Apa Itu Bias Emosional dan Pengaruhnya terhadap Keputusan Keuangan
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami Bias Emosional
Setiap orang pernah mengalami situasi di mana emosi memengaruhi cara berpikir dan bertindak, termasuk dalam mengambil keputusan keuangan. Menurut Maya Aulia Wulan dan Ridho Satya Dwi Putra dalam Pengaruh Bias Kognitif dan Bias Emosional dalam Pengambilan Keputusan Keuangan terhadap Perilaku UMKM (makalah mata kuliah Behavioral Corporate Finance), teori Behavioral Finance mengintegrasikan prinsip psikologi ke dalam keuangan untuk menjelaskan bagaimana bias kognitif dan emosional memengaruhi keputusan keuangan. Bias ini bisa muncul tanpa disadari dan kerap memengaruhi keputusan penting.
Definisi Bias Emosional
Wulan dan Putra secara membedakan bias kognitif (seperti overconfidence, cognitive dissonance, illusion of control, dan status quo bias) dari bias emosional — sehingga "percaya diri berlebih" (overconfidence) diklasifikasikan sebagai bias kognitif, bukan bias emosional seperti disebutkan sebelumnya. Bias emosional mencakup lima dimensi utama: loss aversion (kecenderungan menghindari kerugian meski ada peluang keuntungan), regret aversion (keengganan mengambil keputusan berisiko karena takut menyesal di masa depan), emotional attachment (keterikatan emosional terhadap aset atau bisnis, misalnya mempertahankan aset yang tidak produktif karena alasan sentimental), overreaction to market changes (bereaksi berlebihan terhadap perubahan pasar), dan fear of missing out (FOMO, mengambil keputusan karena takut ketinggalan tren tanpa analisis matang). Akibatnya, seseorang sering kali mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan fakta objektif secara menyeluruh.
Contoh-contoh Bias Emosional dalam Kehidupan Sehari-hari
Beberapa contoh bias emosional yang umum antara lain menunda investasi karena takut rugi (loss aversion), mempertahankan status quo karena takut menyesal di masa depan (regret aversion), atau membeli/menjual stok secara tergesa-gesa saat harga naik atau turun (overreaction to market changes). Perlu diklarifikasi bahwa "terlalu percaya diri saat mengambil keputusan bisnis" sebenarnya termasuk contoh bias kognitif (overconfidence), bukan bias emosional. Pola ini bisa terjadi pada siapa saja, baik individu maupun pelaku bisnis.
Pengaruh Bias Emosional terhadap Keputusan Keuangan
Bias emosional memegang peran besar dalam menentukan arah keputusan keuangan. Emosi yang tidak terkelola dapat mendorong seseorang membuat pilihan yang kurang bijak dan berdampak jangka panjang.
Cara Bias Emosional Mempengaruhi Proses Pengambilan Keputusan
Saat emosi mendominasi, seseorang cenderung mengabaikan data dan informasi yang sebenarnya penting. Misalnya, dimensi overreaction to market changes menjelaskan bagaimana pelaku usaha bereaksi berlebihan terhadap perubahan pasar, seperti menjual atau membeli stok secara tergesa-gesa saat harga naik atau turun (Wulan & Putra). Menurut jurnal "Pengaruh Literasi Keuangan, Demografi, Emotion Bias, dan Illusion of Control Bias terhadap Perilaku Keuangan pada Pelaku UMKM di Kecamatan Ilir Timur III Kota Palembang" (Monica & Elizabeth, 2023, dikutip dalam Wulan & Putra), hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa emotion bias berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap perilaku keuangan pada pelaku UMKM di wilayah tersebut.
Dampak Bias Emosional pada Keuangan UMKM
Pelaku UMKM juga sering terpengaruh bias emosional, khususnya regret aversion — keengganan mengambil peluang baru karena takut menyesal di masa depan, sehingga cenderung mempertahankan status quo meskipun hasilnya tidak optimal (Wulan & Putra). Penelitian Wulan dan Putra menunjukkan bias ini dapat menghambat perkembangan bisnis dan memicu keputusan keuangan yang kurang tepat — sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya (Pulungan dkk., 2018, dikutip dalam Wulan & Putra) bahwa faktor emosi memiliki pengaruh signifikan dalam perilaku keuangan, dan penelitian Delyana dkk. (2018, dikutip dalam Wulan & Putra) yang menemukan kecerdasan emosi memengaruhi secara signifikan perilaku keuangan seseorang.
Sisi Positif dari Bias Emosional
Perlu ditambahkan bahwa Wulan dan Putra juga membahas dampak positif bias emosional, yang tidak disebutkan sebelumnya. Bias emosional tertentu, seperti overoptimism, dapat memotivasi pemilik UMKM untuk mengambil risiko dan berani berinovasi — misalnya, pemilik UMKM yang optimis terhadap prospek bisnisnya mungkin lebih terbuka terhadap investasi teknologi baru atau pembukaan cabang baru, yang dapat meningkatkan pertumbuhan jangka panjang jika didukung perencanaan yang baik. Namun, overoptimism yang tidak didukung data dan analisis yang kuat juga dapat menyebabkan keputusan keuangan yang sembrono, seperti mengambil pinjaman besar tanpa perhitungan matang.
Cara Mengelola Bias Emosional dalam Keputusan Keuangan
Mengelola bias emosional membutuhkan kesadaran diri dan usaha yang konsisten. Dengan strategi tertentu, risiko keputusan yang dipengaruhi emosi dapat ditekan.
Langkah-langkah Mengurangi Pengaruh Bias Emosional
Wulan dan Putra menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai alat mitigasi utama untuk mengurangi dampak negatif dari bias kognitif dan emosional. Pemanfaatan data berbasis fakta, konsultasi dengan pihak eksternal, serta pengembangan pelatihan keuangan dapat membantu pelaku UMKM dalam membuat keputusan yang lebih rasional. Beberapa langkah tambahan yang bisa dilakukan, misalnya dengan membuat rencana keuangan tertulis, berdiskusi dengan orang terpercaya, serta melakukan evaluasi secara berkala terhadap keputusan yang diambil. Menunda keputusan penting saat emosi sedang tinggi juga dapat membantu.
Pentingnya Edukasi dan Kontrol Diri dalam Pengambilan Keputusan Keuangan
Edukasi seputar keuangan dan latihan kontrol diri sangat membantu dalam mengelola bias emosional — hal ini semakin relevan mengingat rendahnya tingkat literasi keuangan di Indonesia, yang menurut OJK (2022, dikutip dalam Wulan & Putra) hanya mencapai 49,68%, sehingga memperburuk pengaruh bias-bias psikologis tersebut, khususnya dalam sektor UMKM. Selain itu, memahami risiko dan manfaat sebelum membuat keputusan dapat mendorong sikap lebih bijak.
Kesimpulan
Bias emosional merupakan faktor yang dapat memengaruhi keputusan keuangan, baik pada individu maupun pelaku usaha — mencakup lima dimensi utama: loss aversion, regret aversion, emotional attachment, overreaction to market changes, dan FOMO (Wulan & Putra), yang berbeda dari bias kognitif seperti overconfidence. Dengan memahami cara kerja bias emosional secara akurat dan menerapkan strategi pengelolaan yang tepat, seperti peningkatan literasi keuangan dan konsultasi dengan pihak eksternal, keputusan keuangan dapat dibuat secara lebih rasional dan terukur. Langkah kecil dalam mengelola emosi bisa berdampak besar pada stabilitas keuangan jangka panjang.