Konten dari Pengguna

Aktualisasi Diri: Pengertian dan Peranannya dalam Psikologi

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Aktualisasi Diri. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Aktualisasi Diri. Gambar: Pexels.

Aktualisasi diri menjadi pembahasan penting dalam pengembangan potensi manusia. Istilah ini sering dikaitkan dengan upaya seseorang untuk mencapai versi terbaik dari dirinya sendiri. Dalam psikologi, konsep aktualisasi diri digunakan untuk memahami proses tumbuh kembang individu secara optimal dan seimbang.

Pengertian Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri merupakan proses seseorang dalam mewujudkan segala potensi positif yang dimilikinya.

Definisi Aktualisasi Diri

Menurut Mohamat Hadori dalam artikel Aktualisasi-Diri (Self-Actualization); Sebuah Manifestasi Puncak Potensi Individu Berkepribadian Sehat (2015), untuk mencapai aktualisasi-diri, manusia harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan tingkat dasarnya terlebih dahulu, seperti rasa lapar, rasa aman, rasa dimiliki-dicintai, dan dihargai (Hadori, 2015, mengutip Feist & Feist, 2006).

Individu yang telah sampai pada tingkatan aktualisasi-diri (self-actualization) adalah individu yang telah bergerak maju melewati hierarki kebutuhan (hierarchy of needs), memegang erat-erat B-values atau metamotivation, bebas dari metapatologi (metapathology), dan memenuhi kebutuhan untuk bertumbuh, berkembang, sesuai dengan seluruh potensi yang dimiliki (Hadori, 2015).

Proses Menuju Aktualisasi Diri

Perjalanan menuju aktualisasi diri berlangsung bertahap melalui lima hierarki kebutuhan yang tersusun dari yang paling kuat hingga paling lemah. Lima kebutuhan ini juga merupakan kebutuhan yang bercirikan daya juang atau motivasi (Hadori, 2015, mengutip Feist & Feist, 2006). Hierarki ini mencakup: (1) kebutuhan fisiologis (physiological needs) seperti makanan, air, oksigen, dan seks; (2) kebutuhan akan rasa aman (safety needs); (3) kebutuhan cinta dan kepemilikan (love and belonging needs); (4) kebutuhan penghargaan (self-esteem needs); dan (5) aktualisasi diri (self-actualization) (Hadori, 2015).

Aktualisasi Diri dalam Perspektif Psikologi

Dalam psikologi, aktualisasi diri dikenal sebagai konsep penting untuk memahami pertumbuhan kepribadian yang sehat.

Teori Dinamika-Holistik Abraham Maslow

Abraham Maslow menyebut teorinya sebagai Teori Dinamika-Holistik, karena teori ini mengasumsikan keseluruhan kepribadian manusia termotivasikan secara konstan oleh beberapa kebutuhan dan potensi untuk tumbuh menuju kesehatan psikologis, yaitu aktualisasi-diri (self-actualization) (Hadori, 2015). Dalam pandangan Maslow, semua manusia sejak lahir telah memiliki kecenderungan dan perjuangan untuk mengaktualisasikan-diri (self-actualization) (Hadori, 2015, mengutip Schultz, 2010).

Teori Dinamika-Holistik Maslow dilihat oleh para pakar psikologi sebagai suatu counter atau kritik terhadap behaviorisme yang mekanistis dan psikoanalisis yang pesimistis, karena kedua aliran tersebut dianggap terlalu dangkal dalam memandang manusia dan pemahaman yang tidak tepat mengenai pribadi yang sehat secara psikologis (Hadori, 2015, mengutip Schultz, 2010).

Ciri Individu yang Mengaktualisasikan Diri

Hadori (2015) mengidentifikasi 15 ciri khas individu yang telah mengaktualisasikan diri menurut Maslow (melalui Feist & Feist, 2006 dan Schultz, 2010). Beberapa ciri paling menonjol adalah:

Penerimaan terhadap diri sendiri, orang lain, dan alam — pengaktualisasi-diri menerima diri sendiri apa adanya, tidak malu dengan kelemahan maupun kelebihannya. Spontanitas, kesederhanaan, dan kewajaran — perilakunya ditandai oleh kesederhanaan dan kewajaran, bukan kepura-puraan. Otonomi — mandiri dan tidak bergantung, mampu melawan tekanan sosial yang tidak sejalan dengan nilai-nilai pribadinya. Kreativitas — sosok pengaktualisasi-diri adalah asli, inventif, dan inovatif; kreativitas baginya lebih merupakan suatu sikap dan ungkapan kesehatan psikologis daripada sekadar menghasilkan karya seni (Hadori, 2015, mengutip Schultz, 2010). Resistensi terhadap enkulturasi — individu pengaktualisasi-diri mempertahankan otonomi batin, tidak terpengaruh oleh kebudayaan, dibimbing oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain (Hadori, 2015, mengutip Schultz, 2010). Kepekaan filosofis terhadap humor — rasa humor yang tidak menyerang atau seksual, melainkan lebih bersifat intrinsik dengan situasi dan spontan.

Maslow (2006) dalam On Dominance, Self-Esteem and Self-Actualization (Maurice Basset, dikutip dalam Hadori, 2015) menegaskan bahwa tidak semua orang akan mencapai tingkatan aktualisasi diri karena kepribadian sehat yang menjadi prasyarat primer untuk mencapai tingkatan ini harus sudah berproses sejak dini.

Pentingnya Aktualisasi Diri untuk Kesehatan Mental

Aktualisasi diri tidak hanya berdampak pada pencapaian pribadi, tetapi juga memberi manfaat bagi kesehatan mental secara menyeluruh. Individu yang mampu mengaktualisasikan diri biasanya lebih tahan terhadap tekanan dan memiliki kepuasan hidup lebih tinggi.

Kepribadian Sehat sebagai Fondasi Aktualisasi Diri

Schultz mendefinisikan individu yang memiliki kepribadian sehat adalah individu yang mampu mengontrol kehidupan dan tingkah lakunya secara sadar serta bertanggung jawab terhadap nasibnya sendiri. Dengan demikian, setiap individu yang berkepribadian sehat akan menyadari kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan, kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukannya, dan individu yang berkepribadian sehat umumnya sabar dan menerima terhadap hal-hal tersebut (Hadori, 2015, mengutip Schultz, 2010).

Penelitian Kubzansky, Martin, dan Buka (Health Psychology, 2009, dalam Hadori, 2015) menemukan bahwa kepribadian sehat setiap individu memiliki hubungan erat dengan kepribadian yang terbentuk ketika masih masa anak-anak yang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dan perkembangan hidupnya sejak kecil.

Relevansi Aktualisasi Diri dalam Kehidupan Modern

Aktualisasi diri sangat relevan untuk membantu individu menyesuaikan diri dan tetap berkembang. Penelitian Fujita dan Diener (Journal of Personality and Social Psychology,2005, dikutip dalam Hadori, 2015) menunjukkan hubungan antara pemenuhan kebutuhan psikologis tingkat tinggi dengan kepuasan hidup yang lebih stabil. Individu yang mampu mengaktualisasikan diri biasanya lebih tahan terhadap tekanan dan memiliki kepuasan hidup lebih tinggi karena mereka telah memenuhi B-values (nilai-nilai keberadaan) seperti kebenaran, keindahan, keadilan, dan kesempurnaan yang menjadi kebutuhan meta atau metamotivation di puncak hierarki Maslow (Hadori, 2015).

Kesimpulan

Aktualisasi diri merupakan puncak hierarki kebutuhan Maslow dalam Teori Dinamika-Holistik yang ia kembangkan. Berdasarkan kajian Hadori (2015) dalam Jurnal Lisan Al-Hal, individu yang telah mencapai aktualisasi diri adalah mereka yang telah melampaui semua hierarki kebutuhan, berpegang pada B-values atau metamotivation, dan bebas dari metapatologi. Proses ini mensyaratkan kepribadian sehat yang berproses sejak dini, dan ditandai oleh 15 ciri khas — dari penerimaan diri, kreativitas, otonomi, hingga kepekaan filosofis terhadap humor. Dengan memahami dan menerapkan konsep aktualisasi diri, seseorang dapat menjalani hidup yang lebih bermakna, seimbang, dan produktif.