Apa Itu Logical Fallacies? Memahami Jenis-Jenis Logical Fallacies dalam Berpikir
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Logical fallacies sering kali ditemui dalam diskusi sehari-hari, baik dalam obrolan santai maupun perdebatan serius. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan pola berpikir yang tampak logis, padahal sebenarnya menyesatkan atau keliru. Mengenali logical fallacies dapat membantu seseorang berpikir lebih kritis dan menghindari kesalahan dalam menyusun argumen.
Pengertian Logical Fallacies
Logical fallacies adalah kekeliruan berpikir atau penalaran yang bisa membuat seseorang mengambil kesimpulan yang salah.
Menurut Christopher Dwyer, Ph.D. dalam artikel web Psychology Today “18 Common Logical Fallacies and Persuasion Techniques”, logical fallacies sering digunakan dalam argumen untuk memengaruhi cara berpikir, terutama ketika seseorang tidak memiliki bukti yang kredibel; dengan mempelajari perangkat argumentasi ini, pembaca dapat lebih mudah mengenali, menghindari, dan menilai argumen yang disampaikan.
Definisi Logical Fallacies
Logical fallacies merupakan kesalahan dalam cara berpikir atau menarik kesimpulan yang tidak didukung oleh bukti yang kuat. Biasanya, kekeliruan ini terjadi ketika argumen disusun dengan pola yang tampaknya logis, namun sebenarnya menyesatkan.
Mengapa Memahami Logical Fallacies Penting?
Memahami logical fallacies membuat kita lebih hati-hati dalam menilai argumen dan tidak mudah terpengaruh oleh retorika yang keliru. Pengetahuan ini juga sangat bermanfaat untuk memperbaiki cara berkomunikasi agar lebih masuk akal dan efektif.
Jenis-Jenis Logical Fallacies
Ada berbagai jenis logical fallacies yang sering dijumpai. Tiga kategori utamanya adalah fallacies of relevance, ambiguity, dan presumption. Masing-masing kategori memiliki ciri khas tersendiri yang dapat dikenali dalam sebuah argumen.
Fallacies of Relevance
Fallacies of relevance terjadi ketika argumen yang disampaikan tidak relevan dengan topik pembahasan. Biasanya, jenis ini digunakan untuk mengalihkan perhatian atau membingungkan lawan bicara.
Contoh Fallacies of Relevance
Contohnya adalah ad hominem, yaitu menyerang karakter pribadi lawan bicara, bukan argumennya. Ada juga appeal to emotion, di mana seseorang memanfaatkan emosi untuk membenarkan pendapatnya.
Fallacies of Ambiguity
Jenis ini muncul karena penggunaan kata atau kalimat yang memiliki makna ganda, sehingga argumen menjadi tidak jelas dan membingungkan.
Contoh Fallacies of Ambiguity
Equivocation adalah contoh fallacy ini, yaitu saat satu kata digunakan dengan arti berbeda dalam satu argumen. Hasilnya, kesimpulan yang diambil menjadi tidak akurat.
Fallacies of Presumption
Fallacies of presumption terjadi ketika sebuah argumen didasarkan pada asumsi yang tidak benar atau belum terbukti.
Contoh Fallacies of Presumption
Begging the question termasuk di dalamnya, yakni sebuah argumen yang menganggap sesuatu sudah benar tanpa membuktikannya terlebih dahulu.
Dampak Logical Fallacies dalam Berpikir dan Komunikasi
Logical fallacies dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan dan menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dampaknya agar bisa mengambil langkah yang tepat dalam komunikasi.
Pengaruh terhadap Pengambilan Keputusan
Ketika logical fallacies tidak disadari, seseorang bisa saja membuat keputusan yang kurang tepat. Kesalahan berpikir ini dapat memperkeruh pemahaman dan menimbulkan salah persepsi.
Cara Menghindari Logical Fallacies
Untuk menghindari logical fallacies, biasakan memeriksa kembali argumen yang dibuat dan kenali pola berpikir yang keliru. Diskusi dengan orang lain juga bisa membantu agar argumen tetap logis dan terstruktur.
Penutup dan Referensi
Logical fallacies adalah hal yang sebaiknya dikenali sejak dini agar kita dapat berpikir kritis dan menyampaikan argumen dengan lebih jernih. Dengan memahami berbagai jenis logical fallacies, kemampuan komunikasi dan pengambilan keputusan pun akan semakin baik.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Kognitif dan Pola Pikir: Cara Kerja Pikiran yang Membentuk Hidup