Konten dari Pengguna

Mahasiswa Politeknik dan Apatisme Politik: Mengapa Mereka Enggan Bicara?

Rofi Nazar Amrikin

Rofi Nazar Amrikin

Mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rofi Nazar Amrikin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Vector Mahasiswa di kelas sibuk dengan laptop, tapi cuek sama poster pemilu kampus di belakangnya. (Sumber: https://chatgpt.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Vector Mahasiswa di kelas sibuk dengan laptop, tapi cuek sama poster pemilu kampus di belakangnya. (Sumber: https://chatgpt.com)

Apatisme Politik Mahasiswa Politeknik: Sebuah Fenomena Serius di Kampus

Kampus sering disebut sebagai miniatur demokrasi. Di sana, mahasiswa belajar bukan hanya soal akademik, tetapi juga bagaimana menyalurkan aspirasi, mengelola organisasi, dan mengawasi kebijakan. Namun kenyataannya, banyak mahasiswa politeknik lebih memilih fokus pada tugas, praktikum, atau proyek daripada ikut dalam dinamika politik kampus. Pemilihan raya mahasiswa yang seharusnya menjadi pesta demokrasi sering kali justru sepi peminat. Padahal, politik kampus tidak semata soal kursi jabatan, melainkan berkaitan dengan kepentingan mahasiswa secara keseluruhan [baca disini].

Fenomena apatisme politik mahasiswa ini bukan sekadar cerita, melainkan telah dibuktikan lewat riset. Studi yang dilakukan Universitas Negeri Semarang (UNNES) menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa memahami arti politik, banyak di antaranya tetap memilih bersikap apatis karena menganggap politik identik dengan kepentingan kelompok dan hal-hal negatif. Penelitian di Gowa bahkan menyebutkan bahwa apatisme muncul karena rendahnya pengetahuan politik, citra politik yang buruk, serta minimnya calon alternatif yang benar-benar dipercaya. Hasil kajian Universitas Palangka Raya juga menegaskan bahwa mayoritas mahasiswa hanya menjadi “penonton” dalam politik kampus. Mereka sekadar ikut pemilu tanpa memahami substansi maupun memiliki kepedulian yang nyata.

Lalu, kenapa fenomena ini begitu kuat di politeknik? Apakah karena beban akademik yang berat sehingga mahasiswa merasa tidak punya waktu untuk ikut berpartisipasi? Ataukah karena mereka melihat politik kampus hanya sebagai ajang rebutan kursi yang tidak memberi dampak langsung pada kehidupan sehari-hari? Apakah mahasiswa politeknik sudah nyaman dengan posisi sebagai “penonton” sehingga tidak merasa perlu untuk bersuara? Pertanyaan-pertanyaan ini patut kita renungkan bersama, sebab jawaban darinya akan menentukan arah masa depan organisasi mahasiswa di kampus vokasi.

Mengapa Mahasiswa Politeknik Lebih Fokus ke Praktikum daripada Politik?

Ada beberapa faktor yang membuat mahasiswa politeknik lebih cenderung abai terhadap politik kampus. Pertama, budaya akademik di politeknik yang praktikal membuat mahasiswa terbiasa disibukkan dengan beban praktikum dan proyek. Politik kampus akhirnya dianggap tidak memberikan dampak langsung terhadap IPK maupun karier. Kedua, literasi politik di kalangan mahasiswa politeknik masih rendah. Banyak yang bahkan tidak mengetahui peran BEM atau himpunan mahasiswa jurusan, apalagi apa manfaatnya bagi kehidupan kampus. Faktor ketiga adalah citra politik yang buruk, baik di level nasional maupun kampus, yang sering diidentikkan dengan konflik dan perebutan kepentingan. Keempat, isu yang diangkat dalam politik kampus sering kali tidak relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Ketika isu yang dibahas terasa jauh dari persoalan sehari-hari, mahasiswa memilih untuk bersikap cuek.

Solusi Membangkitkan Kesadaran Politik Mahasiswa Vokasi

Apatisme ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasinya. Literasi politik yang kontekstual perlu digalakkan, bukan dengan materi berat, tetapi melalui diskusi sederhana mengenai isu-isu yang dekat dengan mahasiswa, seperti biaya kuliah, transparansi anggaran, atau kebijakan kurikulum. Transparansi organisasi mahasiswa juga penting agar mahasiswa merasa punya alasan untuk peduli. Laporan kerja yang dibuka secara rutin dapat membangun kepercayaan sekaligus meningkatkan partisipasi. Selain itu, politik kampus harus menyentuh isu-isu yang relevan dan benar-benar dirasakan oleh mahasiswa, bukan sekadar seremonial atau ajang rebutan jabatan. Kolaborasi dengan lembaga eksternal, misalnya KPU daerah atau organisasi masyarakat sipil, juga bisa menjadi sarana untuk memperkuat kesadaran politik mahasiswa politeknik.

Apatisme politik memang terlihat sepele, tetapi dampaknya besar. Jika mahasiswa terus bersikap acuh, kebijakan kampus bisa berjalan tanpa adanya suara kritis dari mahasiswa itu sendiri. Seperti yang pernah dikatakan Soe Hok Gie, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” Apatisme adalah bentuk menyerah, dan menyerah berarti kehilangan ruang perjuangan. Mahasiswa politeknik tidak harus semuanya menjadi aktivis, tetapi setidaknya jangan biarkan politik kampus menjadi ruang kosong tanpa suara. Pada akhirnya, politik kampus bukan hanya soal perebutan kursi, melainkan tentang masa depan mahasiswa bersama.