Hadis Qudsi: Pengertian, Contoh, dan Perbedaannya dengan Hadis Nabawi
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hadis Qudsi sering menjadi pembahasan menarik di tengah masyarakat muslim. Banyak yang bertanya tentang makna, peran, dan perbedaannya dengan hadis nabawi. Pembahasan ini penting untuk membantu memahami sumber ajaran Islam secara lebih utuh.
Pengertian Hadis Qudsi
Memahami hadis qudsi perlu dimulai dengan mengenali definisinya secara jelas. Istilah ini memiliki makna khusus dalam khazanah keilmuan Islam dan sering kali menjadi pembeda dari hadis-hadis lain.
Menurut buku Shahih Hadits Qudsi (2020) oleh Dr. Abu Hafizhah Irfan, hadis qudsi adalah sabda Rasulullah SAW yang maknanya berasal dari Allah SWT, sedangkan lafalnya dari Nabi Muhammad SAW. Hadis ini menempati posisi di antara Al Quran dan hadis nabawi. Dengan kata lain, hadis qudsi bukan bagian dari Al Quran, namun memiliki kedudukan istimewa karena isinya langsung dari Allah, disampaikan dengan redaksi Nabi.
Karakteristik Hadis Qudsi
Hadis qudsi memiliki ciri-ciri utama, di antaranya makna berasal dari Allah, lafalnya disusun oleh Nabi Muhammad SAW, dan tidak dibacakan dalam salat seperti Al Quran. Hadis ini juga tidak memiliki hukum mutawatir seperti Al Quran. Selain itu, hadis qudsi biasanya diawali dengan ungkapan seperti “Allah berfirman” atau “Rasulullah bersabda atas nama Allah”.
Beberapa hadis qudsi shahih tercatat dalam berbagai kitab dan menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh ini seringkali memuat pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan Allah.
Dalam Shahih Hadits Qudsi Jilid 1, disebutkan contoh hadis qudsi berikut: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” Selain itu, terdapat hadis qudsi tentang ampunan Allah, “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu walaupun dosamu sebesar langit.” Pesan-pesan ini menegaskan kasih sayang dan keadilan Allah kepada manusia.
Hadis qudsi menyampaikan pesan moral dan spiritual yang mendalam. Pesan utamanya sering kali terkait dengan pengampunan, keadilan, atau larangan menzalimi sesama. Selain itu, hadis qudsi menjadi pengingat bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya dan selalu membuka pintu taubat. Melalui hadis ini, umat Islam diajak untuk memelihara hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia.
Perbedaan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi
Banyak orang mungkin masih bingung membedakan hadis qudsi dan hadis nabawi. Keduanya memang sama-sama menjadi sumber ajaran Islam, namun ada beberapa hal mendasar yang membedakan keduanya.
Sebagaimana dijelaskan Dr. Abu Hafizhah Irfan dalam Shahih Hadits Qudsi Jilid 2, perbedaan utama antara hadis qudsi dan nabawi adalah asal muasal lafal dan maknanya. Pada hadis qudsi, makna berasal dari Allah dan lafal dari Nabi Muhammad SAW. Sedangkan hadis nabawi, baik lafal maupun makna berasal dari Nabi sendiri. Dengan demikian, hadis nabawi lebih menekankan pada penjelasan dan petunjuk yang disampaikan langsung oleh Rasulullah berdasarkan wahyu atau pengalaman pribadinya.
Dalam hal ini, Hadis qudsi memiliki posisi yang istimewa karena isinya merupakan firman Allah, namun tidak setingkat dengan Alquran. Sementara itu, hadis nabawi lebih berfokus pada penjelasan syariat, akhlak, dan tata cara ibadah. Dalam tradisi keilmuan Islam, keduanya menjadi rujukan penting, namun dengan fungsi yang berbeda. Hadis qudsi lebih banyak digunakan untuk memperkuat pemahaman spiritual dan moral.
Reviwed by Doel Rohim S.Hum