Alexithymia: Apa Itu, Ciri, dan Contoh pada Remaja
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Remaja sering digambarkan penuh emosi, tetapi sebagian justru kesulitan menjelaskan apa yang mereka rasakan. Kondisi ini bisa berkaitan dengan alexithymia, yaitu pola kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi. Memahami fenomena ini membantu orang tua, guru, dan remaja sendiri lebih peka terhadap kesehatan mental.
Pengertian Alexithymia dan Kaitannya dengan Emosi
Menurut Talitha Sahda Zuriah Gendro Wardono dalam artikel jurnal ilmiah berbentuk penelitian kuantitatif korelasional berjudul “Hubungan Antara Alexithymia dengan Depresi pada Remaja” yang diterbitkan di Blantika: Multidisciplinary Journal pada 2023, alexithymia adalah kondisi ketika seseorang kesulitan mengidentifikasi, mengekspresikan, dan memahami emosi. Artikel ini menjelaskan bahwa remaja dengan alexithymia dapat mengalami kesulitan memahami dan memproses perasaan secara efektif, mengalami gejala depresi dan cemas yang sulit dibedakan, serta menghadapi hambatan dalam membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal.
Secara umum, alexithymia mencakup tiga komponen utama. Pertama, sulit mengenali emosi diri, misalnya tidak tahu apakah sedang kecewa atau marah. Kedua, sulit menggambarkan emosi dengan kata-kata saat diminta bercerita. Ketiga, gaya berpikir yang lebih konkret dan berfokus pada fakta, sehingga kurang terbiasa mengolah pengalaman batin. Kondisi ini memengaruhi kesejahteraan emosional dan bukan sekadar sifat pendiam atau kurang ekspresif.
Ciri-Ciri Alexithymia pada Remaja
Beberapa remaja dengan kecenderungan alexithymia sering menjawab “biasa saja” atau “nggak tahu” ketika ditanya perasaannya, meski sebenarnya sedang tertekan. Selain itu, mereka lebih mudah mengeluhkan pusing, lelah, atau sakit perut dibanding menceritakan rasa sedih atau cemas.
Dalam pergaulan, mereka bisa tampak tidak peka terhadap emosi orang lain karena sulit membaca ekspresi atau suasana hati lawan bicara. Sementara itu, pembicaraan mendalam tentang perasaan cenderung mereka hindari, sehingga konflik atau masalah emosional sering dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian.
Hubungan Alexithymia dengan Depresi Remaja
Masih dari artikel jurnal ilmiah berbentuk penelitian kuantitatif korelasional tersebut, terdapat hubungan positif antara alexithymia dan depresi pada remaja. Artikel tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi alexithymia, semakin tinggi pula tingkat depresi, karena remaja yang mengalami alexithymia cenderung kesulitan mengidentifikasi, mengekspresikan, dan memahami perasaan mereka sehingga perasaan depresi dapat menjadi tidak terkendali.
Emosi yang tidak dikenali dan tidak tersalurkan dapat menumpuk menjadi rasa hampa, putus asa, atau mudah tersinggung tanpa sebab yang jelas. Seiring waktu, kondisi ini bisa mengganggu belajar, hubungan pertemanan, hingga kepercayaan diri. Oleh karena itu, mengenali alexithymia sejak dini menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan depresi di kalangan remaja.
Contoh Alexithymia dalam Kehidupan Sehari-Hari Remaja
Contoh konkret membantu membedakan alexithymia dari sifat pemalu, introvert, atau sekadar tidak suka bercerita. Dalam keseharian, pola ini sering muncul secara halus sehingga mudah disalahartikan. Orang sekitar mungkin mengira remaja sekadar “cuek”, padahal mereka kesulitan mengolah emosi.
Ilustrasi Kasus Alexithymia pada Remaja
Bayangkan seorang remaja yang sering marah atau meledak tanpa tahu penyebab jelas. Saat ditanya, ia hanya menjawab “lagi bad mood” tanpa bisa menjelaskan apakah sebenarnya ia kecewa, takut gagal, atau merasa tidak dianggap. Di balik ledakan emosi itu ada kebingungan besar terhadap perasaannya sendiri.
Contoh lain, remaja yang berulang kali datang ke ruang kesehatan sekolah dengan keluhan sakit perut atau pusing, sementara pemeriksaan fisik tidak menemukan masalah berarti. Tekanan tugas, tuntutan nilai, atau konflik di rumah bisa menjadi sumber stres, tetapi ia tidak mampu mengaitkan gejala fisik dengan beban emosional. Ada juga remaja yang tampak dingin terhadap teman dan keluarga, bukan karena tidak peduli, melainkan kesulitan memahami dan mengekspresikan kehangatan atau empati.
Pentingnya Edukasi Emosi dan Dukungan Lingkungan
Kemampuan mengenali dan menamai emosi sebenarnya bisa dilatih. Di rumah atau sekolah, orang dewasa dapat mengajak remaja menyebutkan perasaannya dengan kata yang lebih spesifik, misalnya “kesal”, “kecewa”, atau “cemas”, bukan hanya “bete”. Kegiatan sederhana seperti jurnal emosi atau refleksi setelah kejadian tertentu juga membantu mereka lebih akrab dengan dunia batin sendiri.
Jika kesulitan mengelola emosi sudah mengganggu aktivitas harian, konseling dengan psikolog dapat menjadi pilihan. Pendampingan profesional membantu remaja belajar menghubungkan pikiran, perasaan, dan reaksi tubuh secara lebih sehat. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pemahaman tentang alexithymia berperan dalam mencegah masalah psikologis yang lebih berat, termasuk depresi.
Kesimpulan
Alexithymia menggambarkan kondisi ketika seseorang, terutama remaja, kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi yang dirasakan. Kondisi ini dapat berpengaruh pada hubungan sosial, cara menghadapi stres, hingga risiko munculnya depresi.
Dengan mengenali ciri, contoh, dan dampaknya, orang tua, guru, dan remaja sendiri bisa lebih peka terhadap sinyal yang muncul. Edukasi emosi, komunikasi yang hangat, dan akses pada bantuan profesional menjadi langkah penting untuk membantu remaja yang menunjukkan tanda alexithymia agar tumbuh dengan kesejahteraan mental yang lebih baik.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Emosi dan Regulasi Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari