Konten dari Pengguna

The Cokroaminoto Effect: Satu Mentor, Banyak Ideologi

Nurus Syamsi

Nurus Syamsi

Aktivis Politik dan Demokrasi, Pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jawa Timur Periode 2021-2023 & Periode 2024-2026. Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur Periode 2021-2025.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurus Syamsi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: HOS Cokroaminoto. Sumber: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: HOS Cokroaminoto. Sumber: ChatGPT

Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto (1882–1934) adalah salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia yang paling berpengaruh. Ia dikenal sebagai "Guru Bangsa" karena berhasil mendidik murid-murid yang kelak menjadi pemimpin dengan spektrum ideologi sangat beragam mulai dari nasionalis sekuler (Soekarno), sosialis-komunis (Semaun dan Alimin), hingga Islamis (Kartosuwiryo).

Fenomena ini menarik untuk dikaji dari perspektif pedagogi kritis, kepemimpinan transformasional, dan dinamika pergerakan nasional awal abad ke-20. Diantara faktor-faktor keberhasilan Cokroaminoto dalam mendidik murid-muridnya ialah karena Cokroaminoto menerapkan metode pendidikan yang tidak indoktrinatif, melainkan mendorong pemikiran kritis.

Sebagai pemimpin Sarekat Islam (SI), ia menekankan pentingnya analisis sosial, keadilan ekonomi, dan kemerdekaan politik. Murid-muridnya didorong untuk membaca pemikiran global mulai dari Marxisme, Pan-Islamisme, hingga nasionalisme Barat. Menurut McVey (1965) dalam The Rise of Indonesian Communism, diskusi di rumah Cokroaminoto bersifat terbuka, di mana berbagai ideologi diperdebatkan tanpa tekanan dogmatis.

Pendekatan Cokroaminoto ini mirip dengan konsep "pendidikan yang memanusiawikan", di mana siswa diajak memahami realitas sosial untuk kemudian mengambil sikap (Freire, 1970). Di sisi lain, Cokroaminoto sendiri merupakan pemimpin karismatik yang mampu menyatukan berbagai kelompok. Ia tidak memaksakan ideologi tunggal, tetapi menekankan perlawanan terhadap kolonialisme sebagai tujuan bersama.

Selain itu, kharismanya yang kuat juga turut menjadi faktor pendukung. Menurut Max Weber kharisma pemimpin dapat menjadi perekat bagi pengikut dengan beragam latar belakang (Weber, 1947). Cokroaminoto menggunakan kharismanya untuk membangun kohesivitas tanpa menghilangkan keragaman pemikiran.

Karagaman tersebut turut berkembang pesat karena pada era 1910–1930-an adalah periode kebangkitan ideologi global (komunisme, nasionalisme, Pan-Islamisme). Cokroaminoto kemudian membuka ruang bagi murid-muridnya untuk mengeksplorasi semua arus pemikiran ini. Shiraishi (1990) dalam An Age in Motion, Sarekat Islam pada masa Cokroaminoto adalah wadah perdebatan intens antara kubu Islam, sosialis, dan nasionalis.

Ini dapat terjadi, karena Cokroaminoto lebih menekankan semangat anti-kolonial dan keadilan sosial daripada keseragaman ideologis. Hal ini membuat murid-muridnya mengembangkan pandangan berbeda tetapi tetap berakar pada semangat yang sama. Contohnya: Soekarno mengambil nasionalisme sekuler, Kartosuwiryo mengembangkan Islam radikal (Darul Islam), sementara Semaun beralih ke komunisme.

Namun meskipun berhasil melahirkan pemimpin besar, pendekatan inklusif Cokroaminoto juga memiliki beberapa kelemahan seperti berakibatnya polarisasi pada murid-muridnya dimana perbedaan ideologi akhirnya menyebabkan konflik (misalnya, pecahnya SI Merah dan SI Putih).

Selain itu, kritik dari kaum ideologis juga sering terjadi dimana kelompok Islamis seringkali menganggap Cokroaminoto terlalu toleran terhadap Marxisme. Sementara kelompok kiri menganggapnya tidak revolusioner.

Meski demikian, Cokroaminoto tetaplah contoh langka seorang guru yang berhasil mencetak pemimpin dengan spektrum ideologi luas. Pelajaran dari Cokroaminoto relevan hingga hari ini, di mana pendidikan seharusnya tidak hanya mengindoktrinasi, tetapi membekali siswa dengan kemampuan berpikir mandiri dalam kerangka nilai-nilai universal seperti keadilan dan kebebasan.