Opini & Cerita14 September 2020 22:01

Dampak

Konten kiriman user
Dampak (628939)
(Image by congerdesign from Pixabay)
Ada dua bahan berita bagus yang didapat Della Frye sang wartawati The Washington Globe. Pertama, soal dugaan skandal seks threesome Congressman Stephen Collins. Kedua, soal Stephen yang diam-diam pernah mengirim uang ke Sonia Baker, anak buahnya. Setoran duit itu menegaskan rumor Stephen selingkuh dengan Sonia.
ADVERTISEMENT
Persoalannya: Dua info itu didapat dari mulut Rhonda Silver, waitrees sebuah karaoke bar yang dulunya teman sekamar Sonia. Kredibilitas Rhonda sebagai narasumber diragukan oleh wartawan senior di The Wahingston Globe, Cal McAffrey.
"I don't beleive a word of it. You got no corroboration, no independent witness, and she obviously has a financial motivation," kata Cal ke Della.
Della yang junior terheran-heran atas sikap Cal, "Sonia Baker's roomate claiming she had a threesome with Stephen Collins, and you want to ignore that?" katanya.
"I'm not saying ignore it, I'm saying consider it. Consider how it impacts everything else we have, and consider she is full of shit!" ujar Cal.
Apa yang terjadi adalah dua wartawan itu—tentunya bersama wartawan lain dari media lain—sedang menguliti kasus kematian Sonia Baker. Cal enggak mau buang-buang energi dan tinta korannya untuk menayangkan berita "skandal ecek-ecek" dari seorang Rhonda Silver.
ADVERTISEMENT
Everything else yang dimaksud Cal adalah: Bahwa di balik kematian Sonia Baker ada suatu skandal besar yang orang-orang lain (atau wartawan-wartawan lain) enggak tahu.
Semua adalah adegan di film State of Play yang saya tonton kemarin. Ya, cukuplah sebagai pembuka tulisan ini—yang ingin bicara soal dampak sebuah berita.
Apakah yang dilakukan seorang Cal McAffrey salah? Bisa ya, bisa tidak. Ya, Cal salah karena peristiwa apapun yang terjadi di seputar kasus besar pasti ingin diketahui pembaca; tidak, Cal tidak salah karena wartawan punya hak untuk menilai news value hasil liputannya. Kesalahan McAffrey menurut saya cuma satu: tidak memberi tahu pemrednya. Wartawan memang punya hak, tapi keputusan mestinya diambil lembaga. Pemred adalah lembaga.
ADVERTISEMENT
Rhonda Silver yang mengungkap sebuah skandal seks bisa jadi satu berita. Bila kelak Stephen Collins membantah, itu dapat menjadi satu berita lain. "Meantime, people are reading about it, and they're reading us about it, because we had it first!" kata Cameron Lynne, Editor in Chief, waktu memarahi Cal. Cameron jelas kesal karena mestinya skandal seks itu tayang di medianya lebih cepat dari media lain.
Saya teringat seorang wartawan senior di Aceh menjelaskan mengapa medianya memilih untuk tidak memberitakan suatu peristiwa yang berpotensi menimbulkan konflik keagamaan. Ini sama halnya dengan seorang wartawan di Papua Barat yang juga pernah mendiskusikan tentang potensi kericuhan dari suatu berita yang hendak ditayangkannya.
Semua dampak itu dipertimbangkan hingga ke level tertinggi di jajaran redaksi, sehingga yang memutuskan adalah lembaga—bukan perseorangan.
ADVERTISEMENT
Soal dampak pemberitaan ini ditulis Ilham Bintang dalam artikelnya, Pak JO dan Wasiat Huruf 'I'. Tulisan itu mengenang Jakob Oetama atau "Pak JO", yang pernah mengajarkan Ilham soal berita yang tak melulu 5W+1H.
"Ia khawatir kalau 'tidak tahu diri', niscaya kelak pers justru akan menjadi unsur pemantik kerusakan bangsa. Maka, ia pun mengusulkan meninjau rumus berita '5W+1H' harus ditambahkan satu kata lagi. Apa itu? 'I'. I dari impact. Dampak. Dampak suatu berita bagi masyarakat, dan sistem nilai kehidupannya," kata Ilham mengenang Jakob Oetama.
Namun agaknya urusan dampak baru dibahas serius bila berita-beritanya serius. Beda halnya saat sebuah pemberitaan memiliki "dampak tak kasat mata"; yaitu yang tidak memiliki news value yang kuat dan justru cuma sekadar cari sensasi dan klik.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white