Apa Itu Egosentris? Memahami Egosentrisme pada Perkembangan Anak
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Egosentrisme adalah bagian alami dari proses tumbuh kembang anak. Pada masa tertentu, anak cenderung melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri, tanpa mempertimbangkan perspektif orang lain.
Pengertian Egosentris
Berpikir egosentris adalah ketidakmampuan anak untuk melihat sudut pandang orang lain dalam melihat suatu masalah dan mementingkan perspektif dirinya sendiri (Yesi Novitasari & Danang Prastyo, 2020). Egosentrisme adalah ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif milik sendiri dengan perspektif orang lain (Novitasari & Prastyo, 2020, mengutip Khadijah, 2016). Egosentris merupakan suatu perhatian yang amat berlebihan terhadap diri sendiri sehingga individu merasa bahwa dirinya adalah seorang yang penting dan menjadi tidak peduli dengan dunia luar dirinya (Novitasari & Prastyo, 2020, mengutip Sejati, 2019).
Perbedaan Egosentris dan Egois
Egosentris berkaitan dengan keterbatasan kemampuan kognitif untuk memahami perspektif orang lain, dan bukan merupakan sikap yang disengaja. Ini berbeda dari perilaku egois yang merupakan pilihan sadar untuk mengutamakan kepentingan pribadi. Pada anak usia dini, egosentris pada tahap praoperasional tidak selamanya buruk, karena merupakan proses pendewasaan bagi anak usia dini (Novitasari & Prastyo, 2020).
Egosentrisme dalam Perkembangan Anak
Pada masa pertumbuhan, egosentrisme memiliki peran penting. Pemahaman tentang tahap-tahap perkembangan membantu orang dewasa membimbing anak lebih baik.
Tahapan Perkembangan Kognitif Anak
Perkembangan kognitif terdiri atas empat tahapan: tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasional konkrit, dan tahap operasional formal (Novitasari & Prastyo, 2020, mengutip Khadijah, 2016). Tahap praoperasional terhitung sejak anak berusia dua sampai tujuh tahun; pada tahapan ini anak-anak berpikir secara simbolis dan cara berpikir anak bersifat tidak sistematis, tidak konsisten, dan tidak logis (Novitasari & Prastyo, 2020).
Egosentrisme pada Tahap Praoperasional
Egosentrisme anak usia 4–6 tahun pada perkembangan kognitif tahap praoperasional mencapai 76,33% dengan kategori sangat tinggi (Novitasari & Prastyo, 2020). Tahap praoperasional ditandai dengan karakteristik: (1) individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi; (2) individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide-ide; (3) individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu pristiwa konkrit, meskipun logika hubungan sebab akibat belum tepat; dan (4) cara berpikir individu bersifat egosentris (Novitasari & Prastyo, 2020).
Lima aspek egosentrisme anak pada tahap praoperasional mencakup: berpikir imaginatif (72,08%), berbahasa egosentris (82,92%), memiliki aku yang tinggi (74,58%), ingin tahu yang tinggi (80,42%), dan perkembangan bahasa mulai pesat (71,67%) (Novitasari & Prastyo, 2020).
Dampak Egosentrisme terhadap Interaksi Sosial Anak
Anak sering berhenti mengikuti permainan saat suatu hal tidak sesuai dengan keinginannya, sehingga anak sering menuntut untuk selalu dipenuhi segala keinginannya (Novitasari & Prastyo, 2020). Kemampuan berinteraksi sosial secara alamiah akan muncul ketika anak berinteraksi dengan lingkungannya, seperti orang tua, masyarakat, dan teman (Novitasari & Prastyo, 2020, mengutip Nissa & Masturah, 2019). Oleh karena itu diperlukan peran orang tua atau guru untuk bersikap tegas dan tepat agar dapat mengantisipasi segala dampak negatif egosentris anak yang dapat mempengaruhi karakternya di masa mendatang (Novitasari & Prastyo, 2020).
Cara Mengatasi dan Mendampingi Anak Egosentris
Pendampingan yang tepat mampu membantu anak melewati fase egosentris dengan baik. Keterlibatan orang tua dan guru sangat berperan dalam proses ini.
Peran Orang Tua dan Guru
Orangtua atau guru harus sadarkan anak bahwa ia tidak dapat memperoleh apa yang ia inginkan dengan menangis, marah, atau ledakan-ledakan emosi lainnya misalnya dengan melakukan temper tantrum (Novitasari & Prastyo, 2020, mengutip Nadhirah, 2017). Pihak sekolah dianjurkan untuk memberikan stimulasi yang tepat agar egosentrisme anak dapat diarahkan menjadi bekal untuk tumbuh menjadi anak berkarakter baik (Novitasari & Prastyo, 2020).
Ciri-ciri Egosentris pada Anak
Ciri egosentris pada anak menurut Khadijah (2016) sebagaimana dikutip Novitasari & Prastyo (2020) dapat ditandai dengan: berpikir imaginatif, berbahasa egosentris, memiliki aku yang tinggi, menampakkan dorongan ingin tahu yang tinggi, dan perkembangan bahasa mulai pesat. Rasa ingin tahu merupakan modal bagi anak untuk meraup banyak pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa mendatang (Novitasari & Prastyo, 2020).
Kesimpulan
Egosentrisme anak pada perkembangan kognitif tahap praoperasional merupakan bagian alami dari tumbuh kembang yang perlu dipahami oleh orang dewasa. Dengan pendekatan yang tepat dari orang tua dan guru, anak dapat belajar melihat dunia dari berbagai sudut pandang dan mengembangkan empati.