Apa Itu Grounding untuk Emosi? Penjelasan Teknik Grounding dalam Psikologi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknik grounding untuk emosi semakin dikenal sebagai strategi sederhana namun efektif dalam membantu seseorang mengelola perasaan yang tidak nyaman. Banyak orang menggunakan metode ini ketika merasa cemas, marah, atau kewalahan oleh pikiran negatif. Artikel ini membahas secara ringkas pengertian grounding, cara kerjanya, serta efektivitasnya menurut temuan psikologi.
Pengertian Teknik Grounding dalam Psikologi
Grounding dalam psikologi merupakan metode yang dirancang untuk membantu seseorang tetap terhubung dengan momen saat ini. Menurut Umy Yonaevy dan Ratih Prananingrum dalam artikel Teknik Grounding untuk Mengurangi Kecemasan pada Remaja (2024), grounding technique menggunakan indra untuk membawa perhatian kembali ke saat ini, dan merupakan salah satu teknik yang semakin populer (Najavits, 2007, dikutip dalam Yonaevy & Prananingrum, 2024). Hal ini membuat grounding banyak dipilih karena dapat diterapkan secara mandiri dan tanpa alat khusus.
Definisi Grounding
Teknik grounding adalah serangkaian langkah praktis yang membawa perhatian seseorang ke masa kini, bukan pada kekhawatiran masa lalu atau ketakutan akan masa depan. Grounding mencakup penggunaan sensasi fisik untuk membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan sekitarnya, sehingga dapat mengurangi gejala kecemasan (Najavits, 2007, dikutip dalam Yonaevy & Prananingrum, 2024). Biasanya, grounding dilakukan melalui aktivitas fisik sederhana, seperti berjalan di atas rumput tanpa alas kaki, menyentuh objek di sekitar, atau memfokuskan perhatian pada pernapasan (Hackmann dkk., 2011, dikutip dalam Yonaevy & Prananingrum, 2024).
Tujuan dan Manfaat Grounding untuk Emosi
Tujuan utama grounding adalah menstabilkan perasaan yang mengganggu. Dengan mengalihkan fokus ke hal-hal nyata di sekitar, individu dapat merasa lebih tenang dan mampu mengendalikan reaksi emosionalnya. Selain itu, grounding juga membantu mencegah seseorang larut dalam pikiran negatif berulang.
Bagaimana Cara Kerja Teknik Grounding untuk Mengatasi Emosi?
Teknik grounding untuk emosi bekerja dengan cara mengaktifkan indra dan mengarahkan atensi ke lingkungan sekitar. Dengan demikian, pikiran yang awalnya dipenuhi kecemasan atau kemarahan bisa beralih ke hal yang lebih netral dan terkendali.
Mekanisme Grounding dalam Mengelola Emosi
Pada dasarnya, grounding memanfaatkan respons tubuh untuk menenangkan diri. Saat seseorang mengalihkan perhatian dari emosi sulit ke aktivitas fisik atau sensorik, respons tersebut mengirimkan sinyal keamanan kepada sistem saraf, mengaktifkan sistem saraf parasimpatis sehingga menurunkan detak jantung, menstabilkan pernapasan, dan mengurangi hormon stres (NeuroGlow, "5-4-3-2-1 Grounding Technique: Calm Anxiety Fast"). Proses ini dapat dilakukan kapan saja, terutama ketika gejala kecemasan mulai muncul.
Contoh Praktik Grounding untuk Emosi
Dalam intervensi psikoedukasi Yonaevy dan Prananingrum (2024) pada remaja, praktik grounding dibagi menjadi beberapa sesi yang melibatkan berbagai indra: sesi visual dan auditori (menghitung objek di sekitar atau mendengarkan suara alam) serta sesi taktil dan olfaktori (memegang benda dengan tekstur tertentu atau menghirup aroma yang menenangkan). Teknik populer lain yang serupa dan banyak digunakan secara internasional adalah teknik "5-4-3-2-1", yaitu menyebutkan lima hal yang dapat dilihat, empat hal yang dapat disentuh, tiga hal yang dapat didengar, dua hal yang dapat dicium, dan satu hal yang dapat dirasakan lewat indra pengecap (Healthline, "Grounding Techniques: Exercises for Anxiety, PTSD, and More"). Cara-cara ini membantu menstabilkan emosi dengan cepat.
Apakah Teknik Grounding Efektif untuk Mengatasi Emosi?
Penelitian Yonaevy dan Prananingrum (2024) pada 30 remaja berusia 14–17 tahun menunjukkan bahwa kelompok yang menerima psikoedukasi teknik grounding mengalami penurunan skor kecemasan yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol, dengan efek ukuran yang besar. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya pada remaja (Brown dkk., 2020; Jones dkk., 2019, dikutip dalam Yonaevy & Prananingrum, 2024) dan pada orang dewasa (Kerr dkk., 2019, dikutip dalam Yonaevy & Prananingrum, 2024). Penggunaan grounding secara teratur, khususnya yang melibatkan lebih banyak indra dan dilakukan secara terstruktur, cenderung lebih efektif dalam mengurangi kecemasan (Smith dkk., 2018, dikutip dalam Yonaevy & Prananingrum, 2024).
Bukti Efektivitas Grounding
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, teknik grounding telah terbukti membantu menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan pada remaja dalam penelitian eksperimen kuasi tersebut. Perlu dicatat bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan yang diakui langsung oleh penulisnya: tidak ada pengukuran tindak lanjut (follow-up), sehingga belum diketahui apakah efek intervensi ini bertahan dalam jangka panjang, dan ukuran sampel yang relatif kecil (30 peserta) dapat memengaruhi generalisasi temuan (Yonaevy & Prananingrum, 2024). Praktik grounding secara umum dinilai aman dan dapat digunakan siapa saja tanpa risiko efek samping yang berarti (Healthline, "Grounding Techniques").
Kapan Grounding Sebaiknya Digunakan?
Grounding sebaiknya diterapkan saat muncul perasaan tidak nyaman, baik itu kecemasan, amarah, maupun stres mendadak. Teknik ini juga dapat digunakan sebagai intervensi tambahan bersama terapi lain, seperti terapi kognitif-perilaku atau terapi berbasis mindfulness (Yonaevy & Prananingrum, 2024). Praktik ini juga cocok dijadikan rutinitas harian untuk memperkuat kemampuan mengelola emosi.
Kesimpulan
Teknik grounding untuk emosi menjadi solusi sederhana yang bisa langsung diterapkan untuk meredakan perasaan tidak nyaman. Berdasarkan hasil eksperimen kuasi Yonaevy dan Prananingrum (2024) pada remaja usia 14–17 tahun, metode ini terbukti efektif dalam membantu seseorang menstabilkan emosi, terutama saat kecemasan atau stres muncul, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengevaluasi efek jangka panjangnya. Dengan latihan rutin — baik melalui variasi teknik multisensori seperti yang diterapkan dalam penelitian tersebut maupun teknik populer seperti "5-4-3-2-1" — grounding dapat menjadi bagian penting dalam strategi mengelola emosi sehari-hari.