Penambang Ilegal Hilang di Lahan Galian: Penanda Masyarakat Kurang Sejahtera

Dosen Universitas Andalas dan Peneliti Kajian Gender dan Feminisme
Konten dari Pengguna
8 Agustus 2023 8:32 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Roma Kyo Kae Saniro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Keluarga dan tim SAR gabungan menabur bunga di lubang galian yang memakan 8 pekerja tambang emas. Foto: Dok. Istimewa
ADVERTISEMENT
Beberapa minggu terakhir beredar kabar terkait dengan 8 penambang emas ilegal di lubang galian Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang, Banyumas. Kronologi kejadiannya adalah diawali dengan pelaporan 8 penambang emas yang terjebak di galian tambang emas.
ADVERTISEMENT
Para penambang emas sudah bekerja sejak Selasa, 25 Juli 2023 pukul 20.00 WIB. Namun, dua jam setelah melakukan penggalian, adanya informasi bahwa air sudah mengalir dari lokasi yang ada di sebelahnya.
Pada esok harinya pukul 07.00 WIB, warga melaporkan kejadian tersebut kepada polisi dan kejadian ini diurus oleh Kapolresta Banyumas, Kombes Edy Suranta Sitepu. Setelah mendengar laporan warga, Edy dan tim lainnya, yaitu tim SAR dari gabungan Basarnas, Koramil, dan BPBD Banyumas segara melakukan evakuasi. Pada proses evakuasi ini pun menyulitkan tim karena pelaksanaan evakuasi yang harus terjebak air.
Setelah melakukan usaha evakuasi, nyatanya, upaya pencarian tidak menemukan hasil. Para penambang dinyatakan hilang. Hal tersebut menunjukkan bahwa 8 orang penambang yang terjebak tidak dapat diselamatkan sehingga tim SAR gabungan memutuskan untuk menghentikan operasi pencarian.
ADVERTISEMENT
Operasi pencarian yang berakhir dijadikan sebagai momen untuk pemasangan prasasti atau nisan dengan nama kedelapan korban. Kegiatan terakhir yang dilakukan adalah tabur bunga yang dilakukan oleh petugas, warga, dan keluarga korban yang sebelumnya telah menggelar salat jenazah di lokasi tambang.
Kasus penambangan ilegal bukanlah hal yang baru terjadi di Indonesia. Menurut Kapolresta Banyumas Kombes Edy Suranta Sitepu di lokasi, masyarakat sebenarnya tidak diperbolehkan menambang dengan proses penambangan yang jauh dari kaidah keselamatan dan berbahaya.
Keluarga dan tim SAR gabungan menabur bunga di lubang galian yang memakan 8 pekerja tambang emas. Foto: Dok. Istimewa
Namun, sebenarnya, delapan orang penambang tersebut bekerja dengan pemodal tambang emas lainnya dengan inisial DR (40). Peristiwa tersebut dapat dikatakan miris karena pekerjaan yang riskan dengan bahaya, tetapi harus dilakukan secara ilegal.
Tambang emas memang sangat menggiurkan. Namun, jika pengerjaannya dilakukan secara ilegal, hal tersebut akan memiliki berbagai konsekuensi negatif. Penambangan ilegal berdampak buruk pada kerusakan lingkungan karena penambangan emas ilegal sering kali dilakukan tanpa memperhatikan praktik-praktik penambangan berkelanjutan atau perlindungan lingkungan.
ADVERTISEMENT
Ini dapat menyebabkan deforestasi, pencemaran air, kerusakan habitat alami, dan degradasi tanah. Selain itu, konsekuensi lainnya adalah kondisi proses yang tidak layak bagi para penambang. Meskipun pada pandangan awal penambangan emas ilegal mungkin terlihat sebagai peluang ekonomi bagi warga miskin, dampak jangka panjangnya sering kali merugikan mereka lebih dari pada memberi manfaat.
Kurangnya regulasi dan pengawasan dapat mengakibatkan kecelakaan serius dan masalah kesehatan bagi pekerja. Tidak hanya terkait dengan lingkungan dan keselamatan kerja, penambangan emas ilegal pun sebenarnya melanggar hukum dan peraturan penambangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini dapat merugikan negara dalam hal pendapatan yang seharusnya diperoleh dari pajak dan royalti pertambangan.
Para penambang emas ilegal yang tertarik untuk menjadi penambang emas ilegal karena potensi mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Harga emas yang tinggi bisa menjadi insentif yang kuat. Namun, sebenarnya mereka dihantui risiko dampak negatif yang terkait.
ADVERTISEMENT
Biasanya, para penambang emas ilegal berasal dari masyarakat yang hidup dalam kondisi kemiskinan dan memiliki sedikit akses terhadap peluang ekonomi formal. Mereka sering kali melihat penambangan emas ilegal sebagai peluang untuk mendapatkan pendapatan walaupun hal tersebut berada di luar kerangka hukum.
Selain itu, di beberapa daerah, contohnya perdesaan, penduduk tidak memiliki pilihan pekerjaan formal yang layak mungkin terbatas. Penambangan emas ilegal bisa menjadi satu-satunya opsi yang tersedia bagi warga untuk mencari nafkah.
Seorang penambang emas artisanal memanjat tali di terowongan di tambang emas Bantakokouta pada 2 Februari 2023. Foto: John Wessels/AFP
Tidak hanya alasan yang sudah dipaparkan di atas, penambangan emas ilegal pun sebenarnya menunjukkan bahwa kurangnya pendidikan baik secara formal dan nonformal untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak.
Hal ini mengingat bahwa mungkin ada pihak yang menganggap bahwa penambangan emas ilegal adalah satu-satunya keterampilan yang mereka miliki untuk mencari nafkah. Hal ini pun menunjukkan bahwa pemerintah gagal untuk menyediakan layanan sosial, seperti pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur yang memadai.
ADVERTISEMENT
Hal ini dapat mendorong warga untuk mencari pendapatan dari sektor informal seperti penambangan ilegal. Tentunya, semestinya, pemerintah mampu memberikan hal tersebut sehingga nantinya masyarakat dapat memiliki kemampuan untuk bekerja atau membuka lapangan pekerjaan. Selain itu, masyarakat pun akan menyadari bahayanya penambangan emas ilegal.
Masyarakat perlu diedukasi, khususnya masyarakat di berbagai wilayah yang tertinggal, terdepan, dan terluar terkait dampak lingkungan, kesehatan, dan keselamatan yang dapat merenggut jiwa jika melakukan penambangan emas ilegal.
Sekali lagi, pemerintah harus mampu memberikan kampanye pendidikan dan kesadaran yang luas untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang dampak negatif penambangan emas ilegal.
Lebih jauh, pemerintah pun harus menyoroti alternatif ekonomi yang lebih berkelanjutan dan mengedukasi masyarakat tentang cara-cara untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan cara yang legal. Hal ini bisa berupa pelatihan keterampilan, program bantuan untuk pengembangan usaha kecil, atau program pertanian yang berfokus pada pertanian berkelanjutan.
ADVERTISEMENT