Konten dari Pengguna

Dari Kandang Sapi ke Marketplace: KWT Ceria Belajar Fotografi dan E-Commerce

Rony K Pratama

Rony K Pratama

Dosen Komunikasi Terapan di Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rony K Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Pelatihan di KWT Cerita oleh Tim PKM Komunikasi Terapan UNS
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Pelatihan di KWT Cerita oleh Tim PKM Komunikasi Terapan UNS

Pagi itu, di sebuah rumah berarsitektur limasan cukup besar di Dusun I, Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, terdengar suara riuh para ibu-ibu yang biasanya sibuk dengan urusan kandang dan ladang. Namun, kali ini, mereka tak membicarakan pakan ternak atau hasil panen. Smartphone tengah mereka genggam, pun peraga fotografi produk berjejer di atas meja. Tak ketinggalan, aneka produk hasil olahan limbah ternak yang menjadi kebanggaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Ceria berjejer rapi untuk dipotret.

"Ibu-ibu, siapa yang pernah jualan online?" tanya Siti Umaiyah, S.Sos., M.A., salah satu narasumber sekaligus dosen dari Program Studi D3 Komunikasi Terapan, Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret. Hening sejenak, kemudian beberapa tangan terangkat ragu-ragu. Demikianlah keadaan yang dihadapi KWT Ceria. Sebagai sebuah kelompok tani, mereka punya produk berkualitas tapi terjebak dalam cara pemasaran konvensional.

Selasa, 15 Juli 2025, menjadi titik balik bagi 30 anggota KWT Ceria. Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Tim Riset Group (RG) Kajian Budaya Media, mereka mengikuti pelatihan intensif tentang optimalisasi teknologi komunikasi dan media terkini untuk pemasaran produk. Pelatihan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini menjadi jembatan yang menghubungkan dunia tradisional peternakan dengan era lokapasar digital (digital marketplace).

Dari Word-of-Mouth ke World Wide Web

Permasalahan yang dihadapi KWT Ceria bukanlah hal yang aneh di kalangan UMKM pedesaan. Selama ini, mereka hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut atau word-of-mouth marketing (WOMM). Kendatipun cara ini efektif untuk membangun kepercayaan, jangkauannya sangat terbatas pada lingkaran sosial yang sudah ada.

Menurut KWT Cerita, mereka punya pupuk organik yang bagus, briket biomassa yang ramah lingkungan, tapi sekadar orang sekitar desa yang tahu. Keterbatasan ini makin terasa ketika mereka melihat produk serupa dari daerah lain yang berhasil menembus pasar digital dengan strategi pemasaran yang lebih modern.

Koordinator Tim PKM yang digawangi Muhamad Reznu Firsyawardana, S.Ikom., M.Ikom., menyadari bahwa permasalahan ini bukan sekadar tentang teknologi. Tetapi lebih pada mindset dan pengetahuan. Mereka mengidentifikasi tiga masalah utama: kurang optimalnya exposure promosi, teknologi digital yang belum terintegrasi dengan baik, dan foto produk yang kurang menarik konsumen.

E-Commerce: Membuka Jendela Dunia

Sesi pertama difokuskan pada pemanfaatan platform niaga-el (e-commerce) yang dibawakan oleh Siti Umaiyah. Materi ini menjadi sangat penting karena sesuai dengan perkembangan industri niaga-el Indonesia tengah meroket. Niaga-el di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan pesat, yakni terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah pengguna dan transaksi. Shopee menduduki peringkat teratas dengan profit 2,5 miliar rupiah.

Siti memulai dengan pengenalan berbagai platform niaga-el yang familier di Indonesia: Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan Facebook Marketplace. Ia menjelaskan karakteristik masing-masing platform dan strategi yang tepat untuk setiap jenis produk. "Untuk produk ramah lingkungan seperti punya KWT Ceria, marketplace ini sangat cocok karena banyak konsumen yang peduli lingkungan," jelasnya.

Yang membuat pelatihan ini berbeda adalah pendekatan yang sangat aplikatif. Peserta tak hanya mendengarkan teori. Ia langsung dipandu untuk membuat akun di berbagai niaga-el. Meskipun ada beberapa kendala teknis, seperti kebingungan dengan istilah-istilah teknis atau kesulitan mengingat password, antusiasme peserta tak surut.

Ada anggota KWT yang telah berusia 48 tahun. Ia menuturkan bahwa hari itu rasanya seperti belajar dunia baru.

Smartphone sebagai Senjata Pemasaran

Sesi kedua pelatihan dimulai dengan materi fotografi produk yang dibawakan oleh Muhamad Reznu Firsyawardana. Berbeda dengan pelatihan fotografi pada umumnya, materi ini difokuskan pada pemanfaatan alat-alat sederhana yang sudah dimiliki peserta, terutama smartphone.

"Ibu-ibu tidak perlu kamera mahal. HP yang ada di tangan ibu-ibu sekarang sudah cukup untuk membuat foto produk yang menarik," kata Reznu seraya menunjukkan smartphone miliknya.

Pernyataan ini langsung membuat para peserta merasa lega karena selama ini mereka mengira bahwa fotografi produk memerlukan peralatan yang mahal dan rumit.

Pelatihan fotografi ini menggunakan metode yang sangat praktis. Setelah pemaparan teori singkat tentang pencahayaan, komposisi, dan angle, peserta langsung dibimbing untuk mempraktikkan teknik-teknik tersebut. Reznu membawa peralatan fotografi sederhana yang mudah didapatkan: lampu LED portable, reflektor dari bahan semacam karton putih, dan berbagai properti pendukung.

Yang paling menarik adalah demonstrasi transformasi foto produk. Reznu menunjukkan perbedaan drastis antara foto produk yang diambil dengan cara biasa dan yang menggunakan teknik yang benar. Olahan rumahan yang sebelumnya terlihat "biasa-biasa saja" tiba-tiba tampak premium dan menarik setelah difoto dengan teknik yang tepat.

"Wah, kok bisa ya? Produk yang sama tapi kelihatan beda banget," celetuk salah satu peserta yang terlihat sangat antusias. Reaksi serupa juga terlihat dari peserta lainnya ketika mereka melihat hasil foto produk mereka sendiri menggunakan teknik yang baru dipelajari.

Integrasi yang Mengubah Segalanya

Kekuatan utama pelatihan ini terletak pada integrasinya. Peserta belaja plus. Merka tak hanya belajar fotografi produk atau e-commerce secara terpisah, tetapi bagaimana kedua kecakapan tersebut saling mendukung dalam strategi pemasaran digital yang komprehensif.

Tim RG Kajian Budaya Media berperan sebagai konsultan yang tak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Mereka memahami bahwa transformasi digital sejatinya bukan proses yang instan. Ia memerlukan proses pembelajaran yang berkelanjutan.

Produk unggulan KWT Ceria yang sebelumnya telah dipersiapkan jadi bahan untuk dipotret. Jamak camilan ringkas berwarna-warni di situ. Dengan bimbingan langsung dari kedua narasumber, mereka mulai memotret produk dengan teknik yang baru dipelajari, kemudian langsung mengunggahnya ke platform niaga-el.

Proses ini menciptakan suasana yang sangat interaktif. Para peserta saling berbagi tips, memberikan timbal balik terhadap foto produk teman-temannya, dan bahkan mulai berkolaborasi dalam strategi pemasaran. Kalau produk satu dipasangkan dengan produk lainnya, bisa jadi paket ramah lingkungan yang menarik," usul salah satu peserta. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mulai berpikir secara strategis.

Hasil yang Melampaui Ekspektasi

Evaluasi pasca-pelatihan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pengetahuan peserta tentang fotografi produk dan pemasaran digital meningkat.

Sebelum pelatihan, para peserta hanya memotret produk dengan cara alakadarnya. Umpanya, pemotretan sekadar untuk dokumentasi. Kini, mereka memahami bahwa foto produk adalah aset pemasaran yang sangat berharga. Mereka sudah bisa membedakan antara foto produk yang baik dan yang kurang baik, serta mengetahui cara memperbaikinya.

Kemampuan teknis fotografi produk mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya mereka menggunakan mode otomatis pada smartphone, kini mereka mulai memahami pentingnya pencahayaan, komposisi, dan latar belakang. Beberapa peserta bahkan mulai bereksperimen dengan properti pendukung untuk membuat foto produk yang lebih ciamik.

Yang lebih penting adalah terbentuknya proses marketing digital yang terstruktur. KWT Ceria kini memiliki Standard Operating Procedure (SOP) untuk memotret produk, menulis deskripsi yang menarik, menentukan harga yang kompetitif, hingga strategi promosi di media sosial.

Selain itu, mereka juga memiliki katalog produk digital siap pakai yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan pemasaran.

Inovasi dan Kreativitas yang Bermunculan

Pelatihan ini meningkatkan kemampuan teknis dan memicu kreativitas serta inovasi. Para peserta mulai berpikir out of the box dalam mengembangkan produk dan strategi pemasaran. Mereka mulai mempertimbangkan untuk membuat paket produk, varian baru, atau bahkan kolaborasi dengan kelompok lain.

Beberapa ibu KWT Cerita mulai bereksperimen dengan pengemasan yang lebih menarik untuk produk rumahannya. Ia menyadari bahwa dalam pemasaran daring, kemasan menjadi sangat penting karena menjadi kesan pertama bagi konsumen. "Sekarang saya paham kenapa produk yang sama bisa harganya beda. Ternyata presentasi itu penting," komentarnya.

Beberapa anggota juga mulai belajar tentang content marketing melalui media sosial. Mereka mulai membuat konten edukatif tentang manfaat produk ramah lingkungan, proses produksi yang berkelanjutan, dan tips penggunaan produk. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tak hanya menjual produk, tetapi juga membangun komunitas yang peduli lingkungan.

Replikasi ke Desa Lain

Keberhasilan pelatihan di KWT Ceria digadang menjadi pilot project sehingga dapat direplikasi di desa-desa lain. Tim RG Kajian Budaya Media menyadari bahwa permasalahan yang dihadapi KWT Ceria bukanlah kasus yang terisolasi, melainkan fenomena umum yang dialami banyak UMKM pedesaan.

"Kami berharap model pelatihan ini bisa diadaptasi dan diterapkan di kelompok-kelompok lain. Kuncinya adalah pendekatan yang praktis dan berkelanjutan," kata Rino Andreas, S.Ikom., M.A., ketua tim peneliti Kajian Budaya Media. Tim berkomitmen untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan KWT Ceria, sekaligus menyiapkan modul pelatihan yang dapat digunakan untuk kelompok lain.

Desa Sruni sendiri memiliki potensi yang sangat strategis untuk dijadikan model. Sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah di Kabupaten Boyolali, desa ini menghasilkan limbah ternak dalam jumlah besar. KWT Ceria berhasil mengubah limbah tersebut menjadi produk bernilai ekonomis yang sekaligus ramah lingkungan, sebuah inovasi yang sangat relevan dengan isu keberlanjutan saat ini.

Menuju Masa Depan Digital

Pelatihan yang berlangsung selama tiga jam intensif di pagi hari yang cerah tapi agak dingin itu memang telah berakhir. Akan tetapi, perjalanan KWT Ceria menuju era digital baru saja dimulai. Mereka kini memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan yang terpenting, kepercayaan diri untuk bersaing di pasar digital.

Ke depan, KWT Ceria berencana untuk mengembangkan strategi pemasaran digital yang lebih komprehensif. Mereka diharapkan membentuk pembagian tugas khusus yang menangani pemasaran digital, mengadakan pelatihan rutin untuk anggota baru, dan bahkan berkolaborasi dengan kelompok-kelompok lain untuk memperkuat ekosistem UMKM digital di daerah mereka.

Dari kandang sapi menuju marketplace digital, KWT Ceria membuktikan betapa transformasi digital bukanlah monopoli perusahaan besar atau startup teknologi. Dengan semangat sinau bareng, mereka berhasil mengubah cara pandang tentang pemasaran dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Perjalanan ini menjadi inspirasi bahwa di era digital, batasan geografis dan latar belakang bukanlah penghalang untuk berkembang dan berinovasi.