Konten dari Pengguna

Ketika Wayang Mulai Menceritakan Solo

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rony K Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Wayang Mulai Menceritakan Solo
zoom-in-whitePerbesar

Di sebuah bengkel di Ngabeyan, Kartasura, kulit kerbau yang ditatah biasanya berubah menjadi Arjuna atau Bima. Tahun ini, tangan-tangan di Sanggar Wayang Revolusi mulai menatah wajah yang berbeda. Tokoh-tokoh sejarah Surakarta yang selama ini absen dari kelir akan ikut dihidupkan.

Sanggar pimpinan Wahyu Dunung Raharjo itu menjadi mitra program pengabdian kepada masyarakat (PKM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2026. Tim dosen dari grup riset Historica Edutica mendampingi sanggar mengembangkan lakon wayang bertema sejarah lokal Surakarta, mulai dari Geger Pecinan hingga Perjanjian Giyanti, untuk dijadikan media pembelajaran sejarah di sekolah.

Kegiatan ini diketuai Prof. Dr. Djono, Guru Besar Pendidikan Sejarah UNS, yang bertindak sebagai koordinator. Ia dibantu Dr. Hieronymus Purwanta yang menyusun lakon berbasis sejarah lokal, Dr. Musa Pelu yang menyiapkan panduan pelatihan dan modul pendampingan, serta Hasan Ashari yang menangani koordinasi dengan mitra dan analisis kebutuhan. Rony Kurniawan Pratama dari Sekolah Vokasi UNS menggarap desain komunikasi pementasan dan dokumentasi. Lima mahasiswa Pendidikan Sejarah turut dilibatkan dalam kegiatan lapangan.

Menurut proposal kegiatan, pembelajaran sejarah di sekolah kerap berhenti pada hafalan tanggal dan nama, sehingga kekayaan sejarah lokal jarang sampai ke ruang kelas dalam bentuk yang menarik. Sebagian besar lakon wayang juga masih berputar pada kisah pakem Mahabharata dan Ramayana atau cerita fabel, dan belum mengangkat sejarah Surakarta.

Surakarta menyimpan banyak peristiwa yang jarang diangkat ke panggung, dari Geger Pecinan pada 1740-an, Perjanjian Giyanti 1755 yang membelah Mataram, hingga Perjanjian Salatiga 1757. Tanpa media yang dekat dengan keseharian siswa, peristiwa-peristiwa itu cenderung berhenti sebagai catatan di buku teks dan gagal menumbuhkan kesadaran sejarah pada generasi muda.

Wayang Revolusi sebelumnya telah menggarap lakon bertokoh Soekarno dan menampilkan Cokroaminoto di atas kelir. Namun, sanggar ini masih memasarkan karyanya dari mulut ke mulut dan belum mendaftarkan wayangnya sebagai kekayaan intelektual. Pengembangan lakon sejarah lokal diharapkan membuka pasar baru di lingkungan sekolah sekaligus menambah nilai ekonomi karya pengrajin.

Pendampingan dijalankan melalui diskusi terarah, lokakarya penyusunan naskah, dan pendampingan produksi. Penyusunan lakon berbasis kajian historis-kritis. Sumber sejarah diseleksi dan diuji lebih dulu lewat heuristik dan kritik sumber sebelum cerita ditata, agar lakon tetap setia pada fakta. Tim juga menata visual tokoh dan tata panggung supaya pementasan akrab dengan selera generasi muda.

Bagi sekolah, wayang menawarkan cara mengubah materi sejarah yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret dan dekat dengan keseharian siswa. Pendekatan itu sejalan dengan semangat pembelajaran bermakna yang menautkan pelajaran dengan lingkungan budaya murid. Penyesuaian gaya pementasan menyasar karakteristik generasi Z yang terbiasa dengan tayangan visual bertempo cepat, dengan durasi yang diringkas dan unsur visual yang dikuatkan agar sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan kearifan lokal. Tahap awal kegiatan mencakup identifikasi potensi dan analisis kebutuhan mitra, dilanjutkan lokakarya bersama pemangku kepentingan, dengan evaluasi berkala agar program tetap berlanjut setelah pendampingan usai.

Sanggar Wayang Revolusi berjarak sekitar 14,4 kilometer dari kampus UNS. Program ini menargetkan sejumlah luaran, antara lain dua hingga tiga naskah lakon sejarah lokal yang tervalidasi, desain karakter wayang baru yang diajukan hak kekayaan intelektualnya, video dokumentasi pementasan, serta publikasi ilmiah dan media massa. Pendekatan yang dipakai bersifat bottom-up dan partisipatif, dengan mitra dilibatkan aktif sejak identifikasi kebutuhan hingga produksi. Lewat kolaborasi ini, dosen memindahkan kepakaran metodologi sejarah, sementara pengrajin menjadi mitra kreatif dalam produksi karya.