Konten dari Pengguna

Super El Niño Meningkat: Ketika Alam Mengingatkan Manusia

Nanda Riswanda Pohan

Nanda Riswanda Pohan

Alumni IAT UIN Sultan Syarif Kasim Riau

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda Riswanda Pohan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik pada Agustus 2026. Sumber: NOAA Climate Prediction Center.
zoom-in-whitePerbesar
Anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik pada Agustus 2026. Sumber: NOAA Climate Prediction Center.

Ketika suhu laut di Pasifik mulai meningkat dan para ilmuwan memperingatkan kemungkinan munculnya El Niño yang sangat kuat pada akhir 2026, yang perlu kita pikirkan bukan hanya soal seberapa panas bumi akan menjadi atau seberapa panjang musim kemarau berlangsung. Ada suatu pertanyaan yang lebih fundamental yaitu: bagaimana manusia seharusnya membaca fenomena alam ini dalam kehidupan?

Super El Niño bukan sekadar istilah dalam laporan klimatologi. Fenomena ini berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi pola hujan, suhu udara, kekeringan, hingga risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah dunia. Sejumlah model iklim menunjukkan adanya peluang terjadinya El Niño kuat pada 2026. Yoon et al. (2025) dalam penelitiannya bahkan mengembangkan pendekatan prediktif untuk mengenali potensi Super El Niño melalui kombinasi sinyal iklim lokal dan global. Namun, dalam perspektif Islam, pengetahuan tersebut tidak berhenti pada kemampuan manusia memprediksi alam semata. hal ini semestinya membawa kita pada kesadaran utuh bahwa alam memiliki keteraturan yang tidak sederhana.

Alam, Sunnatullah, dan Tanda Kebesaran Allah

Islam tidak memandang alam sebagai sesuatu yang berjalan tanpa aturan. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, hujan, angin, laut, dan berbagai perubahan yang terjadi di dalamnya. Keteraturan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari sunnatullah, yakni suatu ketetapan Allah Swt yang bekerja dalam kehidupan alam semesta.

Karena itu, El Niño tidak semestinya langsung diberi label sebagai hukuman Allah atau pertanda tertentu tanpa dasar yang kuat. Secara ilmiah, El Niño memiliki mekanisme yang dapat dipelajari melalui hubungan antara laut dan atmosfer. Sementara itu, secara keagamaan, fenomena tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melakukan tafakkur merenungkan keteraturan ciptaan Allah.

jika keduanya dilakukan secara bersamaan maka disinilah ilmu pengetahuan dan agama bertemu. Sains berusaha menjawab pertanyaan "bagaimana" El Niño tersebut bisa terjadi, sedangkan agama membantu manusia mempertanyakan "untuk apa pengetahuan itu digunakan dan bagaimana manusia seharusnya bersikap terhadap alam".

Ketika Kekeringan Menjadi Ujian Tanggung Jawab

Tanah kering dan retak menjadi salah satu gambaran visual kondisi kekeringan. Foto: Raghavendra Saka/Pexels.

Dampak El Niño menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan kehidupan manusia. Kekeringan dapat mengurangi ketersediaan air, mengganggu pertanian, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menekan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada sumber daya alam.

Dalam Islam, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa bumi yang bebas melakukan apa saja. Manusia diberi posisi sebagai "khalifah" di bumi sebagaimana yang termaktub dalam (QS. Al-Baqarah [2]: 30), sekaligus memikul amanah untuk menjaga kehidupan. Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut dapat terjadi akibat perbuatan manusia (QS. Al-Rum [30]: 41).

Ayat tersebut tidak berarti setiap bencana alam dapat secara langsung dianggap sebagai akibat dari satu kesalahan manusia. Namun, ia memberikan prinsip penting, manusia harus mengevaluasi bagaimana aktivitasnya memengaruhi lingkungan. Ketika hutan berkurang, air digunakan tanpa kendali, lahan rusak, dan sumber daya dieksploitasi secara berlebihan, persoalan ekologis tidak lagi semata-mata menjadi urusan alam. Ia menjadi persoalan moral.

Karena itu, menghadapi potensi Super El Niño tidak cukup dengan menunggu hujan turun. Konservasi air, perlindungan hutan, ketahanan pangan, pencegahan kebakaran, dan perubahan perilaku masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar yang sejalan dengan amanah manusia sebagai khalifah.

Pada akhirnya, Super El Niño 2026 dapat dibaca melalui dua sisi yang saling melengkapi. Dari sisi sains, ia adalah fenomena iklim yang lahir dari dinamika kompleks laut dan atmosfer. Dari sisi Islam, ia dapat menjadi ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan ciptaan Allah.

Manusia tidak diminta untuk mengendalikan alam sepenuhnya. Manusia diminta untuk mengenal, membaca, menjaga, dan tidak merusaknya.

Mungkin di situlah pesan yang sering terlupakan bahwa: semakin manusia memahami rumitnya sistem bumi, semakin ia seharusnya menyadari bahwa dirinya bukan pemilik mutlak bumi, melainkan penjaga yang sedang memegang amanah tuhan.

Wallahu A'lam

Memahami alam dapat menjadi bagian dari refleksi manusia atas tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi.

Refrensi:

Yoon, Chae-Hyun, Jubin Park, & Myung-Ki Cheoun. “Predictive Modeling of Super El Niño through Integrated Local and Global Climate Signals.” Scientific Reports 15, Article 16479 (2025). DOI: 10.1038/s41598-025-00913-7. P

Palmeiro-Silva, Yasna, Jeremy J. Hess, & Kristie L. Ebi. “Seasonal Forecasts as Public Health Tools: Preparing Latin America for the 2026 El Niño.” PLOS Global Public Health 6, no. 7 (2026): e0006570. DOI: 10.1371/journal.pgph.0006570.

https://www.ncei.noaa.gov/access/monitoring/enso/technical-discussion

Al-Qur’an, QS. Al-Qamar [54]: 49.

Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah [2]: 30.

Al-Qur’an, QS. Al-Rūm [30]: 41.