Gunung dan Masa Depan Bumi: Berinvestasi pada Masa Krisis Iklim

is a Ph.D. student in Global Ethics and Climate Justice (distance learning) at the University of Birmingham. Since 2019, she is a Working Group of Science-Policy Coordination in the UNEP and also a Co-founder of Dabir Butala.
Konten dari Pengguna
22 April 2022 10:47
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Riza Annisa Anggraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gunung dan Masa Depan Bumi: Berinvestasi pada Masa Krisis Iklim (50407)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi, Gunung Merbabu, Jawa Tengah.
ADVERTISEMENT
"Invest in Our Planet" merupakan tema hari bumi tahun 2022. Dengan memahami konsep ini, publik diharapkan dapat lebih berinvestasi terhadap proyek-proyek ketahanan iklim.
ADVERTISEMENT
Perubahan iklim semakin terasa nyata dan berdampak jangka panjang, di mana kerentanan dan dampak perubahan iklim menjadi perhatian utama di seluruh dunia. Pemahaman dan pengetahuan yang terbatas terhadap adaptasi dan mitigasi perubahan iklim tanpa kita sadari sangat mempengaruhi ketahanan pangan, kemiskinan, dan banyak masalah sosial lainnya, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan.
Mengambil tindakan terhadap perubahan iklim berarti mengadopsi dan menerapkan program ambisius untuk membatasi emisi gas rumah kaca ke tingkat yang sesuai dengan kesejahteraan ekosfer seraya mendukung masyarakat di seluruh dunia untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang kini bagi sebagian tempat sudah tidak dapat dihindari. Hal ini juga berarti merangkul potensi ekonomi hijau, yaitu cara hidup yang lebih berkelanjutan yang menyeimbangkan prioritas ekonomi, sosial, dan lingkungan. Para pembuat kebijakan harus semakin menyadari kebutuhan untuk mengintegrasikan strategi pertahanan iklim ke dalam program pembangunan jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Perubahan iklim memiliki dampak yang sangat besar di daerah pegunungan. Kurangnya komunikasi yang baik kepada masyarakat umum tentang perubahan iklim, khususnya di daerah pegunungan, membuat masyarakat tidak menyadari dampak yang cukup signifikan yang terjadi pada ekosistem juga komunitas pegunungan. Ilmuwan, pembuat undang-undang dan kebijakan, dan pemimpin industri mungkin memiliki data untuk mendukungnya, tetapi saya yakin masih ada kebutuhan besar untuk lebih meningkatkan pemahaman publik tentang perubahan iklim.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah meluncurkan dokumen rekomendasi kebijakan bertajuk Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI) pada 1 April 2021, di mana dokumen tersebut akan menjadi pedoman penanganan perubahan iklim bagi pemerintah. Pembangunan yang tahan terhadap iklim adalah kunci untuk mengatasi tantangan yang semakin memburuk karena kurangnya tindakan seperti kerentanan masyarakat pedesaan termasuk masyarakat adat, sebagai masyarakat utama yang mengalami dampak perubahan iklim secara langsung. Hal ini juga mempengaruhi perekonomian karena masyarakat cenderung kehilangan mata pencaharian.
ADVERTISEMENT
Hidup di daerah pegunungan tidaklah mudah, kerentanan masyarakat pegunungan terhadap kerawanan pangan memburuk dengan setengah dari penduduk daerah pegunungan pedesaan di negara-negara berkembang menghadapi kerawanan pangan. Penduduk pegunungan mengalami perubahan iklim seperti hujan yang bukan merupakan fenomena asing bagi iklim tropis (Indonesia contohnya), namun pada tahun 2020, data mengungkapkan bahwa periode curah hujan yang lebih ekstrem telah meningkat menjadi sekitar 40 kali per-tahun, atau meningkat 400% sejak tahun 1981, yang dapat memicu bencana seperti banjir bandang, erupsi gunung berapi, dan yang lebih sering terjadi yaitu tanah longsor.
Gunung dan Masa Depan Bumi: Berinvestasi pada Masa Krisis Iklim (50408)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi, diambil dari Gunung Agung, Bali.

Mengapa pegunungan begitu penting untuk bumi?

25% tanah terdapat di daerah pegunungan, rumah bagi 10% populasi dunia, dan 50% populasi dunia bergantung pada gunung seperti air, pembangkit listrik tenaga air, makanan, kayu, mineral, produk obat-obatan, pengendalian banjir, dan rekreasi. Pegunungan juga menyediakan 60% - 80% sumber daya air tawar dunia untuk konsumsi domestik, pertanian, dan industri. Perlu kita ketahui bahwa setiap peristiwa atau masalah yang terjadi di daerah pegunungan memiliki dampak langsung pada seluruh planet.
ADVERTISEMENT
Kita perlu berinvestasi di daerah pegunungan dan pedesaan untuk memerangi perubahan iklim dan mengelola konservasi alam, keanekaragaman hayati, sumber daya air, bahan kimia & limbah, juga untuk meningkatkan ketahanan masyarakat pegunungan dan pedesaan agar tidak tertinggal sesuai dengan konsep Tujuan Pembangunan Berkelanjutan -Leave No One Behind.
Mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan seperti pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, restorasi ekosistem, dan mencapai efisiensi energi yang substansial telah disebutkan dalam COP26. Hal-hal tersebut terkait dengan pembangunan gunung berkelanjutan yang vital bagi ekonomi hijau, restorasi hutan dan ekosistem, serta energi terbarukan.
Pegunungan menyediakan barang dan jasa vital untuk kepentingan seluruh umat manusia, untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat global, dan untuk menggerakkan dunia menuju ekonomi yang lebih hijau.
ADVERTISEMENT
Wilayah Pegunungan sangat beragam dalam hal bentang alam dan keanekaragaman hayati, agrobiodiversitas, bahasa, masyarakat, dan budaya. Untuk itu, meningkatkan saling ketergantungan ekonomi antara pedesaan dan perkotaan, serta antara pegunungan dan kota-kota dataran rendah dan wilayah metropolitan tentu akan memberikan peluang untuk kemitraan dan kolaborasi. Tantangan bersama adalah paradoks terpenting di semua lokasi, “Kebijakan yang memengaruhi gunung dibuat oleh mereka yang tinggal di luar gunung.” Faktanya, terdapat keragaman situasi yang sangat besar dalam komponen perkotaan-pedesaan; dari ibu kota cosmopolitan besar ke daerah pedesaan yang terisolasi.
Gunung dan Masa Depan Bumi: Berinvestasi pada Masa Krisis Iklim (50409)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi, Gunung Merapi, Jawa Tengah.
Indonesia memiliki begitu banyak daerah pegunungan, kita perlu menjadikan kawasan pegunungan sebagai daya tarik global, sektor primer & produktif, ekonomi sirkular, pengembangan SDO (Standards Development Organizations), referensi kajian ilmiah, dan untuk memahami tantangan bersama. Demikian komitmen multi-stakeholder sangat dibutuhkan untuk meningkatkan ketahanan iklim untuk mempersiapkan dan juga melindungi generasi selanjutnya dari bahaya perubahan iklim.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pegunungan adalah salah satu daerah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim; Oleh karena itu, memantau kemajuan pengaruh antropogenik dalam iklim dan akibatnya pada fisik (kriosfer dan air), biologis (pertanian, ekosistem darat dan perairan), dan manusia (energi, bencana, pariwisata, migrasi, kesehatan manusia, dan perubahan komunitas dan budaya sistem nilai) penting untuk memajukan pemahaman kita tentang interaksi kompleks di antara sistem tersebut untuk mencegah gangguan antropogenik yang berbahaya dan mengembangkan serta menerapkan respons adaptasi yang lebih baik terhadap perubahan iklim termasuk lingkungan regional dan pembangunan yang tangguh.
Menginformasikan dan membuat publik sadar akan masalah lingkungan, dan menyarankan cara berperilaku yang benar merupakan tindakan yang diperlukan saat ini baik secara lokal, regional, maupun global. Dengan demikian, membimbing publik menuju rasa hormat yang lebih besar terhadap lingkungan akan lebih dapat dimaksimalkan. Membagi pengetahuan yang mengandung pesan kuat dan membangkitkan opini publik tentang prinsip-prinsip kelestarian lingkungan, prinsip-prinsip yang bertujuan untuk menemukan keseimbangan antara peningkatan kehidupan manusia secara keseluruhan dan tingkat keberlanjutan ekosistem alam.
ADVERTISEMENT
Terlebih lagi, pegunungan memiliki tantangan dan peluang khusus untuk pembangunan berkelanjutan global yang berkaitan dengan ekonomi dan institusi hijau. Penguatan kerja sama lintas batas dan hulu-hilir akan meningkatkan efektivitas intervensi seperti pelatihan, pengembangan kapasitas, dan penelitian. Aksi kolektif dalam mendukung pegunungan harus konsisten dengan prinsip dan norma kerja sama internasional yang ada dan berkembang serta memaksimalkan potensi ekonomi dan perubahan sosial bagi masyarakat lokal melalui pengembangan dan pengelolaan pariwisata pegunungan yang berkelanjutan.
Terakhir, masyarakat pegunungan dan pedesaan harus dilibatkan dalam semua tahap pengambilan keputusan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Ini akan meningkatkan mata pencaharian lokal, mengurangi kemiskinan, dan memastikan aliran barang dan jasa yang berkelanjutan untuk kepentingan semua yang tinggal di daerah pegunungan, juga menawarkan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan iklim, dampaknya terhadap kualitas dan kuantitas air di daerah pegunungan, energi terbarukan, konservasi yang efektif, dan strategi adaptasi dan mitigasi iklim.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020