Konten dari Pengguna

Makeup Demonstran vs Water Cannon Polisi: Objek Sublim Ideologi di Era Digital

Rolip Saptamaji
Analis Sosial Politik
29 Maret 2025 16:04 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rolip Saptamaji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Bayangin aja dulu, seorang demonstran perempuan pulang setelah selesai demonstrasi dengan wajah berantakan, mirip karakter zombie di Resident Evil tapi versi lokal, rambutnya lepek basah lengkap dengan eyeliner yang luntur kayak sad clown. Tapi di Twitter, @nakaharadz malah share foto selfie dengan makeup yang masih flawless padahal baru dihujani water cannon, bom asap dan gas air mata. “My makeup setelah demo disiram water canon dan kena hujan asap dll wow,” tulisnya. Netizen pun heboh, “Ini pakai foundation merek apa? Kok nggak luntur?” atau “Aparat kalah sama setting spray!”.
Tweet viral makeup anti watercannon @nakahardz
zoom-in-whitePerbesar
Tweet viral makeup anti watercannon @nakahardz
Di era cancel culture dan viral moments, makeup kinclong anti water cannon itu bukan lagi tweet lucu tapi menjadi kritik tajam. Slavoj Žižek, filsuf asal Slovenia, pernah bilang bahwa objek sehari-hari seperti makeup bisa menjadi “sublime object” yang mampu membongkar kebohongan ideologi penguasa. Makeup @nakaharadz dalam tweet viral ini bukan sekadar produk waterproof, melainkan simbol yang menyibak absurditas narasi negara tentang “rasionalitas kekerasan”. Ketika aparat mengklaim water cannon untuk “ketertiban”, demonstran ini malah dijadikan bahan tertawaan lewat tweetnya, “Woi reimburse rambut dong, gw habis nyalon malah disiram water canon!”
ADVERTISEMENT

Ketika Water Cannon Tidak Mampu Melunturkan Complexion Makeup

Negara kerap membangun narasi bahwa represi adalah tindakan “logis” untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Tapi menurut Žižek, ideologi bekerja lewat fantasi yang menutupi kontradiksi. Contohnya? Anggaran miliaran untuk alat keamanan ternyata cuma sanggup merusak tatanan rambut hasil salon tapi tidak mempan untuk makeup yang flawless. “Demo approved no primer no setting spray,” canda @nakaharadz, seolah berkata, “Kalian pake alat mahal cuma buat ngebully makeup kami?”. Dalam analisis terbaru Rentschler & Thrift (2022), estetika di media sosial disebut sebagai “senjata lemah” yang mampu melumpuhkan narasi penguasa. Tweet @nakaharadz memanfaatkan ini dengan jenius. Bukannya mengutuk kekerasan, ia mengubah represi jadi bahan lelucon. Netizen pun ikut menertawakan negara lewat komentar “jgn pake bhs inggris. mrk ga ngerti kak 😿”.
ADVERTISEMENT
Bagi Gen Z, humor bukan sekadar pelarian tapi ekspresi dan cara lain untuk melancarkan kritik. Cara ini berbeda dengan generasi milenial yang berlarian di kandang heroisme dan disrupsi yang serba menegangkan. Menurut Žižek, ini adalah cara “menghadapi yang Real tanpa terjebak di dalamnya”. Ketika negara mengharapkan tangisan atau amarah, yang mereka dapat justru cibiran dengan menertawakan represi, @nakaharadz menolak dikerdilkan sebagai korban pasif. Netizen pun menangkap pesan ini, “Ciwik² bisa tetap dandan cancyii tapi tetep pake otak untuk ikut aksi!” Ini selaras dengan konsep parallax viewnya Žižek bahwa perubahan sudut pandang dapat terjadi ketika korban tidak lagi menjadi objek pasif namun menjadi subjek yang aktif menertawakan penindas. Negara mungkin punya water cannon, tapi Gen Z punya sarkasme yang lebih mematikan.
ADVERTISEMENT
Retweet, like, dan tagar seperti #CabutUUTNI #TolakRUUPolri di media sosial yang mengikuti viralnya tweet tentang makeup anti water cannon yang menembus 2 juta tayangan dan 55 ribu like bukan sekadar angka. Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi digital telah menjadi alat mobilisasi massa yang efektif dalam menyuarakan aspirasi politik dan menciptakan ruang perlawanan alternatif yang kuat melalui platform online. Dean (2023) menyebutnya "solidaritas digital" dengan bentuk perlawanan yang mempermalukan negara di ruang publik. Sementara pemerintah sibuk menghapus grafiti, dan merobek spanduk protes, meme dan kutipan tweet @nakaharadz sudah menyebar seperti viral challenge di tiktok.
Aksi Suara Ibu Indonesia di Sarinah menuntut #CabutUUTNI #TolakRUUPolri
Enemy of an enemy will always be a friend to me mwah mwah 💜”, tulisnya, seolah mengajak warganet bersatu lewat bahasa Gen Z. Ini adalah strategi over-identification ala Žižek yaitu dengan mengikuti logika sistem (konsumerisme) secara berlebihan hingga menyingkap keburukannya. Tuntutan “reimburse salon” yang absurd justru menunjukkan betapa respon negara menghadapi protes dengan kekerasan tak ada bedanya dengan layanan salon yang gagal memuaskan pelanggan.
ADVERTISEMENT

Makeup Anti-Rezim: Estetika sebagai Manifesto Politik

Bagi Gen Z, makeup bukan sekadar urusan kecantikan tapi mampu diubah menjadi kanvas kritik politik. Slavoj Žižek menyebut ini sebagai parallax view, gesekan antara dua realitas yang bertolak belakang, seperti konsumerisme dan perlawanan. Contohnya, ketika @nakaharadz memamerkan makeup tetap kinclong pasca-diserang water cannon, makeupnya yang flawless mengekspos absurditas kekerasan negara. Tuntutan reimburse salon yang terdengar konyol justru menjadi sublime object yang menyibak kontradiksi ideologi penguasa. Di sini, makeup tak hanya simbol estetika, tapi senjata untuk mengacaukan narasi “rasionalitas represi”.
Foto Demonstrasi #IndonesiaGelap dari @NJZBUBBLEGUM
Aksi ini sejalan dengan strategi over-identification Žižek yang mengikuti logika kapitalis secara berlebihan hingga menyingkap keburukannya. Misalnya, tweet “Demo approved no primer no setting spray” yang seolah promosi produk, tapi sebenarnya mengejek aparat yang gagal menghentikan aksi. Humor seperti ini adalah bentuk ideological jouissance atau kenikmatan dalam membongkar kemunafikan sistem. Dengan menertawakan kerusakan makeup yang bukannya mengeluh, malah menolak jadi korban pasif dan mengubah represi jadi bahan roasting.
ADVERTISEMENT
Di era kapitalis lanjut, di mana perlawanan pun bisa dikomodifikasi, parallax view dapat digunakan untuk menjaga kewarasan dan tetap kritis. Parallax view memungkinkannya bermain di dua dunia, konsumen yang paham skincare dan aktivis yang menuntut perubahan. Estetika menjadi manifesto politik, mengubah kekerasan negara jadi bahan tertawaan kolektif. Melalui lensa Žižek, ini bukan pertentangan hitam-putih, melainkan ruang abu-abu di mana makeup complexion dan water cannon bertarung. Hasilnya? Makeup tak lagi sekadar riasan, melainkan senjata sublim yang lebih tajam dari represi.

Enjoy The Strike!

Demonstrasi #TolakRUUPolri #TolakUUTNI 27/3/2025 dari @nakaharadz
Makeup @nakaharadz adalah bukti bahwa di tangan Gen Z, hal remeh bisa jadi senjata. Lewat lensa sublime object of ideology dan Parallax view Žižek, kita melihat bagaimana narasi makeup yang biasanya dianggap apolitis ternyata mampu mengoyak topeng rasionalitas negara. Bagi rezim yang gemar represi, ini mimpi buruk. Generasi ini rupanya tidak lagi gampang kesurupan seperti generasi millenial yang tegang sebelum pengumuman ujian nasional. Generasi ini tak bisa ditaklukkan dengan distraksi berita perselingkuhan pejabat karena mereka memilih fokus sambil menertawakan monster bukannya lari terbirit-birit. Seperti kata netizen dari komentarnya “Panjang umur perempuan yang melawan!” karena di era ini, eyeliner bisa lebih tajam dari water cannon. Nantikan tutorial “Makeup Anti-Rezim” di akun @nakaharadz. Siapa tahu, suatu hari kita bisa klaim pajak skincare untuk biaya revolusi.
ADVERTISEMENT