Begal Sepeda, Bisakah Dihindari?

Wartawan Tempo 2011 - 2016, Redaktur kumparan 2016 - sekarang. Orang Bandung lulusan Jurnalistik Unpad.
Tulisan dari Rizki Gaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya jadi wartawan bersepeda sejak 31 Maret 2015. Pagi hingga sore wara-wiri liputan, malam ke kantor, larut malam pulang. Semua dilakukan pakai sepeda.
Ini sudah 2020 dan saya masih wartawan bersepeda. Ada satu hal yang belakangan ini amat bikin cemas hingga saya bikin tulisan ini: Begal sepeda.
be.gal /bègal/ n penyamun
pe.nya.mun n orang yang menyamun; perampok; perampas
Saya risau luar biasa.
Ada pengguna roadbike (sepeda balap) dipepet lalu ditodong pisau oleh begal bermotor.
Ada pesepeda yang saku baju jersinya dirogoh begal. Btw, saku jersi sepeda itu letaknya di punggung.
Ada yang pakai waist bag (tas-pinggang-tapi-diselempangin), tasnya ditarik sampai ia jatuh.
Dan bahkan ada marinir dibegal saat bersepeda di Jalan Medan Merdeka Barat, jam 7 pagi tadi. Jalanan itu merupakan kawasan ring-1 di Jakarta Pusat, bersebelahan dengan Istana Merdeka.
Tips saya menghindari begal (waktu itu):
Lantaran saya sering bersepeda larut malam, misalnya pulang dari kantor Tempo di Palmerah ke indekos di Kuningan (belakang Gedung KPK), saya autodidak saja menghindari begal, saya selalu mengambil jalan yang melawan arah.
Berlawanan arah membuat saya (merasa) bisa dari jauh mengidentifikasi bila ada yang tidak beres (misalnya ada pemotor yang malah mepet), sehingga saya bisa mengantisipasinya.
Saya juga otomatis tidak terjambret dari belakang.
Waktu itu saya pakai mountain bike sehingga gampang bila perlu naik trotoar (agar tidak menghalangi kendaraan pengguna jalan yang benar).
Saya tahu tips autodidak saya ini terdengar konyol dan tidak aplikatif untuk semua pesepeda. Apalagi tidak semua jalan terbagi dua sesuai arahnya.
Maka saya mengobrol dengan beberapa pesepeda, di antaranya Gesit Prayogi, Sekretaris Jenderal kumparan Cycling Club; juga dengan Aji Yuliarto alias Ajibon, desain grafis Majalah Tempo yang sudah amat senior di kalangan pesepeda, merancang tips aman bersepeda.
Tips bagi pesepeda agar tidak dibegal:
Gowes bersama-sama, minimal dua pesepeda.
Bila terpaksa gowes sendirian, benar-benar kuasai diri (tidak melamun, mewawas diri), kuasai kondisi jalan hingga lingkungannya.
Pelajari rute, hindari rute sepi. Ketika berada di area sepi, waspada total. Berhenti sejenak melihat ke belakang untuk memprofilkan bibit-bibit begal.
Bawa barang seperlunya, gunakan tas yang kuat yang tidak gampang dicokok (baik yang menempel di badan atau di sepeda). Wahai produsen tas yang baca tulisan ini, tolong bikin tas antibegal.
Untuk pesepeda yang bike to work yang sudah pasti bawa tas, bikinlah tas anda menjadi (lebih) antibegal. Misalnya seperti kawan saya, warga Depok yang setiap hari bersepeda ke kantornya di Gedung KPK: Dia melilit tasnya berkali-kali ke pannier belakang dengan rantai super panjang.
Pada intinya, tidak ada cara pasti untuk menghindari nasib atau musibah. Kita hanya meminta lindungan-Nya dan berusaha sebaik mungkin agar tidak dibegal.
Pemerintah dan aparatur penegak hukum juga perlu melakukan serangkaian upaya agar jalanan lebih aman (bagi pesepeda atau pengguna jalan pada umumnya).
5 (atau 6) tips itu hanya yang terpikirkan secara selintas oleh kami. Silakan anda tambahkan tips lain di kolom komentar untuk memperkaya ilmu saya dan para pesepeda lain.
