Dari Hutan ke Dunia Digital: Upaya Tesbatan Membangun Desa Wisata yang Lestari

Halal Supply Chain, HLARG, Pejuang Halal Nusantara, Pemburu Ilmu, Pengumpul Amal, Pendamping Halal, Green Productivity , Lean Manufacturing
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizal Bahara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di balik perbukitan hijau Amarasi, Kabupaten Kupang, terdapat sebuah desa yang menyimpan banyak potensi alam dan budaya, yaitu Desa Tesbatan. Mulai dari kekayaan flora dan fauna, tenun khas Amarasi, air terjun yang indah, hingga beragam jenis burung yang hidup di kawasan hutan, semuanya menjadi aset berharga yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun, memiliki potensi saja tidak cukup. Potensi tersebut perlu dikenali, dikelola, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas agar mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga desa. Inilah yang menjadi alasan hadirnya program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang.
Melalui dukungan pendanaan Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026, tim dosen Politani Negeri Kupang melaksanakan program pendampingan bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) Sismeni di Desa Tesbatan. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengembangkan desa wisata berbasis alam atau ekowisata yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Mengangkat Potensi Lokal Menjadi Daya Tarik Wisata
Ketua tim pelaksana, Dr. Sutan Sahala Muda Marpaung, menjelaskan bahwa kegiatan diawali dengan sosialisasi untuk memperkenalkan program kepada masyarakat. Setelah itu akan dilanjutkan dengan berbagai pelatihan dan pendampingan yang lebih intensif.
Menurutnya, Desa Tesbatan memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang sebagai desa wisata. Selain keindahan alam, masyarakat juga memiliki kekayaan budaya dan berbagai produk lokal yang dapat menjadi daya tarik wisatawan.
Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah membantu masyarakat memetakan seluruh potensi desa secara lebih terstruktur. Dengan mengetahui apa saja yang dimiliki desa, masyarakat dapat menentukan langkah terbaik untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi sumber pendapatan baru
“Hari ini kita melakukan sosialisasi terlebih dahulu. Tahun lalu kami juga sudah melakukan kegiatan di sini. Harapannya, melalui pengabdian ini masyarakat tidak hanya mendapatkan penyuluhan, tetapi juga peningkatan kapasitas yang berdampak pada aspek sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Birdwatching hingga Pemetaan Potensi Desa
Salah satu fokus program adalah membantu masyarakat mengidentifikasi dan memetakan seluruh potensi yang dimiliki desa secara lebih sistematis. Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola sumber daya yang ada menjadi produk wisata yang bernilai ekonomi.
“Kita akan membahas dan memetakan berbagai potensi yang ada, termasuk flora dan fauna. Nantinya akan ada pelatihan pemetaan potensi wilayah dan birdwatching atau pengamatan burung. Melalui kegiatan ini, kita ingin membangun desa ekowisata dengan masyarakat sebagai pelaku utama dan promotor pengembangannya,” jelas Dr. Sutan.
Ia menambahkan bahwa Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan alam, budaya, serta kearifan lokal yang menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan. Oleh karena itu, KTH Sismeni dipandang memiliki peluang besar untuk menjadi pionir pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di wilayah Amarasi.
Ketua KTH Sismeni, Yerri Y. Bidjae, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan oleh tim dosen Politani Negeri Kupang. Menurutnya, program ini menjadi kesempatan penting bagi anggota kelompok untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola potensi desa secara berkelanjutan.
Ia berharap rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama program berjalan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.
Tidak hanya melibatkan dosen dan masyarakat, program ini juga menghadirkan peran aktif mahasiswa. Salah satunya adalah Jose Mario Rua Blikololong, mahasiswa Program Studi Pengelolaan Hutan yang terlibat langsung dalam kegiatan.
Jose menjelaskan bahwa mahasiswa berperan mendampingi masyarakat dalam memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan produk hasil hutan sekaligus mempromosikan destinasi wisata yang ada di Desa Tesbatan.
“Sebagai mahasiswa yang terlibat dalam program ini, kami berperan dalam digital marketing untuk mempromosikan produk hasil hutan dari kelompok tani. Kami juga melakukan pendampingan dalam optimalisasi biodiversitas kawasan hutan untuk mendukung desa ekowisata berkelanjutan. Program ini bertujuan mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan ekowisata dan pemasaran digital,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok tani, mahasiswa, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu menjadi katalis bagi pengembangan Desa Tesbatan sebagai desa ekowisata yang kompetitif dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar promosi wisata, inisiatif ini juga mendorong masyarakat untuk mengelola sumber daya alam secara bijak, menjaga kelestarian lingkungan, melestarikan budaya lokal, serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi generasi mendatang.
Jika seluruh potensi tersebut dapat dikelola secara optimal, Desa Tesbatan berpeluang menjadi contoh sukses bagaimana biodiversitas, budaya lokal, dan teknologi digital dapat berpadu dalam membangun ekowisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.
