Konten dari Pengguna

Ketika Siswa SMA Belajar Jadi Wartawan: Antara Kamera, Kode Etik, dan AI

Rony K Pratama

Rony K Pratamaverified-green

Dosen Komunikasi Terapan di Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rony K Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa SMA Negeri 1 Pakem berlatih jadi "Young Media Creators"
zoom-in-whitePerbesar
Siswa SMA Negeri 1 Pakem berlatih jadi "Young Media Creators"

Pagi itu, di ruang kelas SMA Negeri 1 Pakem yang terletak di tepian jalan menuju Kaliurang, dua puluh lima siswa duduk dengan telepon pintar di tangan. Bukan untuk membuka media sosial. Bukan pula sekadar memotret makanan. Mereka sedang belajar jadi wartawan.

Di depan mereka berdiri tiga narasumber dari dua perguruan tinggi, Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Surakarta, membawa materi yang tidak biasa: bagaimana menulis berita yang benar, bagaimana mengambil foto yang bercerita, dan bagaimana menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan nalar kritis. Itulah inti dari program Young Media Creators, sebuah pelatihan jurnalistik terpadu yang digelar pada 2026 di sekolah menengah atas negeri di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Suasana Pelatihan Jurnalistik di SMA Negeri 1 Pakem

Dari Konsumen Menjadi Produsen

Masalah yang melatarbelakangi program ini sebenarnya bukan hal baru. Generasi muda Indonesia tumbuh di tengah banjir informasi digital. Mereka terbiasa mengonsumsi konten, tapi jarang dibekali cara memproduksinya secara bertanggung jawab. Para pengajar dan peneliti di balik program ini melihat celah itu sebagai masalah yang mendesak.

Siswa SMA tidak hanya berinteraksi dengan informasi melalui media sosial, begitu bunyi salah satu temuan dalam artikel ilmiah yang mendasari program ini. Mereka juga memiliki kemampuan untuk mendokumentasikan kegiatan sekolah, mengangkat isu lingkungan sekitar, serta menyampaikan gagasan melalui tulisan, foto, dan video. Potensi itu, bila tidak diarahkan, bisa dengan mudah berbelok menjadi produksi konten yang sensasional, tidak berimbang, atau bahkan menyebarkan misinformasi.

Itulah mengapa literasi jurnalistik menjadi semakin krusial. Prinsip akurasi, keberimbangan, verifikasi, dan etika publikasi bukan monopoli wartawan profesional. Nilai-nilai itu perlu diperkenalkan sejak bangku sekolah.

Program Young Media Creators dirancang dengan pendekatan partisipatif, menempatkan siswa sebagai subjek aktif, bukan sekadar pendengar ceramah. Ada lima tahapan yang ditempuh: persiapan, pelatihan teori, praktik produksi, pendampingan, dan evaluasi. Keseluruhan sesi berlangsung dalam satu hari, dari pukul sembilan pagi hingga siang, dengan tiga materi inti yang masing-masing dibawakan oleh seorang narasumber.

5W+1H dan Godaan Klik

Siti Umaiyah, dosen Komunikasi Terapan Universitas Sebelas Maret, membuka sesi pertama dengan pertanyaan sederhana: apa bedanya konten biasa dengan berita? Sebagian siswa terdiam. Sebagian lain menjawab dengan percaya diri, tapi jawabannya masih kabur.

Di sinilah pelatihan bekerja paling keras. Sebelum mengikuti program, banyak siswa memandang aktivitas membuat konten sebagai proses merekam atau menulis informasi secara spontan, begitu catatan para pelaksana program. Setelah pelatihan, pemahaman itu bergeser. Karya jurnalistik, mereka pelajari, membutuhkan proses pengumpulan data, verifikasi, pemilihan narasumber, dan pertimbangan etika sebelum sebuah tulisan layak tayang.

Unsur 5W+1H, yang di ruang redaksi sudah menjadi hafalan dasar, ternyata masih asing bagi sebagian besar peserta. Setelah diajarkan, siswa mulai memahami bahwa judul berita harus menarik tapi tidak boleh menyesatkan. Teras berita perlu memuat informasi utama secara ringkas. Tubuh berita berfungsi menjelaskan konteks, kutipan, dan detail pendukung.

Godaan untuk mengejar daya tarik klik, yang sudah menjadi semacam norma di media sosial remaja, juga menjadi bahan diskusi. Banyak konten digital remaja cenderung mengutamakan daya tarik visual tanpa memperhatikan kelengkapan informasi. Pelatihan ini mencoba membalik kebiasaan itu, dengan menanamkan bahwa isu sederhana di sekitar sekolah pun bisa menjadi berita yang bermakna: kegiatan ekstrakurikuler, kebersihan lingkungan, prestasi siswa, budaya literasi, bahkan keamanan digital.

AI sebagai Asisten, Bukan Pengganti

Inilah bagian yang paling membedakan Young Media Creators dari pelatihan jurnalistik sekolah pada umumnya. Program ini secara eksplisit mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam proses belajar, dengan satu catatan tegas: AI adalah alat bantu, bukan pengganti.

Siswa dilatih menggunakan AI pada tahap prapenulisan, misalnya untuk merumuskan ide liputan atau menyusun daftar pertanyaan wawancara. AI juga bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur kalimat dan mengecek kelengkapan unsur berita, termasuk aspek SEO yang bertujuan meningkatkan visibilitas dan mendatangkan lalu lintas pembaca yang relevan. Tapi proses inti, yakni observasi langsung, wawancara narasumber, pencatatan data faktual, dan penyuntingan akhir, tetap sepenuhnya ada di tangan siswa.

Pesan yang ditanamkan kepada para peserta cukup keras: keluaran AI tidak selalu benar. Informasi yang dihasilkan mesin bisa mengandung kesalahan, bias, atau ketidaksesuaian konteks. Oleh karena itu, setiap informasi dalam berita harus berasal dari observasi, dokumen resmi, atau pernyataan narasumber yang jelas dan dapat diverifikasi.

Hasilnya terasa langsung. Siswa yang sebelumnya mengalami kesulitan memulai tulisan mendapat dorongan dari contoh kerangka yang dihasilkan AI. Mereka menjadi lebih percaya diri. Berita yang dihasilkan lebih runtut, dengan judul yang lebih jelas, teras berita yang lebih informatif, serta kutipan narasumber yang lebih relevan.

Beberapa prinsip etika penggunaan AI juga ditekankan secara eksplisit: tidak menyalin mentah-mentah hasil mesin, tidak menggunakan AI untuk membuat informasi palsu, tidak memanipulasi kutipan narasumber, tidak membuat gambar atau video yang menyesatkan, serta tetap mencantumkan sumber data jika menggunakan informasi dari luar pengamatan langsung. Siswa juga diperkenalkan dengan regulasi terbaru Dewan Pers mengenai penggunaan AI dalam jurnalistik, yakni Peraturan Dewan Pers Nomor 1/PERATURAN-DP/I/2025 yang terdiri dari delapan bab dan sepuluh pasal.

Beberapa peserta "terbaik" mendapatkan apresiasi dari penyelenggara

Foto yang Bercerita, Video yang Bicara

Yudha Wirawanda dari Universitas Muhammadiyah Surakarta mengisi sesi kedua dengan fotografi jurnalistik. Bagi banyak siswa, memotret adalah hal yang sudah biasa dilakukan setiap hari. Tapi foto jurnalistik, mereka pelajari, bukan sekadar jepret.

Ada perbedaan mendasar antara foto dokumentasi dan foto jurnalistik. Foto dokumentasi cenderung hanya merekam kehadiran, sementara foto jurnalistik berupaya menyampaikan cerita melalui momen yang kuat dan konteks yang jelas. Siswa dilatih memperhatikan objek utama, latar, ekspresi, aktivitas, sudut pengambilan gambar, dan pencahayaan. Prinsip komposisi seperti rule of thirds, leading lines, dan framing diperkenalkan secara praktis.

Aspek etika juga tidak luput. Siswa mendapat pemahaman mengenai izin pemotretan, penghormatan terhadap privasi, larangan manipulasi foto yang mengubah makna peristiwa, serta kehati-hatian dalam memublikasikan gambar orang lain. Ini relevan dengan kebiasaan remaja yang sering membagikan foto di media sosial tanpa mempertimbangkan dampak etisnya.

Sesi ketiga dibawakan oleh Septi Anggita Kriskartika, juga dari Universitas Sebelas Maret, dengan topik jurnalisme video. Di sinilah telepon pintar yang tadi dipegang siswa menemukan fungsi barunya. Mereka belajar menyusun ide liputan, membuat alur cerita, menentukan shot list, dan melakukan wawancara. Teknik dasar pengambilan gambar seperti wide shot, medium shot, close up, cutaway, panning, dan stabilitas gambar diajarkan secara langsung.

Satu hal yang sering dilupakan produser video pemula adalah kualitas audio. Wawancara yang baik tidak hanya membutuhkan gambar yang jelas, tetapi juga suara narasumber yang dapat didengar dengan baik, begitu salah satu poin yang ditekankan dalam sesi ini. Karya video yang dihasilkan peserta masih menunjukkan sejumlah kelemahan teknis, gambar yang kurang stabil, suara yang kurang jelas, alur cerita yang masih sederhana. Tapi itulah poin terpentingnya: mereka merasakan langsung standar teknis produksi media.

Angka di Balik Pelatihan

Program ini diikuti oleh 25 siswa yang dipilih berdasarkan minat terhadap jurnalistik dan media digital, sebagian besar dari ekstrakurikuler jurnalistik sekolah. Sebelum dan sesudah pelatihan, mereka mengisi soal pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman.

Hasilnya menunjukkan peningkatan yang terukur. Rata-rata skor pre-test peserta adalah 35,32 dari skor maksimum 45. Setelah mengikuti pelatihan, rata-rata skor post-test naik menjadi 37,72, atau meningkat 2,40 poin, setara 6,80 persen dari skor awal. Sebanyak 18 peserta atau 72 persen mengalami kenaikan skor, tiga peserta bertahan di angka yang sama, dan empat peserta mengalami penurunan.

Nilai N-Gain rata-rata sebesar 18,34 persen memang menunjukkan peningkatan dalam kategori rendah. Tapi para pelaksana program melihat angka itu dengan cara berbeda. Skor awal peserta sudah relatif tinggi, artinya sebagian besar telah memiliki pemahaman dasar sebelum pelatihan. Dalam kondisi seperti itu, ruang untuk peningkatan skor memang lebih terbatas. Pelatihan bukan membangun dari nol, melainkan memperkuat yang sudah ada.

Standar deviasi kenaikan sebesar 3,91 juga mencerminkan kenyataan yang tidak bisa dihindari: dampak pelatihan tidak seragam untuk semua orang. Beberapa siswa melompat jauh, sebagian lainnya stabil, dan ada yang justru turun. Para pelaksana program menduga faktor teknis, tingkat konsentrasi saat post-test, perbedaan cara menafsirkan soal, atau keterbatasan waktu pengerjaan turut berkontribusi pada variasi ini.

Kolaborasi yang Seharusnya Lebih Banyak

Program Young Media Creators bukan yang pertama dalam ranah pelatihan jurnalistik untuk siswa SMA. Di berbagai daerah, model serupa sudah berjalan. Pelatihan jurnalistik dasar di SMA Negeri 1 Polewali menekankan kombinasi teori dan praktik lapangan. Pelatihan mobile journalism di SMAN 2 Kendari menghasilkan sepuluh video liputan berdurasi satu hingga tiga menit. Pelatihan pembuatan majalah daring di SMA Negeri 16 Samarinda bahkan melahirkan edisi perdana majalah sekolah dalam bentuk cetak dan digital.

Yang membedakan program di Pakem adalah integrasi empat bidang sekaligus dalam satu model pelatihan terpadu: jurnalisme tulis, fotografi jurnalistik, jurnalisme video, dan kecerdasan buatan. Tidak ada program serupa yang diketahui menggabungkan keempat komponen itu secara bersamaan.

Program ini didanai melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Riset Universitas Sebelas Maret Tahun Anggaran 2026, dengan nomor perjanjian penugasan 463/UN27.22/PT.01.03/2026. Keterlibatan perguruan tinggi bukan sekadar simbol. Ia membawa transfer pengetahuan, praktik profesional, dan wawasan akademik yang sulit diperoleh siswa dari lingkungan sekolah semata.

Guru pembina pun menjadi bagian dari perhatian para peneliti. Dalam rekomendasi program, disebutkan bahwa guru perlu mendapatkan pelatihan lanjutan agar mampu mendampingi siswa dalam produksi konten digital dan penggunaan AI secara etis. Tanpa itu, keberlanjutan program akan sulit dijaga setelah tim dari perguruan tinggi pergi.

Melatih Nalar di Era Mesin

Ada sesuatu yang ironis, sekaligus penting, dalam program ini. Di era ketika mesin kecerdasan buatan semakin mampu menghasilkan tulisan, foto, dan video secara otomatis, justru generasi muda diajarkan untuk memahami proses di balik semua itu. Bukan untuk melawan teknologi, tapi untuk tidak dikuasainya.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua tokoh besar jurnalisme dunia, pernah menulis bahwa prinsip utama jurnalisme adalah kebenaran, loyalitas kepada warga, disiplin verifikasi, independensi, dan tanggung jawab publik. Prinsip itu tidak menjadi usang hanya karena ada AI. Justru sebaliknya, nilai-nilai itu semakin relevan ketika mesin bisa diprogramkan untuk memproduksi konten palsu dalam hitungan detik.

Para siswa SMA Negeri 1 Pakem yang pulang siang itu mungkin belum akan menjadi wartawan. Tapi mereka sudah belajar sesuatu yang lebih mendasar: cara membedakan fakta dari opini, cara bertanya dengan benar, cara memilih gambar yang bercerita, dan cara bersikap kritis terhadap apa yang dihasilkan mesin. Di tengah banjir informasi yang tidak pernah surut, itu bukan hal kecil.

Pelatihan satu hari memang tidak bisa mengubah segalanya. Para pelaksana program sendiri mengakui perlunya program lanjutan, pendampingan kelompok kecil, evaluasi berbasis proyek, serta umpan balik individual yang lebih terstruktur. Komunitas media sekolah berbasis literasi digital dan AI adalah impian jangka panjang yang belum terwujud. Tapi setiap perjalanan, kata sebuah pepatah yang sudah terlalu sering dikutip, memang harus dimulai dari langkah pertama.

Dan dua puluh lima siswa itu sudah melangkah.