Konten dari Pengguna
Indonesia di Persimpangan BRICS: Antara Peluang dan Ancaman Keamanan Nasional
28 Oktober 2025 11:18 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Indonesia di Persimpangan BRICS: Antara Peluang dan Ancaman Keamanan Nasional
Keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS membuka peluang ekonomi baru, tapi juga membawa tantangan geopolitik. Apakah Indonesia dapat menjaga kemandirian strategis tanpa terseret rivalitas global?Rizky Ali Mayqihan
Tulisan dari Rizky Ali Mayqihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS (Brazil, Russia, India, China, dan South Africa) menandai babak baru dalam arah politik luar negeri Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai upaya dalam memperluas ruang gerak diplomasi sekaligus memperkuat posisi ekonomi Indonesia di panggung global, terutama di tengah dominasi negara-negara Barat. Namun, di balik peluang ekonomi yang menggiurkan, muncul sebuah pertanyaan yang tak kalah penting seperti, apakah keputusan ini dapat berpotensi menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional Indonesia di tengah rivalitas geopolitik yang semakin memanas?
ADVERTISEMENT
Secara historis, Indonesia selalu menganut prinsip politik luar negeri "bebas aktif", yakni prinsip yang tidak berpihak namun tetap berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Prinsip ini menjadi fondasi diplomasi nasional dari era Soekarno hingga saat ini. Akan tetapi, dalam dinamika dunia multipolar yang semakin dipenuhi ketegangan antara blok Barat (yang dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya) serta blok Timur (yang kini banyak diwakili oleh BRICS+), posisi Indonesia kini menjadi jauh lebih rumit.
Keikutsertaan Indonesia dalam BRICS dapat dilihat sebagai bentuk dukungan/afirmasi terhadap tatanan dunia baru yang lebih multipolar, di mana kekuasaan global tidak lagi terpusat di tangan negara-negara Barat. Meskipun langkah ini mencerminkan keinginan Indonesia untuk menjaga keseimbangan dalam politik global. Namun, langkah tersebut juga berpotensi membawa konsekuensi baru seperti tekanan ekonomi, politik, hingga ancaman siber dari pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu oleh perubahan arah diplomasi Indonesia.
ADVERTISEMENT
Bayang BRICS dalam Rivalitas Blok Global: Antara Otonomi dan Ketergantungan
Masuknya Indonesia ke BRICS memberikan nilai yang strategis bagi Indonesia, baik dari sisi perdagangan, energi, maupun politik internasional. BRICS kini bukan lagi sekadar forum ekonomi, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem geopolitik yang mampu menyaingi dominasi G7. Indonesia tentu melihat peluang besar di dalamnya, mulai dari perluasan pasar ekspor, penguatan kerja sama teknologi, hingga akses terhadap sumber pendanaan alternatif melalui BRICS Bank.
Namun di balik peluang tersebut, terdapat pula dinamika kekuasaan yang tidak sederhana. Dimana dua dari anggotanya, yaitu China dan Russia, tengah berada di garis depan ketegangan dengan negara-negara Barat dalam berbagai isu, mulai dari perang di Ukraina, konflik di Laut Cina Selatan, hingga sanksi ekonomi global. Dengan bergabung dalam organisasi ini, Indonesia berpotensi terseret ke dalam rivalitas yang sulit dihindari, semacam dilema Hobbesian dalam praktik politik luar negeri modern.
ADVERTISEMENT
Dalam sistem internasional yang anarkis sebagaimana dijelaskan oleh Thomas Hobbes, tidak ada otoritas tertinggi yang mampu menjamin keamanan kolektif antarnegara. Masing-masing negara bertindak berdasarkan kepentingan dan rasa takut akan kehilangan kekuasaan. Jika Indonesia tidak hati-hati, maka langkah strategis Indonesia menuju BRICS dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai bentuk dari keberpihakan, yang pada akhirnya berpotensi memicu ketegangan diplomatik dan mengganggu stabilitas kawasan.
Indonesia di Tengah BRICS: Antara Peluang Ekonomi dan Ancaman Keamanan Siber
Keuntungan ekonomi yang dijanjikan oleh BRICS memang tidak dapat diabaikan. Dengan melalui langkah ini, Indonesia memiliki kesempatan dalam memperluas kerja samanya seperti kerja sama energi dengan Rusia, memanfaatkan pasar digital yang luas di Cina, serta memperkuat konektivitas ekonomi dengan India. Meskipun hal tersebut dapat membantu Indonesia dalam memperkuat posisi ekonomi dan meningkatkan konektivitas regional. Namun, kedekatan ini dapat membuka tantangan baru, terutama dalam aspek keamanan siber dan ketergantungan teknologi.
ADVERTISEMENT
Bergabung dengan blok yang memiliki kepentingan teknologi masing-masing membawa potensi kerentanan tersendiri. Seperti resiko pengawasan, spionase digital, serta kebocoran data strategis nasional juga dapat muncul seiring semakin terbukanya arus informasi dan infrastruktur digital lintas negara. Selain itu, ketergantungan pada sistem-sistem pembayaran digital alternatif seperti BRICS Pay atau wacana mata uang bersama juga dapat membuka ruang bagi tekanan politik baru yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kedaulatan ekonomi Indonesia.
Menjaga Keseimbangan dalam Dunia yang Tidak Seimbang
Di tengah pergeseran tatanan dunia yang semakin cepat dan sulit diprediksi ini, posisi Indonesia berada di persimpangan penting antara peluang ekonomi dan tuntutan geopolitik. Sekarang pertanyaan sudah bukan lagi mengenai apakah Indonesia seharusnya bergabung dengan BRICS?, melainkan bagaimana cara Indonesia dapat menjaga kemandirian strategisnya di tengah meningkatnya ketegangan global?. Langkah Indonesia bergabung dengan BRICS seharusnya dibaca sebagai upaya dalam memperkuat posisi tawar Indonesia di panggung internasional, bukan sebagai bentuk keberpihakan pada kubu tertentu.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, Indonesia perlu mempertahankan prinsip politik luar negeri “bebas aktif” nya secara substansial, bukan hanya sekedar simbolik. Artinya, tetap bebas dalam menentukan sikap nasional, sekaligus aktif dalam mendorong kerja sama damai lintas blok. Dalam konteks ini, diplomasi multivektor menjadi kunci dalam memperluas hubungan ke Timur tanpa menutup pintu dialog dengan Barat.
Selain itu, reformasi tata kelola global seperti struktur PBB dan IMF juga tetap menjadi agenda strategis yang dapat diperjuangkan oleh Indonesia bersama BRICS. Namun, perlu di ingat juga bahwa setiap langkah diplomatik perlu diiringi dengan perhitungan yang matang terhadap aspek keamanan nasional, baik di bidang militer, ekonomi, maupun digital.
Di tengah dunia yang semakin multipolar ini, ancaman terhadap keamanan tidak selalu muncul dalam bentuk invasi fisik, tetapi juga melalui ketergantungan strategis serta manipulasi geopolitik yang kini menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi. Indonesia perlu jeli dalam membaca arah zaman, karena tidak semua persekutuan menjanjikan perlindungan, dan tidak semua kemitraan membawa kedamaian.
ADVERTISEMENT

