Siapa Jafar bin Abi Thalib? Penduduk Surga yang Bersayap
Kumpulan artikel yang membahas seputar agama Islam.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Kajian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jafar bin Abi Thalib merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Ia dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki keberanian luar biasa dan keteguhan iman yang patut diteladani. Gelar Jafar Thayyar atau Jafar yang bersayap melekat pada dirinya karena Allah mengganti kedua tangannya yang terpotong dalam pertempuran dengan sepasang sayap di surga.
Kisah hidup Jafar penuh dengan pengorbanan untuk Islam, mulai dari memimpin hijrah ke Habasyah hingga gugur sebagai syahid di medan perang. Mengenali sosoknya dapat memberi pelajaran berharga tentang keimanan, kepemimpinan, dan pengorbanan dalam menegakkan agama Allah.
Biografi dan Nasab Jafar bin Abi Thalib
Jafar bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim adalah sepupu Rasulullah SAW dari keluarga Bani Hasyim. Ia merupakan kakak kandung Ali bin Abi Thalib dan memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW.
Menurut buku Jafar bin Abi Thalib: Penduduk Surga yang Bersayap karya Ustadz Abu Faiz Sholahuddin Bin Mudasim Tahun 2013, Jafar memiliki kemiripan fisik dan akhlak dengan Rasulullah SAW. Kemiripan ini membuat beliau sangat dicintai oleh Nabi Muhammad.
Jafar masuk Islam pada masa awal dakwah di Makkah. Ia termasuk dalam barisan Muslim pertama yang harus menghadapi siksaan dan tekanan dari kaum Quraisy. Meski demikian, keimanannya tidak pernah goyah.
Ia menikah dengan Asma binti Umais, seorang perempuan salehah yang juga masuk Islam sejak dini. Dari pernikahan tersebut, Jafar dikaruniai beberapa anak yang kemudian menjadi generasi penerus keluarga mulia ini.
Jafar dikenal memiliki sifat dermawan, terutama kepada orang-orang miskin. Kepedulian sosialnya begitu tinggi sehingga ia selalu berusaha membantu kaum yang membutuhkan. Akhlaknya yang luhur menjadikan dirinya sosok yang dihormati di kalangan sahabat.
Hijrah ke Habasyah dan Peran Strategisnya
Ketika tekanan dan siksaan dari kaum Quraisy terhadap umat Islam semakin keras, Rasulullah SAW memerintahkan sebagian sahabat untuk hijrah ke Habasyah. Negeri tersebut dipimpin oleh Raja Najasyi yang dikenal adil dan bijaksana. Jafar bin Abi Thalib ditunjuk sebagai pemimpin dan juru bicara kaum muslimin dalam hijrah tersebut.
Sesampainya di Habasyah, kaum Quraisy mengirim utusan untuk meminta Najasyi mengusir kaum muslimin. Dalam sidang di hadapan raja, Jafar tampil dengan argumen yang brilian. Ia menjelaskan kondisi masyarakat Arab sebelum Islam dengan kalimat yang sangat menyentuh.
Jafar berkata, Wahai Raja, kami adalah kaum yang hidup dalam kejahiliyaan, menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan perbuatan keji, memutus tali silaturahmi, dan berbuat buruk kepada tetangga. Yang kuat memakan yang lemah. Hingga Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami sendiri yang kami ketahui kejujuran, amanah, dan kesuciannya.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Jafar membacakan sebagian ayat dari Surah Maryam di hadapan Raja Najasyi. Bacaan tersebut membuat raja dan para pendeta menangis karena keindahan dan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Akhirnya, Najasyi memberikan perlindungan penuh kepada kaum muslimin.
Jafar dan rombongannya tinggal di Habasyah selama kurang lebih 15 tahun. Mereka baru kembali ke Madinah setelah kondisi umat Islam sudah kuat dan aman.
Kesyahidan di Perang Mutah dan Gelar Penduduk Surga yang Bersayap
Pada tahun 8 Hijriyah, terjadi Perang Mutah antara pasukan Muslim dengan pasukan Romawi yang jumlahnya jauh lebih besar. Rasulullah SAW menunjuk tiga komandan secara berurutan, yaitu Zaid bin Haritsah, Jafar bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah.
Dalam pertempuran yang sengit, Zaid bin Haritsah gugur terlebih dahulu. Kepemimpinan kemudian beralih kepada Jafar. Ia mengambil bendera Islam dengan tangan kanannya dan terus maju ke medan perang dengan penuh keberanian.
Saat tangan kanannya terpotong, ia segera mengambil bendera dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya juga terpotong, Jafar memeluk bendera Islam dengan kedua bahunya hingga akhirnya gugur sebagai syahid.
Rasulullah SAW yang berada di Madinah menerima kabar kesyahidan Jafar melalui wahyu. Beliau bersabda kepada para sahabat bahwa Allah telah mengganti kedua tangan Jafar dengan dua sayap untuk terbang bersama para malaikat di dalam surga. Sejak saat itu, Jafar diberi gelar Jafar Thayyar yang berarti Jafar yang bersayap.
Rasulullah SAW sangat bersedih atas wafatnya Jafar. Beliau bahkan menangis dan mendatangi keluarga Jafar untuk menyampaikan berita duka tersebut. Kesedihan mendalam ini menunjukkan betapa besar cinta dan penghargaan Nabi Muhammad terhadap sepupunya.
Warisan spiritual yang ditinggalkan Jafar bin Abi Thalib sangat besar. Keteguhan iman, keberanian di medan perang, kepemimpinan yang bijak, dan pengorbanan tanpa pamrih menjadi teladan bagi seluruh umat Islam hingga akhir zaman.
Revewed: Doel Rohim, S.Hum.