Konten dari Pengguna

Di Era TikTok Ini Masih Perlukah (Skill) Menulis?

Rizki Gaga

Rizki Gaga

Wartawan Tempo 2011 - 2016, Redaktur kumparan 2016 - sekarang. Orang Bandung lulusan Jurnalistik Unpad.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizki Gaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Image by Cocoparisienne from Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
(Image by Cocoparisienne from Pixabay)

Kenapa di judul saya tulis "era TikTok", karena media sosial yang satu itu memang laku. 732 juta pengguna aktif di seluruh dunia, 10 jutanya di Indonesia (saya dan mungkin kamu di antaranya).

Saking sukanya saya kepada TikTok, 9gag pun sudah jarang saya buka. Aplikasi yang tidak dikalahkan TikTok (berdasarkan keseharian saya) adalah kumparan dan YouTube. Ya, TikTok kan toh masih berpotensi tumbang dan punah tapi mari kita pakai "era TikTok".

TikTok itu tinggal record lalu edit lalu upload. Seringkali yang viral adalah yang spontan, tidak usah banyak mikir, tidak perlu susah-payah mengetik, tidak perlu repot menyusun kata-kata dalam teks.

Timbul kecemasan saya: Di era TikTok seperti sekarang ini masih perlukah (skill) menulis?

Sejenak kita lihat sejarahnya. Ketika manusia belum mengenal alat tulis, pesan disampaikan hanya melalui oral. Ketika alat tulis ditemukan, pesan bisa diantarkan via teks. Begitu seterusnya sampai alat cetak dan teknologi komputer mengantarkan pesan via gambar, via suara, via video.

Semakin kompleks teknologinya (katakanlah saat ini paling kompleks adalah video), semakin mudah penontonnya memahami sebuah peristiwa. Penonton tidak perlu menerka-nerka adegan.

Beda halnya dengan tulisan. Pembaca—ketika baru membaca sebuah tulisan—perlu menejermahkan tulisan tersebut menjadi sebuah gambar abstrak di kepalanya. Yang ia bayangkan belum tentu sama dengan yang penulisnya bayangkan.

Misalnya tulisan "Budi memukul Adi" akan membuat pembaca menerka-nerka bagaimana situasinya, bagaimana raut wajahnya, bagaimana dampaknya.

Beda halnya ketika orang menonton video pemukulan tersebut, maka abstraksi itu sudah terjawab (tidak perlu lagi bersusah-payah membayangkan adegan dan sebagainya).

Lantas buat apa kemampuan menulis itu?

Saya bertanya ke banyak orang pertanyaan itu, dan mungkin jawaban dari Wendiyanto Saputro sang Pemred kumparanbisnis senior saya ini yang paling mengena:

"Menulis tetap relevan karena justru dengan menulislah kita memberikan kesempatan pembaca berimajinasi," kata Wendi.

Wendi melanjutkan, "Sebuah 'kucing hitam' dalam teks dapat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda bagi pembacanya. Ini keunggulan yang tidak bisa diberikan oleh video sekalipun."

"Itulah kenapa penikmat suatu novel sering kecewa begitu novel tersebut diadaptasi jadi film. Sebenernya bukan karena filmnya jelek, tapi film itu tidak sesuai dengan imajinasi kita saat membaca novelnya," kata Wendi.

Banyak orang akan menjawab menulis masih penting apapun zamannya. Romansa "karena menulis adalah bekerja untuk keabadian" sastrawan Pramoedya Ananta Toer memang benar adanya.