Konten dari Pengguna

Apa Itu Kepribadian Positif dan Cara Pembentukan Kepribadian Positif

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi  Kepribadian Positif . Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kepribadian Positif . Gambar: Pexels.

Kepribadian positif menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan seseorang sejak dini. Pola pikir dan sikap yang terbentuk sejak anak-anak akan sangat memengaruhi cara seseorang menjalani hidup, merespons tantangan, dan membangun relasi sosial. Oleh sebab itu, memahami cara membentuk kepribadian positif sejak usia dini menjadi langkah awal yang sangat menentukan di masa depan.

Pengertian Kepribadian Positif

Menurut Daviq Chairilsyah dalam artikel Pembentukan Kepribadian Positif Anak Sejak Usia Dini (2012), kepribadian (personality) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain — yaitu integrasi karakteristik dari struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan, dan potensi yang dimiliki seseorang (Sjarkawi, 2008). Kepribadian bukan sesuatu yang statis karena memiliki sifat-sifat dinamis yang disebut dinamika kepribadian — dan dinamika ini berkembang pesat pada masa kanak-kanak karena pada dasarnya mereka masih memiliki pribadi yang belum matang, yaitu masa pembentukan kepribadian.

Definisi Kepribadian Menurut Para Ahli

Chairilsyah (2012) mengutip beberapa definisi kepribadian: George Kelly menyatakan bahwa kepribadian adalah cara unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya; Gordon Allport menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas; Sigmund Freud menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni id, ego, dan superego; dan menurut Browner, kepribadian adalah corak tingkah laku sosial, dorongan, keinginan, gerak-gerik, opini, dan sikap seseorang. Berdasarkan definisi-definisi tersebut, Chairilsyah menyimpulkan bahwa kepribadian adalah cara unik setiap individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya berdasarkan kognitif, emosional, dorongan dan kebutuhan sosialnya yang diwujudkan dalam bentuk pola-pola perilaku yang tampak maupun tidak tampak.

Sifat-Sifat Positif dalam Kepribadian

Chairilsyah (2012), mengutip Cattel, Eysenk, dan Edward (dalam Sumadi, 2001), menjelaskan bahwa kepribadian manusia terdiri dari sifat-sifat yang sudah ada dan kepribadian adalah dinamika dari setiap sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat positif yang dimaksud seperti: sabar, suka menolong, suka berprestasi, suka berpetualang, suka mengikuti aturan, suka bergaul, suka menerima pendapat orang lain, dan lainnya. Selain itu tentunya ada pula sifat-sifat negatif yang merupakan antitesis dari sifat-sifat positif tersebut.

Pentingnya Membentuk Kepribadian Positif Sejak Usia Dini

Chairilsyah (2012), mengutip Ardhana (1985), menjelaskan bahwa tindakan amoral di Indonesia masih terjadi seperti pemerkosaan, korupsi, kriminalisme, dan kekerasan — yang disebabkan oleh moralitas yang rendah akibat faktor kepribadian bermasalah. Kebobrokan moralitas ini tidak dapat diperbaiki hanya dengan himbauan, pidato, atau seminar, namun harus dimulai sejak usia dini (0–6 tahun) atau sebelum memasuki sekolah dasar/formal. Chairilsyah menegaskan bahwa pembentukan kepribadian sudah dimulai sejak masa keemasan (Golden Age) yaitu 0–6 tahun, atau masa pendidikan anak usia dini.

Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Kepribadian Positif

Chairilsyah (2012), mengutip Sjarkawi (2008), menjelaskan dua faktor besar yang memengaruhi kepribadian:

  1. Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri, biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan sejak lahir yang merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau kombinasi dari sifat keduanya. Misalnya, ayah yang pemarah kemungkinan menghasilkan anak yang mudah marah.

  2. Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut, berupa pengaruh dari lingkungan seseorang mulai dari lingkungan terkecilnya yakni keluarga, teman, tetangga, sampai dengan pengaruh dari berbagai media audiovisual seperti TV, VCD, internet, atau media cetak.

Strategi Pembentukan Kepribadian Positif pada Anak

Chairilsyah (2012) merinci sembilan metode pembentukan kepribadian positif anak usia dini:

  1. Mengajarkan anak dengan contoh yang konkret. Karena anak belum sampai pada tahap pemahaman abstrak, berilah contoh konkret. Misalnya, untuk mengajarkan kebersihan, ajarkan tata cara mandi dengan benar secara langsung kepada anak.

  2. Tidak bosan-bosan memberikan nasihat positif. Orang tua dan guru tidak boleh pesimis terhadap anak yang berkepribadian bermasalah. Berikan nasihat yang sama namun dengan kata-kata, tempat, intonasi, kondisi, dan cara yang berbeda agar anak tidak jenuh.

  3. Mengajarkan anak untuk mengendalikan emosinya. Ajarkan anak mengalihkan amarahnya dengan relaksasi, menarik napas panjang, menghindari situasi yang membuatnya marah, atau melakukan kesukaannya saat akan marah.

  4. Menerapkan program hukuman dan hadiah. Berilah hukuman segera saat anak bersalah, sesuaikan dengan tingkat kesalahan, konsisten, dan tidak dalam bentuk fisik. Hadiah pun harus terencana, konsisten, adil, dan sesuai usia anak.

  5. Memperkenalkan Tuhan dan agama sejak kecil. Dengan ajaran agama, anak menjadi tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta apa akibatnya kelak jika melanggar ajaran agama.

  6. Menjadi model pribadi yang positif. Anak adalah peniru — ia akan mencontoh segala perilaku, ucapan, sikap, dan cara berpikir orang tua dan gurunya.

  7. Mengawasi pergaulan anak. Pergaulan yang salah dapat membuat anak menjadi pribadi yang bermasalah: cara bicara kurang sopan, perilaku kurang pantas, dan sikap negatif terhadap lingkungan sosial.

  8. Mengawasi tontonan anak. Tidak semua konten televisi cocok untuk anak — sinetron, acara gosip, dan film kekerasan dapat membawa dampak negatif.

  9. Mengawasi teknologi internet dari anak. Chairilsyah menekankan bahwa anak usia dini belum perlu diberikan telepon genggam dan komputer yang dapat mengakses internet tanpa pengawasan.

Kesimpulan

Kepribadian positif adalah pondasi penting dalam membangun karakter anak yang kuat dan adaptif. Menurut Chairilsyah (2012), kepribadian bersifat dinamis sehingga dapat dibentuk dan diarahkan. Pembentukan kepribadian dipengaruhi oleh dua faktor: internal (genetis/bawaan) dan eksternal (lingkungan keluarga, teman, sekolah, dan media). Proses ini harus dimulai sejak usia 0–6 tahun melalui sembilan metode yang mencakup pemberian contoh konkret, nasihat positif yang konsisten, pengendalian emosi, program hadiah dan hukuman, pengenalan agama, keteladanan orang tua, serta pengawasan pergaulan, tontonan, dan akses internet anak.