Konten dari Pengguna

Apa Itu Prasangka? Pengertian dan Sumber Prasangka Menurut Para Ahli

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Prasangka. Gamar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Prasangka. Gamar: Pexels.

Prasangka kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam interaksi sosial maupun saat mengambil keputusan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan penilaian yang muncul sebelum seseorang memiliki informasi yang cukup. Agar tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru, penting untuk mengetahui apa itu prasangka dan apa saja sumber yang dapat memicunya.

Pengertian Prasangka

Prasangka adalah sikap negatif yang ditujukan terhadap suatu kelompok atau anggota kelompok tertentu tanpa dasar alasan yang benar. Menurut Joko Kuncoro dalam artikel Prasangka dan Diskriminasi (2021), prasangka merupakan sikap — bukan sekadar penilaian — yang berbeda dari diskriminasi yang berupa tindakan.

Definisi Prasangka Menurut Para Ahli

Watson (1984) mendefinisikan prasangka sebagai sikap negatif yang kaku (tidak toleran) terhadap sebuah kelompok orang tertentu, sementara Myers (1983) menyebutnya sebagai sikap negatif yang tidak tepat terhadap suatu kelompok. Kuncoro (2021) mensintesis berbagai pendapat ini menjadi: prasangka sebagai sikap negatif terhadap kelompok atau anggota kelompok tertentu tanpa dasar alasan yang benar. Prasangka juga seringkali melibatkan emosi dan perasaan negatif, bahkan ekspektasi dan kepercayaan tertentu yang kemudian memunculkan stereotip.

Ciri-Ciri Prasangka

Prasangka memiliki beberapa ciri khas. Berdasarkan Watson (1984, dalam Kuncoro, 2021) prasangka bersifat kaku dan tidak toleran. Myers (1983, dalam Kuncoro, 2021) menambahkan bahwa prasangka tidak tepat atau tidak benar — artinya bertahan meski tidak didukung fakta. Lebih lanjut, prasangka seringkali didasarkan pada stereotip yang bersifat tidak akurat, terlalu umum, dan resisten terhadap informasi baru (Myers, 2019).

Sumber-Sumber Prasangka

Kuncoro (2021) mengidentifikasi dua sumber utama prasangka: kompetisi antar kelompok dan peran belajar sosial.

Faktor Individu

Kepribadian individu turut berperan. Salah satu pemicu adalah frustasi yang tidak tersalurkan — yang oleh Kuncoro (2021) dikenal sebagai teori kambing hitam, di mana rasa frustasi dan putus asa diarahkan pada kelompok yang dianggap lemah. Selain itu, penelitian Adorno dkk. (1950) menunjukkan bahwa individu dengan kepribadian otoriter — yang antara lain dicirikan oleh kecemasan dan rasa takut terhadap kelompok luar — lebih rentan terhadap prasangka.

Faktor Sosial

Belajar sosial dari lingkungan adalah sumber prasangka yang sangat kuat. Kuncoro (2021) menegaskan bahwa prasangka bukan bawaan lahir; kebencian terhadap kelompok lain dipelajari dari orang tua, guru, teman, media massa, dan lingkungan sekitar. Stereotip yang diperlihatkan oleh keluarga dianggap benar dan wajar oleh anak-anak, sehingga diwariskan secara turun-temurun.

Faktor Budaya

Nilai budaya dan norma yang berlaku di suatu lingkungan juga menjadi sumber prasangka, terutama melalui mekanisme sejarah (historical explanation). Kuncoro (2021) menjelaskan bahwa hampir semua bentuk prasangka yang ada sekarang merupakan produk sejarah masa lalu yang terus diwariskan.

Kesimpulan

Prasangka dapat dipahami sebagai sikap negatif yang muncul tanpa dasar fakta yang kuat, dipicu oleh emosi, kepribadian, belajar sosial, atau sejarah. Dengan memahami sumber-sumber prasangka, kita bisa lebih bijak dalam bersikap dan menghindari penilaian yang tidak adil terhadap orang lain.