Konten dari Pengguna

Altruisme: Pengertian dan Teori Menurut Para Ahli

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Altruisme. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Altruisme. Gambar: Pexels.

Altruisme sering menjadi perhatian dalam pembahasan perilaku sosial manusia. Istilah ini mengacu pada tindakan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Banyak peneliti sosial tertarik menelaah alasan di balik munculnya perilaku altruistik, baik dari sisi psikologi, biologi, maupun norma masyarakat.

Pengertian Altruisme

Menurut buku Altruisme: Pilar Kemanusiaan di Tengah Perubahan Sosial karya Brigitan Argasiam (2024), altruisme merupakan konsep sentral dalam psikologi sosial yang merujuk pada perilaku menolong orang lain tanpa pamrih atau keuntungan pribadi. Altruisme sering dianggap sebagai perilaku yang dilakukan demi kebaikan orang lain, meskipun pelaku tidak mendapatkan imbalan langsung atau bahkan mungkin menghadapi risiko.

Definisi Altruisme Menurut Para Ahli

Secara lebih spesifik, menurut Baron dan Byrne (2003) dalam kajian Argasiam, altruisme adalah perilaku yang dimaksudkan untuk menguntungkan orang lain tanpa memperhatikan manfaat langsung bagi pelakunya. Definisi ini menggarisbawahi pentingnya niat dalam tindakan altruistik — tindakan tersebut tidak dilakukan dengan harapan mendapatkan penghargaan atau pengakuan, tetapi lebih kepada dorongan intrinsik untuk membantu orang lain.

Dalam konteks psikologi sosial, altruisme dianggap sebagai esensi dari perilaku prososial, yaitu tindakan yang secara sengaja membantu individu lain atau masyarakat secara keseluruhan (Argasiam, 2024). Altruisme sehingga menjadi salah satu pilar penting dalam membangun solidaritas sosial, mempromosikan kebaikan kolektif, dan memperkuat hubungan sosial yang sehat dalam masyarakat.

Dimensi altruisme bahkan kini ditelaah dari perspektif neurosaains. Penelitian Decety dan Jackson (2004) dalam kajian Argasiam menunjukkan bahwa empati dan perilaku altruistik melibatkan area tertentu di otak, terutama yang berhubungan dengan mirror neurons (neuron cermin). Neuron cermin ini memungkinkan seseorang untuk "merasakan" apa yang dirasakan orang lain, yang kemudian mendorong perilaku menolong (Argasiam, 2024, hal. 3).

Karakteristik Perilaku Altruistik

Dokumen sumber Argasiam (2024,) mengidentifikasi lima ciri utama perilaku altruistik:

Niat menolong tanpa pamrih adalah aspek paling mendasar — tindakan berfokus pada kesejahteraan orang lain dan tidak mengharapkan imbalan; Empati yang tinggi — individu yang altruistik mampu merasakan dan memahami penderitaan orang lain secara mendalam, yang mendorong tindakan menolong; Responsif terhadap kebutuhan orang lain — individu altruistik cepat tanggap ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan; Kepuasan dari menolong — meskipun tidak mengharapkan imbalan eksternal, pelaku sering merasakan kepuasan dan kebahagiaan intrinsik dari tindakannya; Perilaku konsisten — altruisme bukan tindakan sesaat, melainkan pola perilaku yang dijalankan secara konsisten.

Contoh Altruisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh sederhana altruisme dapat ditemukan dalam berbagai situasi: menolong orang tua menyeberang jalan, berbagi makanan dengan tetangga yang membutuhkan, atau terlibat dalam kegiatan sukarela (volunteering) dan donasi sosial. Semua itu dilakukan tanpa ada harapan imbalan langsung.

Teori-Teori Altruisme

Berbagai teori dikembangkan untuk menjelaskan mengapa altruisme muncul dalam interaksi sosial. Dokumen sumber Argasiam (2024) memuat lima teori utama.

Teori Evolusi Altruisme

Teori evolusi menjelaskan altruisme melalui dua konsep utama (Argasiam, 2024). Pertama, kin selection (seleksi kerabat) yang dipopulerkan oleh Hamilton (1964): individu cenderung membantu kerabat dekat karena tindakan tersebut meningkatkan kemungkinan gen-gen yang sama untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Kedua, reciprocal altruism (altruisme timbal balik) yang diperkenalkan Trivers (1971): individu melakukan tindakan altruistik dengan harapan mendapatkan imbalan serupa di masa depan. Dalam kelompok sosial yang stabil, prinsip ini menjelaskan mengapa individu saling membantu meskipun tidak memiliki hubungan genetik.

Teori Empati-Altruisme

Teori Empati-Altruisme pertama kali dikemukakan oleh Daniel Batson pada tahun 1991. Menurut Argasiam (2024), teori ini mengusulkan bahwa empati — kemampuan merasakan dan memahami perasaan orang lain — merupakan motivator utama di balik perilaku altruistik. Batson berargumen bahwa ketika seseorang merasakan empati terhadap seseorang yang membutuhkan bantuan, mereka terdorong untuk membantu bukan hanya untuk mengurangi ketidaknyamanan mereka sendiri, tetapi karena mereka benar-benar peduli dengan kesejahteraan orang lain. Penelitian Batson dkk. (1997) menunjukkan bahwa empati dapat memotivasi tindakan altruistik bahkan ketika tidak ada manfaat langsung bagi pelaku (dalam Argasiam).

Teori Norma Sosial

Selain faktor biologis dan empati, norma sosial juga memengaruhi perilaku altruistik. Menurut Cialdini dkk. (2006) dalam kajian Argasiam (2024), terdapat dua norma sosial utama: (1) Norma timbal balik (norm of reciprocity) — seseorang merasa berkewajiban membantu orang lain karena pernah menerima bantuan sebelumnya; dan (2) Norma tanggung jawab sosial (norm of social responsibility) — individu merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan orang lain, terutama jika berada dalam posisi yang lebih mampu. Kedua norma ini berfungsi sebagai panduan dalam interaksi sosial dan seringkali memengaruhi perilaku menolong di berbagai situasi.

Teori Pembelajaran Sosial

Teori Pembelajaran Sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura menawarkan perspektif tentang bagaimana perilaku altruistik terbentuk melalui observasi dan imitasi. Menurut Argasiam (2024), Bandura (1977) menjelaskan bahwa individu belajar perilaku sosial — termasuk tindakan altruistik — melalui observasi terhadap orang lain dalam konteks sosial mereka. Jika individu melihat orang lain melakukan tindakan altruistik dan mendapatkan penghargaan sosial, mereka lebih mungkin untuk meniru perilaku tersebut. Ini berarti lingkungan sosial yang mendukung dan menampilkan model perilaku altruistik berperan penting dalam mendorong perkembangan perilaku menolong pada individu.

Teori Psikologi Positif

Teori Psikologi Positif yang dipelopori oleh Martin Seligman menempatkan altruisme sebagai salah satu komponen penting dari kesejahteraan manusia. Menurut Argasiam (2024), Seligman (2011) dalam bukunya Flourish menekankan bahwa altruisme berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan psikologis individu. Melakukan tindakan altruistik menghasilkan perasaan kebahagiaan dan kepuasan yang mendalam, serta memberikan rasa tujuan dan makna hidup. Dengan demikian, altruisme tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga memperkaya pengalaman emosional pelakunya — suatu manfaat ganda yang menjadikan altruisme integral dalam kerangka hidup yang bermakna.

Kesimpulan

Altruisme merupakan konsep kompleks dalam psikologi sosial yang melibatkan berbagai faktor psikologis, biologis, sosial, bahkan neurologis. Berdasarkan kajian Argasiam (2024), altruisme adalah perilaku menolong orang lain tanpa pamrih atau keuntungan pribadi — mencakup niat yang tulus, empati yang tinggi, dan perilaku yang konsisten. Lima teori utama — evolusi, empati-altruisme, norma sosial, pembelajaran sosial, dan psikologi positif — saling melengkapi dalam menjelaskan mengapa perilaku ini muncul dan bertahan dalam masyarakat manusia. Sikap altruistik bukan hanya penting untuk memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga terbukti memberikan manfaat psikologis bagi pelakunya sendiri, menjadikannya salah satu fondasi penting dalam harmoni kehidupan sosial yang modern dan dinamis.