Mimpi Indah Semalam Sudah Selesai, Leicester

Selamat datang di dunia nyata, Leicester City… Mimpi indah semalam sudah selesai.
Belum sampai setahun sejak Leicester tampil mengejutkan Premier League. Sebuah cerita yang indah: tim semenjana yang tidak berfoya-foya membelanjakan uang tiba-tiba saja nangkring di puncak klasemen.
Di bawah mereka: Arsenal, Tottenham Hotspur, Manchester City, Manchester United… dan Chelsea jauh lebih di bawah lagi. Ada yang terkejut, ada yang senang dan menganggap, ini bagus untuk kompetisi karena tidak melulu didominasi tim yang itu-itu saja.
Gaya main Leicester sederhana. Tidak sampai harus membuat rumus yang memenuhi papan tulis. Manajer mereka, Claudio Ranieri, cukup memasang formasi 4-4-2 dengan dua gelandang pekerja keras di tengah, N’Golo Kante dan Danny Drinkwater.
Kante bekerja pada ruang di antara lini belakang dan lini tengah. Dialah yang pertama kali menghalau tiap kali ada bola di area tersebut. Sementara Drinkwater adalah penyeimbang.
Di kedua sayap, ada Riyad Mahrez dan Marc Albrighton. Jika Mahrez adalah tipikal sayap gesit dengan segudang trik, Albrighton kerap memanjakan pemain-pemain di lini depan dengan umpan silangnya.
Susunan pemain ini disempurnakan oleh duet Jamie Vardy dan Shinji Okazaki di depan. Keduanya bukan sekadar pencetak gol, tetapi juga pengganggu yang piawai. Dari keduanya-lah kerja bertahan Leicester bermula.
Tiap kali ada bek lawan yang menguasai bola, Vardy dan Okazaki akan langsung menyerbunya. Jika si bek kagok, habislah sudah. Maka, jangan heran jika melihat banyak peluang Leicester musim lalu berawal dari terebutnya bola dari kaki pemain belakang.
Tentu, Leicester tetap butuh protagonis. Selain Ranieri sebagai manajer, dan juga Kante, masih ada Vardy dan Mahrez yang tampil sebagai jagoan. Mari kita lihat catatan statistik mereka.
Musim lalu, dari 20 kali tampil, Mahrez mencetak 13 gol dan menyumbang 7 assist. Di luar itu, Mahrez juga mengkreasikan 38 peluang. Bagaimana dengan Vardy? Musim lalu, dalam 19 penampilan, Vardy bisa mencetak 15 gol, menyumbang 3 assist, serta mengkreasikan 21 peluang.
Musim ini, keduanya mengalami penurunan.
Dari 20 penampilan musim ini, Mahrez baru mencetak 3 gol dan menyumbang 2 assist. Sementara Vardy, dari 19 penampilan, baru mencetak 5 gol dan menyumbang 2 assist.
Melihat catatan Vardy, barangkali Arsenal bersyukur tidak jadi mengontraknya pada musim panas lalu.
Menurunnya performa dua jagoan utama The Foxes juga diperparah dengan tidak adanya pengganti sepadan untuk Kante. Tanpa Kante, Ranieri sudah berusaha mendatangkan Nampalys Mendy. Namun, tidak berhasil. Di bursa transfer musim dingin, ia kemudian mendatangkan Wilfred Ndidi.
Total, ada dana sebesar 30 juta poundsterling untuk menggaet Mendy dan Ndidi, nyaris menutupi nilai transfer Kante ke Chelsea yang mencapai angka 32 juta pounds.
Tanpa ada gelandang bertahan mumpuni, lini belakang Leicester terekspos dengan vulgarnya. Duet Robert Huth dan Wes Morgan tidak tampak sekokoh musim lalu. Morgan malah sering membuat kesalahan dan dikadali oleh pemain-pemain yang lebih cepat daripada dirinya.
Total, sudah 37 gol bersarang di gawang Leicester hanya dalam 22 pertandingan. Musim lalu, mereka hanya kebobolan 36 gol dalam 38 pertandingan.
Minggu (22/1/2017) malam WIB, Leicester dilumat Southampton 0-3. Ini membuat mereka berdiri tidak jauh dari jurang degradasi. Poin 21 yang dimiliki Leicester hanya berjarak lima poin dari Crystal Palace yang menempati urutan ke-18.
Mimpi indah sudah selesai.
Meski begitu, Ranieri membela diri: target Leicester musim ini hanya sekadar mengumpulkan 40 poin. Dan target itu tidak berubah.
“Penting untuk mencapai target itu sesegera mungkin,” kata Ranieri di ESPNFC.
