Konten dari Pengguna

Apa Itu Perilaku Pasif Agresif? Ciri-Ciri dan Dasar Psikologisnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perilaku Pasif Agresif. Gambar: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perilaku Pasif Agresif. Gambar: Pexels

Perilaku pasif agresif sering kali muncul tanpa disadari dalam interaksi sehari-hari. Tindakannya tampak biasa saja, namun menyimpan makna tersembunyi yang bisa memengaruhi hubungan antarindividu. Memahami perilaku ini menjadi penting agar kita lebih peka dalam menghadapi situasi sosial yang rumit.

Definisi Perilaku Pasif Agresif

Perilaku pasif agresif mengacu pada cara seseorang mengekspresikan ketidakpuasan atau kemarahan secara tidak langsung. Menurut Georgiana Corcaci dalam Expression of Hostility - Basis of Passive Aggressive Behavior. Correlational Study (2022), perilaku pasif agresif secara umum dapat digambarkan sebagai bentuk agresi nonverbal yang termanifestasi melalui perilaku negatif. Alih-alih berkomunikasi secara jujur ketika merasa kesal, marah, tersinggung, atau kecewa, individu justru memblokir emosinya, menutup diri secara verbal, menunjukkan perubahan perilaku yang jelas, menjadi obstruktif, atau memasang tembok pertahanan.

Konsep dasar perilaku pasif agresif

Individu dengan perilaku pasif agresif sering kali menolak secara halus untuk memenuhi permintaan atau harapan orang lain. Mereka juga secara tidak langsung menolak permintaan orang lain, menghindar atau menciptakan kebingungan seputar isu tersebut (Corcaci, 2022). Mereka tidak menyampaikan penolakan secara terbuka, melainkan melalui tindakan yang terkesan ambigu.

Ekspresi permusuhan secara tidak langsung

Permusuhan pada perilaku pasif agresif tidak tampak jelas, tetapi terasa melalui sikap atau ucapan yang samar. Menurut Corcaci (2022), seseorang yang menunjukkan perilaku pasif agresif mungkin tidak selalu tampak kesal atau dendam — mereka bisa terlihat menyetujui, sopan, ramah, bersahaja, baik hati, dan berniat baik. Namun, terdapat manipulasi tersembunyi di baliknya — itulah sebabnya disebut "pasif-agresif". Seseorang mungkin menyetujui sesuatu di permukaan, namun bertindak sebaliknya di belakang.

Ciri-Ciri Perilaku Pasif Agresif

Memahami ciri perilaku pasif agresif membantu kita mengenali pola komunikasi yang kadang membingungkan. Ciri-ciri ini dapat diamati baik dalam hubungan kerja maupun keluarga.

Pola komunikasi tidak langsung

Orang dengan kecenderungan pasif agresif cenderung menghindari konfrontasi langsung. Dengan terlibat dalam perilaku pasif agresif, individu tidak memberi kesempatan bagi dirinya sendiri maupun orang lain untuk mendengarkan atau menganalisis apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Penerima komunikasi yang bersifat hostile ini bisa menjadi bingung, frustrasi, tersinggung, atau merasa bersalah, karena pesan tersembunyi dari si pengirim adalah bahwa lawan bicaranya telah melakukan kesalahan (Corcaci, 2022).

Tanda-tanda perilaku pasif agresif sehari-hari

Beberapa contoh perilaku ini antara lain menunda pekerjaan (resistensi terhadap tugas rutin), lupa yang tampak disengaja (apparent forgetfulness), serta ketidakefisienan yang disengaja (intentional inefficiency) — sebagaimana tercantum dalam daftar gejala kondisi ini menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), termasuk rasa jijik terhadap bentuk otoritas, kasihan pada diri sendiri, iri hati, kebencian terhadap orang yang beruntung, serta keluhan berlebihan yang terus-menerus tentang nasib buruk diri sendiri (American Psychiatric Association, 2013, dikutip dalam Corcaci, 2022). Semua dilakukan tanpa menyatakan alasan yang jelas.

Perbedaan dengan perilaku agresif langsung

Berbeda dengan perilaku agresif yang ditunjukkan secara terbuka, pasif agresif justru mengandalkan perlawanan tersembunyi terhadap tuntutan dari luar. Seperti yang dijelaskan dalam studi Corcaci, pola ini membuat konflik menjadi sulit diidentifikasi.

Faktor Psikologis di Balik Perilaku Pasif Agresif

Ada proses internal yang mendorong munculnya perilaku ini. Menurut Corcaci (2022), permusuhan (hostility) — sikap kebencian yang muncul dari sistem yang cacat dan perlu diperbaiki — dipandang sebagai pemicu perilaku pasif agresif. Kebutuhan untuk menyalahkan faktor eksternal atas masalah diri sendiri mengarah pada pembentukan permusuhan. Komponen struktural utama dari karakteristik ini adalah sinisme (keyakinan bahwa orang pada dasarnya termotivasi oleh sifat egois) dan ketidakpercayaan (keyakinan bahwa orang lain sering menjadi sumber perilaku jahat) (Rivers & Smith, 1994, dikutip dalam Corcaci, 2022). Gaya atributif hostile adalah kecenderungan untuk menafsirkan tindakan orang lain sebagai memiliki niat agresif.

Motif utama dan dinamika internal

Seseorang bisa memilih pola pasif agresif karena merasa tidak mampu mengekspresikan emosi secara langsung. Menurut Corcaci (2022), mengutip proses interiorisasi (Berkowitz & Cottingham, 2010), individu melihat dirinya dan orang lain dengan cara yang selaras dengan pola berulang di masa kecil dan berperilaku dengan cara yang konsisten dengan representasi tersebut — misalnya, orang yang hostile umumnya berharap orang lain menunjukkan tindakan menolak, membatasi, dan menyalahkan yang mereka terima dari orang tua mereka. Sikap ini bisa terus terbawa dan dipelajari dari contoh orang tua sejak masa kanak-kanak (Corcaci, 2022).

Korelasi antara permusuhan dan perilaku pasif agresif

Studi Corcaci (2022) — yang melibatkan 96 partisipan (69 perempuan, 27 laki-laki, rata-rata usia 31,72 tahun) menggunakan Hostility Inventory dan Existential Attitudes Questionnaire — membantah (menolak) kedua hipotesis penelitiannya. Hipotesis pertama, bahwa partisipan akan mencetak skor permusuhan lebih tinggi hanya jika sikap eksistensial mereka tidak seimbang, ditolak (ditemukan korelasi negatif sedang, r = -0,481, p < 0,05, namun ini justru bertentangan dengan arah hipotesis yang diajukan). Hipotesis kedua, bahwa tingkat permusuhan berbanding lurus dengan usia partisipan, juga ditolak (p > 0,05, hubungan tidak signifikan). Corcaci (2022) menyimpulkan bahwa perilaku pasif agresif tidak dapat didiagnosis berdasarkan tipologi manusia dan daftar gejala tertentu, karena perilaku ini justru muncul secara spontan dan hanya terekspresikan dalam konteks ketika individu merasa identitas sosialnya terancam atau ingin memproyeksikan perasaan bersalah kepada orang lain — bukan dipengaruhi oleh konteks psikososial atau sikap eksistensial seseorang.

Gangguan kepribadian pasif-agresif (passive-aggressive personality disorder) telah dihapus dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5 (DSM-5, 2013) karena dianggap "terlalu sempit untuk menjadi diagnosis yang lengkap dan tidak cukup didukung oleh bukti ilmiah untuk memenuhi standar definisi yang semakin ketat" (American Psychiatric Association, dikutip dalam Corcaci, 2022).

Kesimpulan Singkat

Perilaku pasif agresif sering kali sulit dikenali karena ekspresinya yang samar. Namun, dengan memahami ciri-cirinya, kita bisa lebih waspada dalam berkomunikasi. Berdasarkan temuan Corcaci (2022), perilaku pasif agresif lebih tepat dipandang sebagai karakteristik manusia yang normal dan bersifat spontan, ketimbang sebagai sebuah diagnosis gangguan kepribadian yang dipengaruhi oleh usia atau sikap eksistensial seseorang — meskipun akar permusuhannya dapat dipelajari dari contoh pola asuh orang tua sejak masa kanak-kanak. Mengenali motif psikologis di balik perilaku ini juga membantu membangun hubungan yang lebih sehat, baik di lingkungan kerja maupun keluarga.