Mendorong Literasi Kebencanaan di Sekolah

Dosen Komunikasi Terapan di Universitas Sebelas Maret
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Rony K Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tragedi di Pantai Drini yang menewaskan tiga siswa SMPN 7 Mojokerto dengan satu siswa masih dalam pencarian menyingkap persoalan mendasar ihwal literasi kebencanaan. Selain masalah infrastruktur mitigasi kebencanaan dan sistem komunikasi kebencanaan, peristiwa yang terjadi saat kegiatan outing class ini menguak fakta betapa kesadaran akan potensi bencana di kalangan siswa masih sangat terbatas.
Sembilan siswa yang berhasil selamat kini menghadapi trauma mendalam, termasuk kesedihan orangtua, guru, dan keseluruhan peserta didik. Tentu mereka memerlukan pendampingan psikologis intensif yang seharusnya telah menjadi bagian integral dari protokol penanganan pascabencana.
Video yang beredar di jagat maya soal penyelamatan oleh petugas SAR mendulang atensi positif. Sudah barang tentu infrastruktur mitigasi bencana di kawasan wisata pantai harus memadai. Mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Pengembangan sistem peringatan dini terintegrasi, penambahan rambu peringatan yang informatif, serta penguatan koordinasi antarlembaga dalam penanganan bencana menjadi prioritas untuk membangun sistem keselamatan yang lebih tangguh.
Problemnya, berkaca pada duka yang menyelimuti siswa kita, seberapa jauh sekolah telah membekali siswa dengan pengetahuan komprehensif tentang kebencanaan? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Keterbatasan pemahaman siswa tentang potensi bahaya, minimnya pengetahuan tentang tanda-tanda alam, dan apalagi lemahnya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat menunjukkan adanya kesenjangan dalam sistem pendidikan kita.
Ketiadaan materi kebencanaan dalam kurikulum pendidikan formal mencerminkan paradigma reaktif dalam menghadapi bencana. Sekolah masih terjebak dalam pola pembelajaran konvensional yang mengutamakan capaian akademik standar, sementara kecakapan hidup terkait kebencanaan terabaikan. Padahal, posisi Indonesia dalam cincin api Pasifik (ring of fire) dan karakteristik geografisnya yang kompleks menuntut pemahaman mendalam tentang potensi bencana sejak dini. Ironi ini semakin kentara ketika berbagai negara dengan risiko bencana lebih rendah justru telah mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam sistem pendidikan mereka secara sistematis.
Komunikasi kebencanaan harus diposisikan sebagai elemen vital dalam manajemen risiko bencana. Implementasinya mencakup tiga dimensi utama: pencegahan, penanganan saat kejadian, dan pemulihan pascabencana. Dalam konteks pencegahan, literasi kebencanaan seharusnya menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan. Siswa harus dibekali pemahaman komprehensif tentang potensi bencana dan protokol keselamatan, terutama saat melakukan kegiatan di luar ruangan.
Demikian pula fase pemulihan dan rekonstruksi pascabencana. Ia membutuhkan pendekatan holistik yang menggabungkan aspek fisik dan psikososial. Sistem komunikasi yang efektif diperlukan untuk mengkoordinasikan bantuan, memfasilitasi proses rehabilitasi, dan memastikan informasi mengalir secara akurat ke semua pemangku kepentingan.
Implementasi literasi kebencanaan perlu mencakup tak sekonyong-konyong aspek teoretis, tetapi juga praktik langsung melalui simulasi dan pelatihan. Siswa hendaknya dibekali kemampuan mengidentifikasi potensi bahaya, memahami prosedur evakuasi, dan menguasai teknik penyelamatan diri dasar sebagai bagian dari kompetensi wajib.
Sebenarnya, integrasi materi kebencanaan dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui pendekatan lintas mata pelajaran. Dalam pelajaran geografi, siswa dapat mempelajari karakteristik alam dan potensi bencananya. Mata pelajaran biologi dapat mengajarkan tentang tanda-tanda alam dan ekosistem pesisir. Sementara pendidikan jasmani dapat menjadi wadah pelatihan teknik keselamatan dan penyelamatan diri.
Evaluasi terhadap kejadian serupa di masa lalu mengindikasikan urgensinya transformasi dalam pendekatan komunikasi kebencanaan. Penggunaan teknologi simulasi, pengembangan modul interaktif, dan pelibatan praktisi kebencanaan dalam proses pembelajaran dapat menciptakan pemahaman yang lebih mendalam (deep learning). Bukankah yang terakhir ini seirama dengan wacana belajar mendalam dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti?
Tragedi Pantai Drini menjadi cermin bagi dunia pendidikan kita. Mengapa kesadaran akan kebencanaan belum menjadi prioritas dalam pembentukan karakter siswa? Bukankah pemahaman tentang keselamatan diri seharusnya menjadi bekal dasar setiap peserta didik?
Momentum tragedi ini harus menjadi titik balik dalam sistem pendidikan kita. Literasi kebencanaan bukan sekadar tambahan dalam kurikulum, melainkan kebutuhan fundamental yang akan menentukan keselamatan generasi mendatang. Hanya dengan pemahaman yang mendalam dan kesiapsiagaan yang matang, tragedi serupa dapat dihindari di masa depan.
Rony K. Pratama
Dosen Komunikasi Terapan, Universitas Sebelas Maret
