Kita Ini Menulis untuk Siapa?

Wartawan Tempo 2011 - 2016, Redaktur kumparan 2016 - sekarang. Orang Bandung lulusan Jurnalistik Unpad.
Tulisan dari Rizki Gaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sungguh sembarangan seloroh Rosidi Pratama pada Jumat sore lalu. Di hadapan Pak Dalipin, Rosidi enteng saja bilang ini: "Ah. Tulisan Pak Dalipin terlalu berat."
Rosidi—yang sehari-harinya bekerja mengurusi perangkat lunak—itu lagi bilang alasan kenapa ia enggak pernah baca tulisan Pak Dalipin. Sambil terkekeh, dia juga bilang malah lebih suka baca tulisan-tulisan saya di akun ini.
"Tulisan Gaga lebih gampang dibaca. Lebih receh," kata Rosidi.
Saya seruput dulu kopi di meja kami, lantas merenung.
Hmm, Rosidi tak salah. Dia toh hanya membaca apa yang ia mau.
Pak Dalipin juga tak salah. Dia hanya menulis dengan gayanya—yang seperti biasanya.
Entah bagaimana awalnya namun obrolan kami di kedai kopi itu banyak menyinggung soal tulisan. Argi Harianto, kolega Rosidi, juga punya celetukan:
"Tulisan-tulisan di Editor's Pick kumparan kurang pas dengan gue."
***
Saya pikir celetukan Rosidi dan Argi cuma jadi angin lalu. Toh, sudah lewat sejam dan kami sudah berlalu. Tapi yang namanya Pak Dalipin, suka tiba-tiba saja.
"Memangnya tulisanku terlalu berat?" katanya, setengah masygul.
Saya menarik napas lalu menjawab beliau.
"Pertama, Pak, akan selalu ada komentar 'terlalu' dari pembaca. Terlalu serius. Terlalu dangkal. Terlalu ini. Terlalu itu," kata saya.
Saya melanjutkan, "Kedua, Pak Dalipin tak perlu mengubah gaya tulisan, apalagi untuk orang-orang lain. Untuk Rosidi, misalnya. Pak Dalipin, kan, menulis untuk diri sendiri."
Pak Dalipin nampaknya cukup setuju. "Iya. Aku merasa tulisanku biasa-biasa saja."
Segeralah yang ada di isi kepala Pak Dalipin menyembul. Begini kata dia:
"Persoalan 'kita menulis untuk siapa' adalah problem sehari-hari. Bukan hanya untuk kita orang, namun juga untuk sebuah perusahaan pers. Termasuk kumparan." -Pak Dalipin
Ya, iya. Pak Dalipin itu benar adanya.
Gaya apa yang ditulis? Berat atau ringan atau jenaka atau serius.
Kita yang menentukan mau dibaca siapa. Pasar yang mengabulkan siapa pembacanya.
Sering kali (tanpa kita sadari) kita larut memikirkan untuk siapa kita menulis serta memikirkan macam-macam reaksi yang timbul. Kita memang tak ingin mengecewakan orang lain (dalam konteks ini adalah para pembaca tulisan kita), tapi kalau sampai batal nulis gara-gara ini, ya, yang rugi kita juga.
Padahal, seperti kata Pak Dalipin, menulis tinggal menulis. Kenapa dibikin rumit.
"Menulis dengan jujur. Supaya orang yang membaca bisa melihat bahwa saya memang menulis apa adanya." -Ligwina Hananto
Tulisan ini sesungguhnya sebuah gugatan mencari pencerahan. Semoga apa yang kita cari akan ditulis Pak Dalipin di akunnya. Halo, Pak Dalipin?
