Konten dari Pengguna

Panen Raya di Kalisuci, Profesor Sutrisna Wibawa Rintis Kebun "Cerdas Air"

Rony K Pratama

Rony K Pratamaverified-green

Dosen Komunikasi Terapan di Universitas Sebelas Maret

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rony K Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Panen Raya di Kalisuci, Profesor Sutrisna Wibawa Rintis Kebun "Cerdas Air"
zoom-in-whitePerbesar

Sismono La Ode

Kekurangan air kerap menjadi masalah Gunungkidul dalam mengembangkan pertanian. Bersama warga Kalisuci Semanu, Profesor Sutrisna Wibawa mengembangkan kebun cerdas air.

Kebun yang ditanami beragam tanaman mulai dari padi, sawi, selada, hingga lidah buaya ini, disebut cerdas air karena mampu menyesuaikan keadaan air Gunungkidul. Jika kemarau terik, maka air yang digunakan sedikit. Sedangkan jika hujan deras dan lembab, maka ia akan menyerap air cukup banyak.

"Inilah yang disebut tanaman cerdas air, dan eksekusinya cepat sekali. Ide yang saya cetuskan beberapa bulan lalu, ditindaklanjuti oleh Pak Wagiyo (pengelola Gabungan Kelompok Tani di Semanu), dan kini sudah panen dengan hasil yang luar biasa," ungkap Sutrisna didampingi puluhan ibu-ibu petani.

Murah dan Mudah Dibuat

Sistem kebun cerdas air ini tidaklah rumit. Kuncinya adalah memanfaatkan air yang ada dengan seoptimal mungkin. Sehingga kebun cerdas ala Sutrisna ini memanfaatkan terpal sebagai alas tanah.

Dengan terpal, maka air yang dialirkan ke tanaman tidak meresap sampai dalam tanah. Dibatasi mengairi tanah yang menjadi media tumbuh tanaman. Sedangkan ketika musim penghujan, air tidak menggenagi kebun tapi mengalir ke ujung terpal.

"Inilah yang kita sebut bersama Pak Wagiyo sebagai kebun cerdas. Selama ini solusi kita selalu terbatas pada mencari air. Padahal inovasi bisa dilakukan di segala bidang, termasuk cara bertanamnya," ungkap Sutrisna.

Wagiyo selaku Tokoh Gapoktan juga mengungkapkan bahwa konsep kebun cerdas ala Sutrisna cocok dengan konteks tanah Gunungkidul. Yang mana memiliki tingkat porositas (kapur) tinggi, sesuai dengan status Gunungkidul sebagai kawasan karst.

"Artinya tanah Gunungkidul itu memang berongga, kering, dan kalau kemasukan air akan menyerap. Dengan kita batasi terpal antara tanah yang menjadi media tanam, maka air digunakan secara optimal untuk tanaman," ungkap Wagiyo

Bukti Nyata untuk Pertanian Gunungkidul

Profesor Sutrisna Wibawa berkomitmen mengembangkan kebun cerdas ini ke daerah lain di penjuru Gunungkidul. Melalui kebun percontohan yang berhasil di Kalisuci, ia menunjukkan bahwa gagasannya dapat diaplikasikan sebagai karya nyata yang menyejahterakan masyarakat.

Bila diberi amanah sebagai kepala daerah, ia juga memastikan bahwa program ini tak akan menyasar Gapoktan atau perwakilan daerah saja, tapi setiap petani dan pemilik tanah di Gunungkidul.

Kolaborasi dengan universitas dalam bentuk program "kampus desa", dimana perguruan tinggi hadir untuk membantu masyarakat, juga akan mendukung program ini dalam bentuk pelatihan dan pendampingan teknis.

"Terlebih, caranya mudah dan murah. Tinggal diberi terpal dan dirawat secara telaten. Saya berkomitmen untuk menghadirkan pertanian model ini ke semua petani, tidak hanya tiap desa tapi tiap keluarga," pungkas Sutrisna.