Lakon yang Belum Sampai ke Solo

Dosen Komunikasi Terapan di Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rony K Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kelir, Arjuna selalu menang. Bima selalu gagah. Para Kurawa selalu kalah di Kurukshetra yang jauh, di tanah yang tidak pernah kita pijak. Saya menonton wayang sejak kecil dan hafal jalan ceritanya di luar kepala. Yang tidak pernah saya temui di balik layar itu adalah Solo sendiri. Geger Pecinan tidak pernah naik panggung. Perjanjian Giyanti tidak punya tokohnya. Kota tempat saya tinggal seperti tidak cukup layak untuk dijadikan lakon.
Padahal sejarah Surakarta penuh bahan. Pemberontakan orang Tionghoa pada 1740-an yang merembet ke seluruh Jawa. Giyanti 1755 yang membelah Mataram jadi dua. Salatiga 1757. Keraton yang bertahan di tengah tekanan kolonial sembari menjaga laku budayanya. Peristiwa-peristiwa itu tersimpan rapi di buku pelajaran, berderet sebagai tanggal dan nama. Murid menghafalnya menjelang ujian, lalu melupakannya seminggu kemudian.
Di situlah persoalannya. Sejarah di sekolah kita kerap berhenti pada fakta. Aman pernah mengingatkan bahwa pembelajaran sejarah di Indonesia terjebak pada orientasi fakta, hafalan tanggal yang gagal menumbuhkan kesadaran. Anak hafal kapan Giyanti ditandatangani tanpa pernah merasa perjanjian itu menyangkut kota tempat ia berangkat sekolah tiap pagi. Sejarah pun mengeras jadi memori kolektif yang usang. Ia ada, tetapi tidak hidup.
Saya kira keterhubungan itu yang hilang. Pengetahuan menempel ketika ia tumbuh dari pengalaman yang dekat. Seorang anak Solo akan lebih cepat paham siasat pecah-belah kolonial bila ia tahu garis pembagian itu pernah melintas di halaman keratonnya sendiri. Sejarah lokal bukan pelengkap kurikulum. Ia pintu masuk.
Menghafal tanggal dan menempati sudut pandang adalah dua hal yang berlainan. Yang pertama menumpuk keterangan. Yang kedua mengajak murid berdiri sejenak di posisi orang yang harus memilih pada zamannya. Wayang piawai melakukan yang kedua. Lewat dialog dan laku tokoh, penonton diajak ikut menimbang keputusan dan ikut merasakan bebannya. Pengalaman semacam itu yang membuat sejarah tinggal lebih lama di kepala.
Wayang sebenarnya sudah lama menyediakan pintu itu. Orang Jawa menyebut wayang sebagai tontonan sekaligus tuntunan. Ada hiburan, ada ajaran, dan keduanya berkelindan di satu layar. Selama berabad-abad wayang jadi cara orang Jawa membicarakan kekuasaan, kesetiaan, dan pengkhianatan tanpa terdengar menggurui. Medium itu masih berdiri sampai hari ini. Yang berhenti justru isinya.
Sebagian besar sanggar tetap memproduksi tokoh pakem. Mahabharata dan Ramayana diulang tanpa henti. Kendati demikian, dunia di sekeliling kelir sudah berubah. Anak-anak yang menonton sekarang tumbuh dengan layar lain di genggaman, dengan tempo cerita yang jauh lebih cepat. Ketika wayang cuma mengulang pakem, perannya sebagai media pendidikan menyusut pelan-pelan. Mutu cerita lama tidak berkurang. Yang melebar adalah jaraknya dengan dunia penonton.
Saya membaca layar wayang dengan cara yang sedikit berbeda. Bayangan di kelir tidak pernah netral. Apa yang ditampilkan dalang menjelma jadi apa yang diingat penonton. Yang tidak pernah naik panggung perlahan menghilang dari ingatan bersama. Selama empat ratus tahun panggung itu diisi raja-raja Hastina, sementara raja-raja kita sendiri menunggu di luar bingkai. Memilih lakon berarti memilih siapa yang berhak dikenang. Tiap kelir menyimpan keputusan diam-diam tentang sejarah siapa yang pantas ditonton.
Generasi yang tumbuh hari ini membaca dunia lewat gambar sebelum lewat teks. Mereka menggulir layar, berhenti pada yang menarik mata, lalu berpindah. Wayang bekerja dengan tata bahasa yang serupa. Ia bercerita lewat siluet, gerak, dan cahaya, bukan lewat paragraf. Justru di titik itu wayang punya peluang yang tidak dimiliki buku teks. Ia bisa menaruh sejarah lokal di ranah visual, tempat anak-anak muda betah berlama-lama. Syaratnya satu, kemasannya mesti berbicara dengan tempo dan selera mereka tanpa menggadaikan ketelitian isinya.
Maka membawa Giyanti ke kelir lebih dari urusan menambah koleksi cerita. Ia mengembalikan kota ke dalam ingatan warganya sendiri. Solo yang selama ini hanya jadi latar bisa naik kelas jadi tokoh.
Tokohnya pun sudah tersedia. Pakubuwana yang menavigasi tekanan Kompeni dari dalam tembok keraton. Pangeran Sambernyawa yang bergerilya bertahun-tahun sebelum namanya tercatat di Salatiga. Para pedagang Tionghoa dan Jawa yang nasibnya terjepit di antara keraton dan benteng kolonial. Mereka manusia, bukan dewa, dengan pertimbangan dan ketakutan yang bisa dimengerti anak zaman sekarang. Di tangan pengrajin, wajah-wajah itu bisa ditatah dan diberi gerak. Di tangan sejarawan, mereka dijaga agar tidak berubah jadi pahlawan kardus.
Solo bukan kota yang kekurangan cerita tentang dirinya. Yang kurang adalah ruang tempat cerita itu ditampilkan kepada generasi penerusnya. Keraton, alun-alun, dan nama-nama kampung menyimpan jejak yang jarang dibacakan ulang. Ketika sekolah menyerahkan tugas mengingat hanya pada buku, ingatan kota menipis tiap angkatan. Wayang menawarkan ruang lain, ruang yang lebih tua dari sekolah dan lebih akrab dengan warganya.
Ada satu hal yang tidak boleh dilewati. Sejarah lokal di panggung mudah tergelincir jadi dongeng. Tokoh dibikin terlalu gagah, lawannya terlalu jahat, peristiwa dibengkokkan demi alur yang enak ditonton. Bila itu yang terjadi, kita hanya menukar satu mitos lama dengan mitos baru. Lakon sejarah menuntut kerja yang lebih sabar. Sumber dicari dan diuji. Tafsir dipertanggungjawabkan. Heuristik dulu, kritik sumber, baru penataan narasi. Tanpa disiplin itu, wayang sejarah lokal justru tampak meyakinkan karena ia keliru dengan rapi.
Di sinilah peran pengrajin dan sejarawan bertemu. Pengrajin memegang tangan yang tahu cara menatah kulit dan menghidupkan tokoh di balik layar. Sejarawan memegang metode yang menjaga cerita tetap setia pada sumber. Keduanya segendang dan sepenarian ketika satu lakon berdiri di atas fakta sekaligus tetap enak ditonton.
Sanggar Wayang Revolusi di Kartasura sudah menapaki jalan itu. Wahyu Dunung Raharjo dan timnya menggarap lakon Soekarno, menghadirkan Cokroaminoto, memajang serdadu Belanda di kelir. Mereka membuktikan tokoh sejarah sanggup hidup di balik layar tanpa kehilangan greget. Yang belum tergarap justru sejarah kota tempat sanggar itu sendiri berdiri. Solo masih menunggu lakonnya.
Saya membayangkan seorang murid SMP di Surakarta menonton Giyanti dimainkan di kelir. Ia menyaksikan Mataram terbelah, mendengar nama-nama tempat yang ia lewati tiap hari, dan untuk pertama kali merasa sejarah itu terjadi di sini, di kotanya, bukan di negeri antah-berantah. Hafalan tanggal berubah jadi pengalaman. Itu yang sukar dicapai buku teks dan mudah dicapai oleh bayangan di layar.
Wayang sudah membuktikan diri sanggup memikul cerita besar selama berabad-abad. Bayangan yang sama bisa memikul Giyanti sebaik ia memikul Bharatayuda. Yang tersisa tinggal pertanyaan siapa yang mau menuliskan lakonnya, dan apakah kita rela memberi sejarah kota ini tempat yang selama ini kita simpan rapi untuk negeri orang lain.
Prof. Dr. Djono
Guru Besar Pendidikan Sejarah, Universitas Sebelas Maret
