menganalisis 100 video populer dengan tagar #ADHD di TikTok. Hasilnya, hanya 48,7 persen klaim dalam video-video tersebut yang dinilai akurat oleh setidaknya satu dari dua psikolog klinis yang melakukan penilaian. Peneliti juga menemukan hubungan antara frekuensi menonton konten tersebut dan kecenderungan mahasiswa untuk melebih-lebihkan prevalensi serta tingkat keparahan ADHD (Karasavva dkk., 2025).

Memang, penelitian itu membahas ADHD, bukan depresi atau insomnia. Namun, ada pelajaran yang bisa kita ambil: merasa cocok dengan sebuah video tidak otomatis berarti kita mengalami kondisi yang dijelaskan di dalamnya.

Sulit tidur bisa dipengaruhi banyak hal, mulai dari stres menghadapi tugas, konsumsi kafein pada sore atau malam hari, jadwal tidur yang tidak teratur, hingga kondisi kesehatan tertentu. Karena penyebabnya beragam, kita tidak bisa menentukan diagnosis hanya berdasarkan beberapa ciri yang ditemukan di media sosial.

Tidak ada salahnya mencari informasi untuk memahami diri sendiri. Akan tetapi, jangan sampai kebiasaan mencari jawaban justru membuat kita semakin cemas atau menunda mencari bantuan yang sebenarnya dibutuhkan.

Kapan Kesulitan Tidur Perlu Diperhatikan?

Sesekali sulit tidur menjelang ujian atau ketika sedang memikirkan banyak hal merupakan pengalaman yang cukup umum. Namun, kalau masalah ini terus berulang, jangan buru-buru menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Coba perhatikan bagaimana keadaanmu selama beberapa minggu terakhir. Apakah kamu hampir setiap malam kesulitan tidur? Apakah keesokan harinya kamu merasa sangat lelah sampai sulit berkonsentrasi di kelas? Atau belakangan ini kamu lebih sering merasa sedih, kehilangan minat pada kegiatan yang biasanya menyenangkan, dan sulit menikmati hari-hari seperti sebelumnya?

Hal-hal tersebut layak diperhatikan, terutama jika berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Sebagai gambaran, insomnia kronis umumnya dipertimbangkan ketika kesulitan tidur terjadi setidaknya tiga malam dalam seminggu selama tiga bulan atau lebih, disertai gangguan pada siang hari. Sementara itu, perasaan sedih atau kehilangan minat yang berlangsung hampir setiap hari selama dua minggu atau lebih juga merupakan alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Bukan berarti kamu harus menunggu sampai memenuhi batas waktu tersebut untuk mencari bantuan. Kalau masalah tidur sudah mengganggu kegiatan sehari-hari, kamu boleh mencari pertolongan lebih awal.

Hal ini penting karena masalah kesehatan mental masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 memperkirakan sekitar 34,9 persen remaja Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya 2,6 persen dari mereka yang mengalami masalah tersebut mengakses layanan konseling atau dukungan.

Data itu memang khusus membahas remaja, bukan seluruh mahasiswa. Meski begitu, hasilnya mengingatkan kita bahwa masih ada kesenjangan antara kebutuhan akan bantuan dan akses terhadap layanan kesehatan mental.

Kalau kamu merasa kesulitan tidur atau kondisi emosionalmu mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kamu bisa memulai dengan berkonsultasi ke puskesmas, klinik, psikolog, atau layanan konseling kampus. Untuk dukungan awal terkait kesehatan mental, kamu juga bisa memeriksa informasi layanan Healing119.id dari Kementerian Kesehatan RI melalui situs resminya. Layanan dan ketersediaannya dapat kamu pastikan langsung melalui kanal resmi tersebut.

Mencari bantuan bukan berarti kamu berlebihan. Justru, mengenali bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan merupakan langkah awal untuk merawat diri.

Kalau Masih Mau Pakai ASMR, Boleh Kok!

Setelah membaca penjelasan tadi, kamu mungkin bertanya-tanya apakah sebaiknya berhenti menonton ASMR sebelum tidur.

Tidak harus begitu. Kalau ASMR membantumu merasa lebih tenang, kamu tetap bisa menggunakannya sebagai bagian dari rutinitas sebelum tidur. Yang penting, jangan sampai kebiasaan tersebut menjadi satu-satunya cara yang kamu andalkan ketika kesulitan beristirahat.

Ada beberapa hal sederhana yang bisa dicoba. Pertama, gunakan pengatur waktu agar audio tidak terus menyala sepanjang malam. Pilih volume yang rendah dan, jika memungkinkan, dengarkan tanpa harus terus menatap layar ponsel.

Kedua, usahakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari. Kurangi konsumsi kafein menjelang malam dan berikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian.

Ketiga, temukan cara lain untuk menenangkan diri. Kamu bisa mencoba membaca beberapa halaman buku, melakukan peregangan ringan, mendengarkan musik lembut, atau mengambil napas secara perlahan. Tidak perlu memaksakan diri langsung tidur tanpa ASMR jika hal itu justru membuatmu semakin tegang.

Terakhir, coba catat pola tidur selama dua minggu. Tuliskan kapan kamu mulai tidur, kapan terbangun, apakah menggunakan ASMR, dan bagaimana perasaanmu keesokan harinya. Catatan sederhana ini bisa membantu mengenali kebiasaan yang memengaruhi tidur sekaligus menjadi bahan diskusi jika kamu memutuskan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Jadi, Haruskah Kamu Khawatir?

Tidak bisa tidur tanpa ASMR bukan berarti kamu otomatis mengalami depresi atau kecanduan. Bisa jadi, kamu hanya terbiasa dengan suara yang membuat suasana malam terasa lebih nyaman.

Namun, jangan abaikan masalah tidur yang terus berulang. Kalau kamu semakin sulit beristirahat, merasa lelah sepanjang hari, atau mengalami perubahan suasana hati yang mengganggu aktivitas, cobal

Ilustrasi seorang perempuan mendengarkan ASMR melalui ponsel sebelum tidur di kamar pada malam hari. Sumber: AI generated image (OpenAI)