Konten dari Pengguna

Satu Jam di Kokyo Merdeka: Ketika Hujan Memberi Jeda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ardian Tuhuleley tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tampak Etalase Kedai Kokyo
zoom-in-whitePerbesar
Tampak Etalase Kedai Kokyo

Pada pukul 14.22, ketika hujan belum turun dan hari masih menggantung di antara siang dan sore, pintu kaca Kokyo Merdeka bergetar pelan saat saya mendorongnya. Aroma kopi yang baru digiling menyelinap keluar lebih dulu, bercampur dengan udara lembap yang menandai hujan akan segera datang. Jam-jam seperti ini jarang diperhatikan bukan waktu makan siang, belum pula waktu pulang

Etalase yang Tampak Sepi

namun justru di sela inilah sebuah kedai kopi menunjukkan wajah aslinya: sebagai tempat orang-orang berhenti sejenak, menunggu, bekerja, atau sekadar diam tanpa tujuan yang perlu dijelaskan.

Jam segitu selalu terasa ganjil. Bukan lagi jam makan siang, tapi juga belum cukup sore untuk disebut waktu pulang. Jalan raya di depan kedai masih hidup, meski tidak seramai biasanya seperti sedang mengambil napas pendek sebelum kembali sibuk.

Di samping kedai, sebuah klinik tampak ramai. Motor-motor diparkir tergesa, berjejer rapat, menyisakan kesan bahwa waktu di sana berjalan lebih cepat. Sementara di area outdoor Kokyo, tiga orang duduk melingkar di meja bundar. Gelas mereka meninggalkan lingkaran air di permukaan kayu. Salah satu dari mereka memegang rokok yang belum dinyalakan, jarinya mengetuk filter putih sambil tertawa kecil. Sebelum sempat menangkap ceritanya, langkah saya sudah membawa masuk sepenuhnya.

Musik jazz mengalun pelan dari speaker. Seorang pegawai di balik bar mengangguk singkat sambil tetap memutar sendok di gelasnya. Saya memilih duduk di dalam. Tak lama, seorang ibu masuk bersama anaknya. Anak itu menempel di pinggang ibunya, matanya terpaku pada pastry box tatapan yang mengingatkan saya pada masa kecil, ketika etalase roti selalu tampak seperti kotak penuh keajaiban.

Saya menatap ke luar jendela. Langit tampak berat. Daun-daun di pohon seberang mulai miring. Tepat pukul 14.29, hujan turun tanpa aba-aba. Bukan rintik, melainkan deras, seperti air yang ditumpahkan sekaligus.

Ada sesuatu tentang suara hujan yang membuat saya merasa berada di tempat yang tepat. Ia menahan dunia sejenak, memaksa orang untuk melambat.

Pukul 14.33, pintu kembali terbuka. Empat pria berpakaian rapi masuk bersamaan, membawa wangi parfum kantor. Potongan kata “proyek”, “deadline”, dan “rapat” terdengar samar. Mereka mengisi meja besar, membuka laptop, dan dalam hitungan menit, sudut ruangan berubah menjadi kantor darurat.

Di luar, seorang pengendara motor menepi. Gerakannya cekatan saat mengenakan jas hujan—gerakan yang pasti sudah ia ulang ratusan kali.

Beberapa pelanggan datang hanya untuk mengambil pesanan, lalu pergi sebelum hujan makin deras. Yang lain memilih berteduh, menunggu. Waktu di luar terasa tergesa, sementara di dalam, ia melunak.

Pukul 14.40, seorang pegawai datang dari pintu belakang. Rambutnya sedikit basah. “Hujan gede banget,” katanya sambil mengibas tangan. Tawa ringan menyambutnya. Di balik bar, pekerjaan terus berjalan: mengelap alat, menyiapkan pastry, meracik minuman. Seorang barista beberapa kali melakukan taste test mengangkat gelas kecil, mencium, menyesap dengan keseriusan yang tenang. Ia tidak tampak tergesa. Seperti sedang melakukan ritual kecil yang tak bisa dilompati.

Hujan sempat reda di pukul 14.52. Jalanan mulai hidup kembali. Pengendara yang tadi berteduh menyalakan motor satu per satu. Pukul 14.55, sekelompok siswa sekolah melintas ramai, lepas, membawa cerita sekolah yang masih hangat. Mereka lewat seperti sekumpulan burung yang baru dilepas dari sangkar.

Di dalam kedai, justru makin sepi. Seseorang masuk bertanya letak toilet, lalu pergi. Hening kembali mengambil alih. Hujan turun lagi di pukul 15.10, kali ini lebih pelan.

Di pojok ruangan, barista kembali mengangkat gelas kecilnya. Ia memperhatikan warna cairan itu, menyesap lebih lama, lalu mengernyit tipis bukan karena rasa tak enak, melainkan karena sedang menangkap sesuatu yang halus. Ia mencatat, mengangguk kecil, lalu menyesap lagi. Gerakannya khusyuk, hampir seperti doa.

Di luar, beberapa pengendara kembali menepi. Ada yang mengikat jas hujan, ada yang mengelap kaca helm. Semua berhenti sejenak, seolah hujan memberi mereka izin untuk diam.

Saya memegang gelas saya. Uapnya masih naik tipis. Hangatnya merambat ke jari, memberi rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Musik jazz menyatu dengan suara hujan dua percakapan yang tidak saling mengganggu.

Tidak ada pengunjung baru. Pintu tetap tertutup. Dunia di luar melambat, dan untuk sesaat, saya tidak merasa perlu ke mana-mana.

Pukul 15.22, hujan berubah menjadi rintik. Jalan kembali bergerak. Asap knalpot tipis bercampur dengan sisa kelembapan. Di dalam, barista menutup buku catatan, seolah menyelesaikan sesuatu yang penting. Seorang pegawai bersandar sebentar di meja bar, menghela napas pelan.

Saya menyesap sisa kopi. Rasanya masih tinggal, meski hangatnya berkurang. Di luar, pohon di seberang jalan bergerak ringan. Orang-orang kembali ke ritme masing-masing tanpa menyadari bahwa satu jam tadi telah memberi jeda kecil yang jarang didapat.

Ketika saya berdiri dan melangkah ke pintu, hujan tinggal beberapa tetes di kaca. Udara luar terasa lebih segar, seperti baru dibersihkan.

Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada pengumuman penting. Hanya satu jam di sebuah kedai kopi, yang mengingatkan saya pada hal sederhana: bahwa kadang, berhenti sejenak bukan berarti tertinggal. Ia justru cara paling sunyi untuk kembali hadir.

Hari melanjutkan dirinya.

Dan saya juga pelan-pelan.