Konten dari Pengguna

Bersama Tumbuh Sesuai Fitrah: Dari Ramadhan Menuju Kontribusi Bermakna

Rizal Bahara

Rizal Bahara

Halal Supply Chain, HLARG, Pejuang Halal Nusantara, Pemburu Ilmu, Pengumpul Amal, Pendamping Halal, Green Productivity , Lean Manufacturing

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizal Bahara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Momen halal bihalal di laksanakan setelah kita melakukan serangkaian kegiatan sebelumnya. Ia bukan sekadar tradisi saling memaafkan, tetapi puncak dari perjalanan ruhani yang panjang dan penuh makna. Kegiatan ini dimulai dengan menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan yaitu ibadah puasa selama 30 hari, di lanjutkan dengan ibadah zakat fitrah, dan sholat Idul Fitri. Semua rangkaian ini bukanlah ritual tanpa arah, melainkan proses penyucian diri yang Allah siapkan secara sistematis bagi hamba-Nya.

Dua muslimah menghadiri halal bihalal, foto : dokumen pribadi Joko Segara
zoom-in-whitePerbesar
Dua muslimah menghadiri halal bihalal, foto : dokumen pribadi Joko Segara

Para ulama menjelaskan bahwa fitri diartikan seperti lahir kembali. Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan ke-9 dalam kalender hijriah, yang sama dengan masa manusia dikandung oleh ibunda tercinta? Dan Idul Fitri dilakukan pada tanggal 1 Syawal, bulan ke-10, tepat dimana manusia dilahirkan dari perut ibunya. Maka sesungguhnya, setelah Ramadhan, kita seperti bayi yang baru lahir bersih, suci, dan penuh harapan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Jika kita berbicara tentang kelahiran manusia, tentunya Allah SWT mempunyai tujuan saat menciptakan makhluk-Nya di muka bumi initermasuk saya, kamu, dan semua yang merasa sebagai manusia. Setiap yang diciptakan oleh Allah di dunia ini semuanya ada manfaatnya, tidak sia-sia, dan bukan suatu kebetulan. Bahkan sehelai daun yang jatuh pun memiliki hikmah, apalagi manusia yang Allah ciptakan dengan kesempurnaan.

Namun, realitanya, setiap manusia mempunyai peran di dunia ini, dan hal ini jarang orang menemukan jawaban ketika ditanya: “Kenapa kamu dilahirkan di bumi ini?” Banyak yang menjalani hidup tanpa arah, tanpa memahami misi penciptaannya. Padahal, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa tujuan.

Banyak yang menjalani hidup tanpa arah, tanpa memahami misi penciptaannya. Padahal, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa tujuan.

Ketahuilah, ketika Allah SWT memberikan perintah, dipastikan bahwa perintah itu dapat dilaksanakan. Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Bahkan lebih dari itu, Allah akan memberikan jalannya dan menyediakan sarana serta prasarananya, sehingga perintah tersebut dapat dan mudah dilaksanakan oleh hamba-Nya.

Manusia diwajibkan makan makanan halal dan baik, Foto: Dokumen pribadi Jokosegara

Coba kita analogikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang pemimpin memberikan perintah kepada bawahannya untuk mewajibkan hidup sehat, sudah dipastikan sarana dan prasarananya telah disiapkan. Misalnya dengan menyediakan makanan sehat dan fasilitas olahraga yang memadai. Maka tidak masuk akal jika bawahan mengatakan tidak bisa menjalankan perintah tersebut.

Ketika seorang pemimpin memberikan perintah kepada bawahannya untuk mewajibkan hidup sehat, sudah dipastikan sarana dan prasarananya telah disiapkan

Begitu pula dengan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Al-Baqarah ayat 168, Allah berfirman:

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” Perintah ini sangat jelas, tegas, dan menyentuh seluruh umat manusia.

“Wahai manusia, makanlah di bumi ini yang halal lagi baik (thayyib), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqoroh : 168 )

Ketika Allah memerintahkan manusia untuk makan makanan yang halal dan thayyib, sudah dipastikan makanan itu tersedia. Allah tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang tidak ada. Maka manusia tidak bisa mengelak jika ditanya: “Kenapa tidak makan makanan yang halal dan thayyib?”

Lalu kenapa masih ada yang tidak melaksanakan perintah Allah? Jawabannya sudah ada pada lanjutan ayat tersebut: karena adanya gangguan. Setiap kebaikan pasti ada yang menghalangi. Dan dalam ayat itu disebutkan, jangan mengikuti langkah-langkah setan musuh yang nyata bagi manusia. Bukankah dosa pertama manusia terjadi karena memakan makanan yang dilarang oleh Allah, dimana penggodannya adalah setan?.

Kembali kepada kalimat “wahai manusia makanlah di bumi ini halal dan thayyib”, kita memahami bahwa manusia adalah objek dari perintah Allah. Dan seperti yang telah dijelaskan, jika seorang pemimpin yang baik memberikan perintah, pasti sudah menyediakan sarana dan prasarananya. Apalagi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Sempurna. Sudah dipastikan Allah telah menciptakan sistem yang luar biasa rapi dan sempurna.

Bersama Sahabat dan Kolega dalam kebaikan, Foto : Dokumen Pribadi Reza Maulida

Pertanyaannya, dalam sistem yang Allah buat ini, kita berperan sebagai apa? Apakah kita hanya sebagai objek yang mengonsumsi, atau kita juga menjadi bagian dari subjek orang, lembaga, tempat, atau perusahaan yang menyediakan makanan halal dan thayyib tersebut?

Jika hari ini kita berada dalam industri, pekerjaan, atau aktivitas yang berkaitan dengan penyediaan makanan halal dan thayyib, maka sesungguhnya itu bukan kebetulan. Berbahagialah kita yang termasuk ke dalam orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi penyedia makanan halal dan thayyib bagi manusia lainnya.

Akhirnya kita pahami, bahwa bukan suatu kebetulan jika kita dilahirkan dan kemudian bekerja di suatu perusahaan yang menyediakan produk halal dan thayyib. Keberadaan kita di dunia ini mulai menemukan jawabannya. Kita bukan hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem besar yang Allah ciptakan untuk menjaga keberkahan, kesehatan, dan kebaikan umat manusia.

Dan ada satu hal penting yang perlu kita renungkan bersama. Untuk menjadikan peran kita bisa terus berjalan dan istiqomah, kita bisa belajar dari proses ibadah di bulan Ramadhan. Kita mampu menyelesaikan ibadah puasa, tarawih, zakat, hingga Idul Fitri bukan hanya karena kekuatan individu, tetapi karena dilakukan bersama-sama. Puasa Ramadhan adalah event global sepanjang sejarah manusia karena pesertanya lebih dari 2 milyar. Ada suasana kebersamaan, saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling mendoakan.

Maka untuk menjalankan peran besar kita di dunia ini pun, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus melakukannya bersama-sama. Saling mendukung dalam kebaikan, saling menguatkan dalam ketaatan.

Mari kita bersama tumbuh. Tumbuh dalam iman, tumbuh dalam amal, dan tumbuh dalam kontribusi. Mari kita mencari dan mengumpulkan pahala di setiap aktivitas kehidupan kita—termasuk saat kita bekerja. Karena sejatinya, ketika pekerjaan kita bernilai ibadah, maka setiap langkah, setiap usaha, dan setiap keringat kita akan bernilai di hadapan Allah SWT.

Allahu a’lam.