Konten dari Pengguna

Politik Indonesia Antara Kekuasaan, Elite, dan Media

Rival Laosa

Rival Laosa

Political Analysis

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rival Laosa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia saat ini berada di persimpangan yang penuh ketegangan dan tantangan serius. Terpilihnya Prabowo Subianto sebagai figur sentral dalam panggung politik nasional bukan sekadar pergantian tokoh, melainkan tanda perubahan yang membawa harapan sekaligus kecemasan. Prabowo menawarkan gaya kepemimpinan yang tegas dan janji stabilitas seperti sepak terjang di awal periode yang berhasil membuka berbagai Mega Korupsi di Indonesia, tetapi di sisi lain, pilihan ini juga membuka ruang bagi polarisasi dan sentralisasi kekuasaan yang makin nyata di tengah dinamika politik yang kompleks.

sumber photo : Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber photo : Pixabay.com

Jika kita mau jujur, demokrasi Indonesia tengah diuji dalam keadaan yang tidak ringan. Di balik kemegahan panggung politik yang dipertontonkan, yang terjadi seringkali jauh dari harapan rakyat. Apa yang kita saksikan bukanlah suara asli masyarakat, melainkan drama catur politik elit yang lebih sibuk memperjuangkan kepentingan dan kekuasaan daripada mengangkat aspirasi rakyat.

Salah satu cerminan kegagalan sistem kita terlihat dari berbagai fenomena viral yang makin hari makin memperlihatkan rapuhnya struktur sosial dan politik. Premanisme ormas yang seolah kebal hukum dan sulit ditindak, ijazah palsu yang entah siapa yang di untungkan, hingga pemimpin daerah yang seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan justru sibuk dengan drama politik dan saling memviralkan pencapaian semu yang sebenarnya tidak menyelesaikan masalah mendasar di daerahnya. Semua ini adalah tanda jelas bahwa masalah yang dihadapi bukan sekadar soal pelaksanaan hukum, tetapi soal sistem yang sudah menua dan sulit beradaptasi.

Kita membutuhkan reformasi struktural yang menyeluruh. Undang-undang soal perampasan aset hasil korupsi dan kejahatan, misalnya, harus ditegakkan dengan ketegasan dan tanpa kompromi. Tidak cukup hanya sebagai jargon politik yang dipakai saat kampanye, tapi harus menjadi alat efektif membongkar jaringan kejahatan yang merongrong keuangan negara. Selain itu, moral dan normalitas pendidikan harus menjadi fokus utama. Pendidikan bukan sekadar mengajarkan ilmu, tapi juga karakter, agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi yang sering kali membingungkan dan menjauhkan dari nilai-nilai luhur.

Keterbukaan dalam sistem keuangan nasional dan pemerintahan harus menjadi fondasi yang tak bisa ditawar. Transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar kata-kata indah, tapi merupakan prasyarat membangun kembali kepercayaan publik yang selama ini makin menipis. Tidak kalah penting, keterlibatan aktif masyarakat harus dijadikan pilar utama demokrasi, bukan hanya sebagai pelengkap yang dipanggil sesekali saat momentum politik tertentu.

DPR dan Pemerintah Pusat seharusnya menjadi penggerak utama perubahan ini. Walaupun, realitas sering kali berbicara lain. Kita terlalu sering melihat bahwa agenda-agenda besar kerap tertunda, sementara ruang diskusi di parlemen lebih dipenuhi debat yang berputar tanpa ujung. Sikap ketidakterbukaan dan keengganan berinovasi justru menjadi tembok yang sulit ditembus, membuat DPR dan pemerintah tampak seperti penonton pasif dalam panggung perubahan yang sangat dibutuhkan.

Media massa dan media sosial, yang seharusnya menjadi alat edukasi dan pemersatu bangsa, kini kerap menjadi “api dalam sekam.” Berita sensasional dan polarisasi informasi justru memperkeruh suasana, sementara hoaks menyebar luas dan memecah-belah masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak hanya bingung tapi juga terpecah belah, yang tentu saja sangat berbahaya bagi kepercayaan dan stabilitas sosial.

Ketika ruang dialog politik yang sehat makin sempit dan konflik horizontal makin marak, pembangunan nasional otomatis terhambat. Demokrasi sejati harusnya menjadi ruang di mana rakyat didengar dan diperjuangkan, bukan sekadar arena pertarungan elit yang hanya ingin mempertahankan kekuasaan demi kepentingan mereka sendiri.

Kita tidak bisa lagi berpangku tangan. Saatnya sadar dan bergerak bersama membangun demokrasi yang transparan, akuntabel, dan inklusif. Demokrasi harus kembali ke esensinya, sebagai wadah yang menjamin keadilan, kesejahteraan, dan keharmonisan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalau tidak, Indonesia akan terus kehilangan arah, terjebak dalam pusaran kepentingan politik yang sempit dan destruktif. Dan rakyatlah yang paling dirugikan.

Demokrasi tidak akan berjalan tanpa integritas, dan integritas tidak akan tumbuh dalam sistem yang membiarkan kepalsuan, ketertutupan, dan impunitas berkembang tanpa batas."— Prof. A. Rizal Ramli, ekonom senior dan mantan Menko Perekonomian RI.