Konten dari Pengguna

Kesehatan Mental, Tolok Ukur Kepedulian Bersama

Rizky Puspitasari

Rizky Puspitasari

Mahasiswa Politeknik Statistika STIS

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seorang Banyak Terdiam, Gejala Penyakit Mental. Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seorang Banyak Terdiam, Gejala Penyakit Mental. Unsplash

Pada 10 Oktober lalu, diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia. Dan, itu menjadi tolok ukur diprioritaskannya isu ini sebagai sebuah isu global.

Kesehatan mental merupakan isu global dan menjadi trending pencarian di Google Search dan media sosial lainnya bahkan bagaimana cara mengatasi atau menyembuhkan diri dari penyakit mental ini merupakan pembahasan yang kerap mengundang banyak peminat seiring mudahnya akses informasi melalui media sosial.

Kesehatan mental tidak kalah penting dibandingkan kesehatan jasmani. Jika didefinisikan menurut WHO, kesehatan mental berkaitan dengan kondisi kesadaran dalam menghadapi kompleksitas kehidupan, sadar akan kemampuan sehingga mampu untuk menjadi seorang yang produktif, dan ikut andil dalam kelompok masyarakat yang diikuti.

Dengan kata lain, kesehatan mental mencerminkan cara berpikir dan problem solving, mengambil keputusan, dan bersosialisasi. Sama halnya dengan kesehatan jasmani, setiap orang memiliki kesehatan mental yang berbeda. Bahkan dalam agenda pembahasan di lembaga dunia isu kesehatan mental dikategorikan sebagai salah satu human right atau hak asasi manusia.

Perbedaan capaian kesehatan mental dapat dipengaruhi banyak hal, di antaranya gaya hidup, genetik/keturunan, kondisi fisik, lingkungan, dan pengalaman masa lalu. Terlebih dengan pernah adanya pandemi Covid-19, cukup untuk mengguncang mental masyarakat utamanya bagi para penyintas Covid-19.

Kesehatan Mental di Indonesia

Buruknya kesehatan mental masyarakat dapat tercermin dari maraknya kasus bunuh diri. Data yang diambil dari Our World in Data menunjukkan bahwa pada tahun 2019 diperkirakan sekitar nyawa 350 orang per 100 ribu jiwa melayang karena depresi (depressive disorders).

Tidak hanya itu, diperkirakan sebanyak 338 orang per 100 ribu orang melakukan bunuh diri karena mengalami kecemasan berlebih (anxiety disorders).

Sumber data: Our World in Data

Sejak tahun 2017, terlihat bahwa kasus bunuh diri karena depresi mengalami kenaikan sampai tahun 2019. Keputusan seperti itu bisa diambil karena adanya penyakit mental sehingga membuat mereka tidak merasa sejahtera atau bahagia dalam menjalani hidup. Peningkatan kasus bunuh diri ini juga termasuk tinggi di kawasan asia seperti Korea Selatan dan China.

Badan Pusat statistik sejak tahun 2017 sudah mulai mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia melalui survei pengukuran tingkat kebahagiaan (SPTK). Jika kesehatan mental dikaitkan dengan ukuran tingkat kebahagiaan, SPTK mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat dalam sebuah skala dengan ukuran 1-100 poin.

Semakin tinggi nilai poin maka tingkat kebahagiaan masyarakat semakin bahagia. Menurut hasil survei BPS tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia pada tahun 2021 sebesar 71,49 poin,angka ini mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2017 yang hanya sebesar 70,69 poin.

Survei ini mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat dalam tiga dimensi sebagai penyusunnya yaitu dimensi kepuasan hidup, dimensi perasaan atau afeksi dan dimensi makna hidup (meaningfull life).

Jika dilihat dari capaian menurut dimensi, masyarakat Indonesia mencapai tingkat kebahagiaan yang cukup tinggi dalam dimensi kepuasan hidup yaitu sebesar 75,16 dan dalam dimensi makna hidup (meaningfull life) yaitu sebesar 73,12.

Namun dilihat dari dimensi perasaan atau afeksi nilainya cukup rendah yaitu sebesar 65,61. Hal ini tentunya menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia cukup puas dengan kehidupan dilihat dari sisi materi (kepuasan hidupnya) namun belum mencapai dari sisi perasaannya.

Langkah Kecil sebagai Upaya Pencegahan

Ilustrasi Family Time, makan malam bersama keluarga. Foto: Unsplash

Bercermin dari hasil survei di atas perlu diingat bahwa hubungan antara kebahagiaan dan kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga perlu adanya upaya untuk menjaga kesehatan mental. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya:

  • Quality-time. Hal ini bisa dilakukan dengan bincang ringan dengan keluarga maupun teman.

  • Work life balance. Bentuk penerapannya dapat dengan menghindari lembur, pekerjaan selesai tepat waktu (tidak terlalu cepat dan tidak melewati batas yang ditetapkan), waktu istirahat atau libur dimanfaatkan untuk self reward baik dengan nyantai dirumah maupun take a little trip.

  • Pola hidup sehat. Dengan dikonsumsinya makanan yang bergizi dan air yang cukup serta menghindari rokok, alkohol, atau obat-obatan, serta memiliki waktu tidur yang cukup mampu untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental.

Selain upaya yang dilakukan oleh diri sendiri, perlu juga upaya yang melibatkan pemerintah agar membuat program atau kebijakan terkait isu kesehatan mental ini. Gerakan masyarakat (Germas) untuk hal yang positif, seperti penanaman 1.000 pohon, jalan sehat, fun bike, dan kegiatan sosial masyarakat lainnya perlu makin digalakkan mulai dari level lingkungan terkecil seperti RT/RW.

Bagian terpenting dalam mengatasi penyakit mental adalah pemerintah perlu meningkatkan jumlah psikiater di Indonesia. Mengutip dari Kemenkes, rasio psikiater 1 banding 200.000, yang artinya 1 psikiater melayani 200.000 penduduk. Rasio tersebut juga masih jauh dari standar WHO yakni 1 banding 30.000.

Dengan semakin maraknya isu kesehatan mental ini perlu dilakukan sosialisasi atau seminar khusus tentang kesehatan mental ini dan bagaimana perlunya memiliki self love dan menumbuhkannya dengan melibatkan banyak pihak seperti pihak akademisi seperti sekolah dan universitas, kedokteran, dan OPD terkait guna meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai kesehatan mental.

Mari bersama kita dukung upaya pencegahan penyakit kesehatan mental ini dimulai dari diri sendiri dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

_____

Catatan:

Anda bisa mencari bantuan jika mengetahui ada sahabat atau kerabat, termasuk diri anda sendiri, yang memiliki kecenderungan bunuh diri.

Informasi terkait depresi dan isu kesehatan mental bisa diperoleh dengan menghubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat, atau mengontak sejumlah komunitas untuk mendapat pendampingan seperti LSM Jangan Bunuh Diri via email janganbunuhdiri@yahoo.com dan saluran telepon (021) 9696 9293, dan Yayasan Pulih di (021) 78842580.