Konten dari Pengguna

Dari Tonjolan F dan J Kita Mulai

Rizki Gaga
Wartawan Tempo 2011 - 2016, Redaktur kumparan 2016 - sekarang. Orang Bandung lulusan Jurnalistik Unpad.
22 Juni 2020 23:41 WIB
clock
Diperbarui 6 Agustus 2020 13:17 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rizki Gaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Image by HOerwin56 from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by HOerwin56 from Pixabay
ADVERTISEMENT
Ada tonjolan kecil di tuts "F" dan "J", sehingga bisa teraba tanpa dilihat. Di dua tuts itulah masing-masing telunjuk kiri dan kanan Stefanus Teguh Edi Pramono parkir.
ADVERTISEMENT
"Kalau lo mau mengetik secepat gue, lo ikuti cara gue," kata Pram—panggilan sayang kami wartawannya kepada sang redaktur peraih Kate Webb Award itu.
Pram mengawali dengan menempelkan dua telunjuknya, lalu... JAG-GEJRAK-GEJRAK-GEJRAK~
Beliau mengetik (mengedit). Jag-gejrak-gejrak-gejrak itu suara bidak-bidak papan ketik Logitech K120 yang terentak-entak.
Orang lain bakal menyangka beliau mengetik sambil marah-marah. Beliau memang hobi marah, tapi waktu enggak marah pun gaya dan suara ketikannya memang sudah begitu.
Aku tahu karena aku sering "tersandera" di sampingnya. Sebelum mulai mengedit, beliau sering memanggil wartawannya: "Sini, lo. Diem di sini (di sebelahnya). Lihat," katanya. Lalu Jag-gejrak-gejrak-gejrak... kami wartawannya menonton dia dan layar naskah dengan cemas.
Belakangan aku sadar, memang begitulah metode belajar mengedit (mengetik) paling cepat: Dengan berada persis di samping redaktur ber-skill yang mau berbagi ilmunya.
ADVERTISEMENT
Apa yang beliau lakukan di Tempo itu aku terapkan di kumparan, terutama kepada mereka yang se-desk denganku.
Tentu enggak se-jag-gejrak-gejrak-gejrak beliau, tapi mendekati. Kebiasaan menaruh telunjuk pun ditularkan. Dan para "editor" itu perlahan-lahan memperbaiki diri.
Yang tadinya amat bergantung pada mata (untuk melihat di mana lokasi sebuah tuts), kini bisa mengeksekusi hanya dengan jari.
Yang tadinya kaku, kini lancar. Yang tadinya lamban, kini bisa cepat. Yang tadinya payah, kini jadi lumayan.
Selayaknya beliau yang menantangku adu cepat dalam mengetik, aku juga menantang teman-teman "editor" itu adu ketik cepat.
Medianya sama: Sebuah website penghitung ketikan. Ini seru. Sejauh ini skorku masih nomor satu (kalau Mas Pram tidak dihitung).
Lihat skor itu? Hwahahahahahaha!
ADVERTISEMENT
Oke. Sidang pembaca yang terhormat, bilamana kalian senggang, ayo kita adu ketik cepat. Pakai komputer/laptop lebih baik:
Salam jag-gejrak-gejrak-gejrak.