Konten dari Pengguna

Apa Itu Emotional Reasoning? Definisi & Contoh dalam Psikologi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi emotional reasoning. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi emotional reasoning. Foto Unsplash.

Emotional reasoning menjadi istilah yang semakin sering dibicarakan dalam dunia psikologi. Istilah ini merujuk pada cara seseorang menilai kenyataan berdasarkan perasaan pribadi, bukan melalui analisis logis. Banyak orang mungkin tanpa sadar pernah mengalami kondisi ini dalam kehidupan sehari-hari.

Definisi Emotional Reasoning

Memahami emotional reasoning penting karena proses ini memengaruhi cara seseorang memandang peristiwa di sekitarnya. Menurut Amelia Gangemi, Margherita Dahò, dan Francesco Mancini dalam artikel review “Emotional Reasoning and Psychopathology”, emotional reasoning adalah mekanisme psikologis ketika seseorang menggunakan emosi sebagai informasi penting untuk menilai dunia, peristiwa, atau situasi, alih-alih merujuk secara objektif pada realitas.

Pengertian Emotional Reasoning Menurut Psikologi

Dalam psikologi, emotional reasoning diartikan sebagai pola pikir di mana individu menganggap perasaan negatif atau positif yang muncul sebagai bukti nyata tentang situasi. Seseorang misalnya merasa cemas, lalu meyakini bahwa ada sesuatu yang buruk akan terjadi, walau tidak ada bukti objektif yang mendukungnya.

Emotional Reasoning vs. Logical Reasoning

Emotional reasoning sangat berbeda dengan logical reasoning. Jika logical reasoning mengandalkan data dan penalaran rasional, maka emotional reasoning lebih menonjolkan emosi pribadi sebagai landasan penilaian. Pola ini sering membuat keputusan menjadi kurang objektif.

Contoh Emotional Reasoning dalam Kehidupan Sehari-hari

Emotional reasoning bisa muncul dalam banyak situasi. Sering kali, pola pikir ini tidak disadari meskipun dampaknya cukup besar terhadap perilaku.

Ilustrasi Kasus Emotional Reasoning

Sebagai contoh, seseorang yang gagal dalam ujian bisa langsung berpikir bahwa ia bodoh karena merasa kecewa. Padahal, kegagalan tersebut belum tentu mencerminkan seluruh kemampuannya. Contoh lain, ketika merasa takut di tempat umum, seseorang bisa langsung menilai tempat itu berbahaya walau faktanya aman.

Dampak Emotional Reasoning terhadap Perilaku

Pola emotional reasoning dapat memengaruhi cara seseorang bertindak. Emosi yang kuat bisa membuat seseorang menghindari situasi tertentu atau bereaksi secara berlebihan. Akibatnya, keputusan yang diambil kerap tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Emotional Reasoning dan Kesehatan Mental

Emotional reasoning juga berkaitan erat dengan kondisi mental. Pola pikir ini sering muncul pada berbagai gangguan psikologis.

Hubungan Emotional Reasoning dengan Gangguan Psikopatologi

Menurut Amelia Gangemi, Margherita Dahò, dan Francesco Mancini dalam artikel review “Emotional Reasoning and Psychopathology”, emotional reasoning ditemukan dalam berbagai gangguan psikologis, termasuk gangguan kecemasan, depresi, OCD, dan gangguan kepribadian, ketika seseorang menggunakan emosi sebagai dasar untuk menilai situasi atau dunia luar alih-alih merujuk secara objektif pada realitas.

Cara Mengidentifikasi Emotional Reasoning (Menurut Gangemi et al.)

Untuk mengenali emotional reasoning, perhatikan kecenderungan menilai sesuatu hanya dari emosi yang muncul. Jika Anda sering menganggap perasaan negatif sebagai bukti nyata, bisa jadi sedang terjebak dalam pola ini. Latihan refleksi dan diskusi dengan profesional dapat membantu mengatasinya.

Kesimpulan

Emotional reasoning merupakan pola berpikir di mana seseorang menilai kenyataan berdasarkan perasaan, bukan fakta. Pola ini bisa berdampak pada perilaku dan kesehatan mental jika tidak dikenali dengan baik. Memahami emotional reasoning membantu kita mengambil keputusan yang lebih objektif dan sehat.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Kognitif dan Pola Pikir: Cara Kerja Pikiran yang Membentuk Hidup